13 September 2015

Makalah Psikologi - Sejarah Perkembangan Manusia

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
                Dalam mempelajari perkembangan manusia, ada dua hal yang harus dibedakan, yaitu proses pematangan dan proses belajar.
                Pematangan yaitu proses pertumbuhan yang menyangkut penyempurnaan fungsi-fungsi tubuh secara alamiah. Misalnya, berjalan.
                Belajar yaitu merubah atau memperbaiki tingkah laku melalui latihan, pengalaman dan kontak dengan lingkungan. Misalnya, beremosi.
                Kebanyakan tingkah laku manusia ditentukan oleh kedua-duanya. Misalnya kemampuan berbicara. Seorang anak baru bisa belajar berbicara kalau organ-organ tubuhnya itu sudah matang, sedangkan bahasa yang digunakannya untuk berbicara didapatnya dari mendengar dan meniru dari orang lain (latrihan, belajar).
B.      Rumusan Masalah

1.       Pengertian Perkembangan ?
2.       Perkembangan Manusia Pada Masa Kanak-kanak ?
3.       Perkembangan Manusia Pada Masa Remaja ?
4.       Perkembangan Manusia Pada Masa Dewasa ?
5.       Perkembangan Manusia Pada Masa Tua ?


BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengartian Perkembangan
Istilah perkembangan berbeda dengan istilah pertumbuhan. Perkembangan lebih mencerminkan sifat yang khas mengenai gejala psikologis yang muncul. Sedangkan pertumbuhan  ini khusus untuk menunjukkan bertambah besarnya ukuran badan dan fungsi fisik yang murni.
Pertumbuhan fisik memang mempengaruhi perkembangan psikis, misalnya bertambahnya fungsi otak memungkinkan anak dapat tertawa, berjalan, berbicara dan sebagainya. Mampu untuk berfungsi dalam suatu nivo yang lebih tinggi karena pengaruh pertumbuhan, disebut pemasakan. Misalnya sebelum pendidikan kebersihan dapat dimulai, maka urat daging pembuangan harus selesai pertumbuhannya, harus sudah masak lebih dahulu. Meskipun dapat dikatakan mengenai belajar berjalan, namun harus ada pemasakan beberapa fungsi lebih dahulu, sebelum belajarnya tadi mungkin dilaksanakan.
Perkembangan juga berkaitan dengan belajar khususnya mengenai isi proses perkembangan: apa yang berkembang berkaitan dengan perilaku belajar. Di samping itu juga bagaimana hal sesuatu dipelajari, misalnya apakah melalui memorisasi (menghafalkan) atau mengerti hubungan, ikut menentukan perkembangan (knoers, 1985).
Dengan demikian perkembangan dapat diartikan sebagai proses yang kekal dan tetap yang menuju ke arah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi, berdasarkan pertumbuhan, pemasakan dan belajar.[1]
B.      Perkembangan Manusia Pada Masa Kanak-kanak
Manusia dilahirkan dalam keadaan yang sepenuhnya tidak berdaya dan harus menggantungkan diri pada orang lain, tertama ibunya. Seorang anak memerlukan waktu yang cukup lama sebelum ia bisa berdiri sendiri. Seekor anak ayam, begitu menetas dari telurnya bisa mencari makan sendiri. Seekor anak itik langsung bisa berenang dalam kurun waktu beberapa minggu. Anak simpanse hanya beberapa bulan bergantung pada ibunya. Berbeda pada manusia yang memerlukan sedikitnya beberapa belas tahun sebelum ia bisa mandiri.
Lamanya waktu manusia harus bergantung pada orang lain inilah yang membuat ia punya kesempatan paling banyak untuk mempersiapkan dirinya dalam perkembangannya sehingga pada akhirnya taraf perkembangan manusia adalah yang tertinggi. Ada suatu eksperimen terkenal yang dilakukan oleh Kellog & Kellog (1967/1963). Mereka membesarkan seorang anak bernama Donald bersama seekor simpanse bernama Gua. Donald dan Gua diberi perlakuan dan kasih sayang  yang sama persis sama. ternyata, Gua berkembang lebih cepat dari pada Donald dan menguasai beberapa kepandaian sebelum Donald dapat melakukannya. Namun, ternyata setelah beberapa waktu perkembangan Gua terhenti pada suatu tingkatan tertentu, sedangkan Donald masih terus berkembang. Disini tentunya pengaruh pembawaan juga penting sekali artinya, sebab tingkat kemampuan simpanse yang terbatas itu, maupun tingkat kemampuan manusia yang lebih tinggi, sudah ada sejak kedua makhluk itu lahir.
Gambar Gua dan Dinald bersiap untuk tidur (1931-1932)
Manusia pertama-tama sekali tergantung pada orang lain, maka penting sekali peranan tersebut (biasanya ibu) terhadap perkembangan kepribadian anak. Anak-anak yang kurang mendapat perhatian orang tua kebanyakan menjadi pemurung tidak bersemangat dan daya tangkapnya kurang baik sehingga perkembangan kecerdasannya pun terbelakang.
Pengaruh orang tua dan lingkungan masa kanak-kanak ini tidak berhenti di masa kanak-kanak saja. Ia berlangsung terus, kadang-kadang sampai seumur hidup, khususnya pengaruh yang berupa pengalaman-pengalaman yang menegangkan, menakutkan, mengguncangkan, membahayakan, dan lain-lain. Pada usia dua atau tiga tahun, seorang anak mulai melihat kemampuan-kemampuan tertentu pada dirinya. Sikap terhadap orang tua mulai berubah. Di satu pihak dia masih membutuhkan orang tua, di lain pihak rasa ke-aku-annya mulai tumbuh dan dia ingin mengikuti kehendak-kehendaknya sendiri. Dia menjadi sering membantah. Masa ini disebut sebagai masa negativistik yang pertama.
