Zikir merupakan bentuk ibadah yang sangat mudah dilakukan tidak seperti ibadah-ibadah lain yang telah ditetapkan waktu dan ketentuan-ketentuan lainnya
, zikir bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Dzikir dapat menghidupkan hati seorang hamba, hidupnya hati dapat membuat bahagia di dunia dan di akhirat individu yang benar-benar melakukan ibadah (dzikir) kepada Tuhannya, seperti halnya ia memberikan nutrisi pada waktu-waktu tertentu demi menjaga kesehatan dirinya (Iqbal, 2003). Dzikir bermanfaat untuk menghilangkan perasaan-perasaan negatif yang ada pada diri individu (Supradewi, 2008). Berdzikir dan berdoa seseorang akan dapat menghapus perasaan negatif yang dirasakan, selain itu juga dianjurkan berdoa dengan optimis, sehingga perasaan negatif yang dirasakan akan berganti dengan harapan yang lebih positif. Efek psikologis dari banyak berdzikir mampu mengurangi perasaan-perasaan negatif yang dimiliki individu.[1]Manfaat utama energi dzikir pada tubuh adalah untuk menjaga
keseimbangan suhu tubuh agar tercipta suasana kejiwaan yang tenang, damai, dan
terkendali. Dzikir juga merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk
mengikat energi positif. Bila kita
membiasakan diri untuk berdzikir ada banyak manfaat yang diperoleh diantaranya:
1. Dzikir akan memantapkan iman
2.
Dzikir
menjadi energi bagi akhlak
3.
Dzikir
akan menghindarkan kita dari bahaya
4.
Dzikir
menjadi media bagi terapi jiwa. Zikir dan Doa sebagai Terapi Al-ma'iddatu
bait al-daa', wa al-himyatu ra'su kulli dawaa.[2]
Seorang ahli
hadits terkenal al-Hafizh Ibn al-Qayyin menulis sebuah kitab yang berjudul
al-Wabil al-Shayyib. Dalam kitab itu ia berbicara secara panjang lebar tentang
manfaat zikir yang akan dirasakan manusia, diantaranya :
1. Zikir
akan menimbulkan kecintaan kepada Allah SWT.
2. Zikir
merupakan media untuk kembali kepada Allah.
3. Zikir
akan mendekatkan diri kepada Allah.
4. Zikir
akan meningkatkan derajat manusia disisi Allah.
5. Cahaya
zikir itu akan selalu menyertainya baik ketika hidup di dunia, di alam kubur,
maupun kelak saat ia berjalan melintasi sirat.
Banyak
ilmuan dan ahli kedokteran yang mencoba meneliti hubungan antara do’a dan dzikir dengan kesehatan fisik manusia. Dadang Hawari
menyebutkan manfaat zikir untuk kesehatan tubuh, beberapa di antaranya:
1. Penelitian yang dilakukan oleh GW. Comstock dan kawan-kawan (1972)
Seperti yang dimuat dalam Journal of Chronic Diseases
menyatakan bahwa orang-orang yang terbiasa melakukan kegiatan keagamaan secara
teratur dan terbiasa memanjatkan doa kepada Tuhan merekak, ternyata resiko
kematiannya akibat jantung koroner
lebih rendah 50% sementara kematian akibat emphisema (paru-paru) lebih rendah
56%, kematian akibat hati (Cirrhosis Hepatis) lebih rendah 74% dan kematian
akibat bunuh diri lebih rendah 53% dibanding orang-orang yang jarang atau tidak
melakukan aktivitas keagamaan secara rutin.
2. Penelitian yang dilakukan ilmuwan Larson dan
kawan-kawan (1989)
Terhadap pasien yang memiliki tekanan darah tinggi atau hipertensi dibandingkan dengan kelompok
yang tidak memiliki gejala hipertensi, diperoleh pernyataan bahwa komitmen
agama kelompok kontrol lebih baik dan dikemukakan bahwa kegiatan agama seperti
doa dan dzikir mencegah seseorang dari hipertensi.
3. Penelitian Levin dan Vanderpool (1989)
Terhadap
penyakit jantung dan pembuluh darah menemukan bahwa kegiatan agama akan
memperkecil resiko seseorang menderita penyakit jantung dan pembuluh darah
(Kardiovaskuler).