Masa negativistik kedua timbul pada usia lima atau enam tahun, pada saat anak mulai mengenal lingkungan yang lebih luas (sekolah, anak tetangga-tetangga, dan lain-lain). Pendapat orang tuanya sekarang bukanlah satu-satunya pendapat yang harus dituruti karena ia mulai mendengar pendapat-pendapat orang lain (guru, kawan-kawan, dan sebagainya), yang kadang-kadang berbeda atau bertentangan dengan pendapat orang tuanya. Karena itu ia mulai lagi suka membantah dan tidak mau menurut kata orang tuanya. Masa negativistik kedua ini sering ditandai dengan tempertantrum, yaitu perilaku mengamuk, menangis, menjerit, merusak, menyerang, dan menyakiti diri sendiri, yang dilakukan apabila ada kehendak-kehendak yang tidak terpenuhi.[2]
Masa negativistik ketiga terjadi pada masa remaja yang akan diuraikan tersendiri di paragraf selanjutnya.
C.      Perkembangan Manusia Pada Masa Remaja
Masa remaja dikenal sebagai masa yang penuh kesukaran. Bukan saja kesukaran bagi individu yang bersangkutan, tetapi juga bagi orang tuanya, masyarakat bahkan seringkali bagi polisi. Hal ini disebabkan masa remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Masa transisi ini seringkali menghadapkan individu yang bersangkutan kepada situasi yang membingungkan; di satu pihak ia masih kanak-kanak, tetapi di lain pihak ia sudah harus bertingkah laku seperti orang dewasa. Dalam usahanya untuk mencari identitas dirinya sendiri, seorang remaja sering membantah orang tuanya karena ia mulai punya pendapat-pendapat sendiri, cita-cita serta nilai-nilai sendiri yang berbeda dengan orang tuanya. Perbedaan pendapat dan perbedaan nilai-nilai antara remaja dan orang tua menyebabkan remaja tidak selalu mau menurut pada orang tua. Karena itu masa remaja dikenal juga sebagai masa negativistik yang ketiga.
Menghadapi remaja, orang tua secara bijaksana harus sedikit demi sedikit melepaskan kontrolnya, agar anak tersebut benar-benar dapat berdiri sendiri kalau dewasa. Orang tua yang mau mempertahankan otoritasnya meskipun anak sudah dewasa, akan menghadapi kenyataan bahwa anak tersebut selamanya akan tetap tergantung pada orang tuanya, tidak pernah menjadi dewasa sepenuhnya dalam kepribadiannya.
Tingkat-tingkat perkembangan dalam masa remaja dapat dibagi dengan berbagai cara. Salah satu pembagian yang dilakukan oleh Stolz (1951) adalah sebagai berikut:
1.       Masa pra-puber : satu atau dua tahun sebelum masa remaja yang sesungguhnya. Anak menjadi gemuk, pertumbuhan tinggi badan terhambat untuk sementara.
2.       Masa puber, atau masa remaja : perubahan-perubahan sangat nyata dan cepat. Anak wanita lebih cepat memasuki masa ini dari pada pria. Masa ini lamanya berkisar antara 2½ sampai 3½ tahun.
3.       Masa post-puber : pertumbuhan yang cepat sudah berlalu, tetapi masih nampak perubahan-perubahan tetap berlangsung pada beberapa bagian badan.
4.       Masa akhir puber : melanjutkan perkembangan sampai tercapai tanda-tanda kedewasaan.
Seluruh proses ini berlangsung selama 9 sampai 10 tahun. Pada anak-anak wanita dimulai sebelum umur belasan tahun dan pada pemuda di akhiri pada awal umur dua puluhan. Jelas bahwa proses ini memakan waktu. Meskipun demikian, pada banyak bangsa, atau sukubangsa, termasuk sukubangsa-sukubangsa yang ada di Indonesia, seringkali diadakan upacara inisiasi, yaitu upacara yang mengantarkan seseorang dari alam kanak-kanak ke alam dewasa, seolah-olah kedua masa itu dibatasi oleh satu hari saja. Misalnya, di Bali ada upacara pangkur, dan dikalangan pemeluk islam di Indonesia ada upacara khitanan.[3]
D.      Perkembangan Manusia Pada Masa Dewasa
Memasuki alam kedewasaan, seorang laki-laki harus mempersiapkan diri untuk dapat hidup dan menghidupi keluarganya. Ia harus mulai bekerja mencari nafkah dan membina kariernya. Kaum perempuan juga harus mempersiapkan diri untuk berumah tangga.
Di dalam masyarakat kita, pada umumnya pria dan perempuan mempunyai peranan yang berbeda. Laki-laki mencari nafkah, agresif dan dominan, sedangkan perempuan mengurus rumah tangga, pasif dan lebih submisif. Perilakunya pun berbeda, pria lebih kasar, perempuan lebih halus.
Perbedaan itu ternyata tidak semata-mata disebabkan oleh faktor-faktor biologis, tetapi lebih banyak lagi ditentukan oleh faktor-faktor kebudayaan. Penelitian yang dilakukan oleh Margareth Mead di Papua New Guinea membuktikan bahwa ada masyarakat-masyarakat dimana peranan pria dan wanita sama sekali berbeda daripada yang terdapat di masyarakat kita. Margareth Mead melakukan penelitian di tiga suku, yaitu Arapesh, Mundugumor, dan Tchambuli:
1.       Suku Arapesh: lelaki dan perempuan berfungsi sama, dengan ciri perilaku yang kewanitaan, lemah lembut, pasif, resesif dan tidak mengenal perang.
2.       Suku Mundugumor: lelaki dan perempuan juga berfungsi sama, dengan ciri perilaku yang kejantanan, kasar, agresif, dan seterusnya.
3.       Suku Tchambuli: fungsi lelaki dan perempuan berbeda, tetapi merupakan kebalikan daripada kebudayaan kita. Perempuannya lebih agresif dan merekalah yang mengatur pekerjaan sehari-hari. Para lelakinya lebih pasif, emosional, tugasnya menjaga anak-anak di rumahdan selalu tergantung pada isterinya. Bahkan kalau isterinya melahirkan, suaminya pun merasa sakit.[4]

E.       Perkembangan Manusia Pada Masa Tua
Pada masa tua ini terjadilah perubahan uang mudah terlihat, yakni perubahan fisik. Kemampuan indra-indra sensoris menurun, waktu reaksi dan stamina menurun (Digiovanna, 1994 dalam Feldman, 2003; Oswari, 1997).
Problem utama pada orang-orang tua adalah rasa kesepian dan kesendirian. Mereka sudah biasa melewatkan hari-harinya dengan kesibukan-kesibukan pekerjaan yang sekaligus juga merupakan pegangan hidup dan dapat memberi rasa aman dan rasa harga diri. Pada saat ia pensiun, maka ia kehilangan kesibukan, sekaligus merasa mulai tidak diperlukan lagi. Bertepatan dengan itu, anak-anak mulai menikah dan meninggalkan rumah. Badan mulai lemah dan tidak memungkinkan untuk bepergian jauh. Sebagai akibatnya, semangat mulai menurun, mudah dihinggapi penyakit dan segera akan mengalami kemunduran-kemunduran mental. Hal ini disebabkan juga oleh mundurnya fungsi-fungsi otak, seperti lebih sering lupa, daya konsentrasi berkurang, yang disebut juga sebagai kemunduran senil (Feldman, 2003; Oswari, 1997). Kemunduran senil ini lebih sering ditemukan pada kelompok perempuan.[5]



BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Pada masa kanak-kanak, manusia masih menggantungkan diri pada orang lain, terutama ibunya.
Pada masa remaja, manusia mulai memiliki pendapat sendiri, cita-cita serta nilai-nilai sendiri yang berbeda dengan orang tuanya.
Pada masa dewasa, manusia sudah mulai mempersiapkan diri untuk menghidupi keluarganya maupun diri sendiri. Bagi laki-laki, ia harus mulai bekerja mencari nafkah, dan membina kariernya. Bagi perempuan, ia juga harus mempersiapkan dirinya untuk berumah tangga.
Dan pada masa tua, manusia sudah terjadi banyak perubahan, diantaranya perubahan fisik, kemampuan indra-indra sensorisnya menurun, waktu reaksi dan staminanya juga menurun.

B.      Saran
Demiakian makalah kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca.
Apabila ada saran dan kritik, silahkan sampaikan kepada kami.
Dan apabila ada kesalahan kami mohon maaf, karena kami adalah hamba Allah yang tak luput dari kesalahan.

DAFTAR PUSTAKA

Monks, F.J, dkk, 2002, Psikologi Perkembangan, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Sarwono, Sarlito W, 2012, Pengantar Psikologi Umum, jakarta: Rajawali Pers.
Sarwono, Sarlito Wirawan, 1996, Pengantar Umum Psikologi, Jakarta: Bulan Bintang.





[1] F.J. Monks, dkk, Psikologi Perkembangan, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2012, hlm. 2.
[2] Sarlito W. Sarwono, Pengantar Psikologi Umum, jakarta: Rajawali Pers, 2012, hlm. 66-68.
[3] Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar Umum Psikologi, Jakarta: Bulan Bintang, 1996, hlm. 31-33.
[4] Sarlito W. Sarwono, Pengantar Psikologi Umum, jakarta: Rajawali Pers, 2012, hlm. 77-78.
[5] Ibid, hlm. 80-81.