Saraf merupakan pusat segala aktivitas kehidupan. Masing-masing ahli
akan menunjukkan bahwa organ yang dipelajarinyalah yang paling vital. Namun,
pada dasarnya semua organ itu tidak akan berfungsi bila jaringan saraf
mengalamikerusakan. Bahwasannya kegiatan berzikir akan mempengaruhi otak, dan
selanjutnya melalui otak akan terjadi perbaikan fungsi organ-organ lain. Saraf
mengatur semua aktivitas organ dalam. Jaringan saraf yang berfungsi dengan baik
akan mendapat mmelihara seluruh organ dalaam sehingga semua organ dalam tubuh
itu akan tetap dalam keadaan baik.[3]
Berikut ini manfaat dzikir yang berhubungan dengan
kesehatan mental:
1.
Menghilangkan segala kerisauan dan kegelisahan serta mendatangkan kegembiraan dan kesenangan.
2.
Mendatangkan wibawa dan ketenangan bagi pelakunya.
3.
Mengilhamkan kebenaran dan sikap istiqamah dalam setiap urusan.
4.
Dzikir adalah makanan rohani sebagaimana nutrisi bagi tubuh
manusia, dzikir juga merupakan perangkat yang membuat kalbu bersih dari karat
yang berupa lalai dan mengikuti hawa nafsu.
5.
Dzikir jugamenjadi penyebab turunnya sakinah (ketenangan),
penyebab adanya naungan para malaikat, serta penyebab datangnya limpahan
rahmat, dan itulah nikmat yang paling besar bagi seorang hamba.
6.
Menghalangi lisan seorang hamba melakukan ghibah, berkata
dusta, dan melakukan perbuatan buruk lainnya.
7.
Orang yang berdzikir akan membuat teman duduknya tentram dan
bahagia.
8.
Orang yang berdzikir akan diteguhkan kalbunya, dikuatkan tekadnya,
dijauhkan dari kesedihan, dari kesalahan, dari setan dan tentaranya. Selain itu
kalbunya akan didekatkan pada akhirat dan dijauhkan dari dunia.
9.
Apabila kelalaian merupakan penyakit, dzikir merupakan obat
baginya. Ada ungkapan bahwa “Jika kami sakit,kami berobat dengan dzikir.
Namun kadangkala kami lalai, hingga iapun kambuh lagi”.
10. Memudahkan pelaksanaan amal saleh, mempermudah urusan
yang pelik, membuka pintu yang terkunci, serta meringankan kesulitan.
11. Memberi rasa aman kepada mereka yang takut sekaligus
menjauhkan bencana.
12. Dzikir menghilangkan rasa dahaga di saat kematian tiba
sekaligus memberi rasa aman dari segala kecemasan.[4]
Berdoa, berzikir, dan bertawakal
mempunyai kekuatan luar biasa. Ada kekuatan psikoreligius, yang dalam keilmuan
termasuk dalam cabang psiko-neuro-endokrinologi atau
psiko-neuro-endokrin-imunologi. Ini dapat dijelaskan bahwa kondisi psikis akan
memengaruhi syaraf dan syaraf akan memengaruhi kelenjar, kelenjar akan
mengeluarkan cairan endokrin, dan cairan ini akan memengaruhi kekebalan tubuh.[5]
[1]
Rani Azmarin, Desensitisasi
Sistematik dengan Dzikir Tasbih untuk Menurunkan Simtom Kecemasan pada Gangguan
Fobia Spesifik, Humanitas, Vol. 12 No. 2, hlm. 98.
[2] Amin
Syukur, Zikir Menyembuhkan Kankerku, (Jakarta: PT Mizan Publika, 2007),
hlm. 93-101.
[3] Arman
Yurisaldi Saleh, Berzikir untuk Kesehatan Syaraf, (Jakarta: Zaman, 2010)
hlm. 32-37
[4] Rudy
Haryanto, Dzikir:
Psikoterapi dalam Perspektif Islam, Vol. 9 No. 2 Desember 2014, hlm. 353-354.
[5] Amin
Syukur, Zikir Menyembuhkan Kankerku, (Jakarta: PT Mizan Publika, 2007),
hlm. 171-176.