11 September 2015

Makalah Hadits - Keimanan

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Setiap insan yang ingin mendalami agamanya perlu mempelajari ajaran dasar yang terdapat didalam agama yang dianutnya. Sebagai contoh yaitu agama Islam.
Orang yang beragama Islam mereka harus percaya bahwa adanya Tuhan yang maha Esa, selain itu mampu mengetahui dasar-dasar ajaran dalam agama Islam. Bukan hanya sekedar percaya namun harus meyakininya.
Didalam makalah ini akan kami paparkan materi tentang keimanan, yang mencakup beberapa hal.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimanakah pengertian keimanan?
2.      Bagaimanakah unsur-unsur keimanan?
3.      Bagaimanakah bertambahnya dan berkurangnya Iman?
  
BAB II
PENDAHULUAN
A.  Pengertian Keimanan
حَدِيْثُ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ النبي ص م بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ : مَاالْاِيْمَانُ؟ قَالَ : الْاِيْمَانُ اَنْ تُؤْمِنُ بِالله وَمَلَائِكَتِهِ وَبِلقَائِهِ وَبِرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالبَعْثِ،قَالَ:مَاالْاِسْلاَمُ؟ قَالَ: الْاِسْلاَمُ اَنْ تَعْبُدَاللهَ وَلَاتُشْرِكْ بِهِ وَتُقِيْمَ الصَّـلَاةَ وَتُؤَدِّىَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوْضَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ. قَالَ: مَاالْاِحْسَانُ؟ قَالَ : اَنْ تَعْبُدَاللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَأِنهُ يَرَاكَ. قَالَ: مَتَى السَّـاعَةُ؟ قَالَ: مَااْلمسْـئُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّـائِلِ، وَسَأُخْبِرُكَ عَنْ اَشْرَاطِهَا، اِذَا وَلَدَتِ الاَمَةُ رَبَّهَا، وَاِذَاَ تَطَاوَلَ رُعَاةُ الْاِبِلِ الْبَهْمُ فِى الْبُنْيَانِ، فِى خَمْسٍ لَايَعْلَمُهُنَّ اِلّااللهُ. ثُمَّ تَلاَ النَّبِىُّ ص م اِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السّـاعَةِ،الآية. ثُمَّ اَدْبَرَ. فَقَلَ: رُدُّوْهُ، فَلَمْ يَرَوْا شَيْئاً.فَقَلَ: هَذاَ جِبْرِيْلُ جَاءَ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِيْنَهُمْ.                                      
 Artinya:
            Hadits Abu Hurairah ra. Dimana ia berkata : “pada suatu hari Nabi SAW. Berada di tengah-tengah para sahabat, lalu ada seseorang datang kepada beliau lantas bertanya : “Apakah iman itu?”. Beliau menjawab : “Iman adalah kamu percaya kepada Allah dan malaikatNya, percaya dengan adanya pertemuan denganNya, dan dengan adanya rasul-rasulNya, dan kamu percaya dengan adanya hari kebangkitan (setelah mati)”. Ia bertanya : “Apakah Islam itu?”. Beliau menjawab : “Islam yaitu kamu yang menyembah kepada Allah dan tidak mempersekutukanNya, mendirikan shalat, menunaikan zakat yang diwajibkan, dan berpuasa pada bulan ramadhlan”. Ia bertanya : “Apakah Ihsan itu?”. Beliau menjawab : “kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihatNya, dan jika kamu tidak bisa (seakan-akan) melihatNya maka (beryakinlah) bahwa sesungguhnya Allah melihat kamu”. Ia bertanya : “Kapan hari kiamat itu?”. Beliau menjawab : “Orang yang ditanya tentang hari kiamat itu tidak lebih tahu daripada orang yang bertanya. Akan tetapi aku akan memberitahukan kepadamu tentang tanda-tandanya (yaitu)apabila seorang budak perempuan melahirkan tuannya, apabila pengembala unta dan ternak berlomba-lomba dalam bangunan; dalam lima hal tidak mengetahuinya kecuali Allah”. Kemudian Nabi SAW. Membaca ayat (yang artinya) : “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisiNya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dialah yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi maha mengenal”. Orang yang bertanya itu lantas pergi , lalu beliau bersabda : “itu adalah Jibril yang datang untuk mengajarkan manusia tentang agama mereka”.[1] (Al Bukhary 2:37; Muslim 1:1; Al Lu’lu’ wal Marjan 1:2)
Iman menurut bahasa ialah mashdar (akar kata) dari amana, yu’minu, imanan. Ibnu Faris berkata, “Amana yang terdiri dari hamzah, mim, dan nun memiliki dua makna yang saling berdekatan. Pertama, maknanya adalah amanah yang merupakan kebalikan kata khianat, yang berarti tentramnya hati. Kedua, maknanya adalah membenarkan, kedua makna ini berdekatan.[2] Namun ada juga iman yang mempunyai makna membenarkan, seperti tashdiq= membenarkan. Menurut istilah sebagian ahli ilmu, ialah tashdiqur rasuli fi ma ja-a bihi ‘an robbihi= membenarkan Rasul terhadap apa yang didatangkan dari Tuhannya.
Al Qashtalany berkata : “Iman, sebagai yang telah ditegaskan oleh At Taftazany, ialah tunduk kepada penetapan seseorang dan memandang pembawa kabar itu seorang yang benar.” Maka hakikat tashdiq, bukan hanya dalam hati sekedar membenarkan saja, namun mematuhinya. Karena itu, iman tidak lepas dari hukum Islam. Kedua-duanya bersatu pada ma shadaq (pada hakikat), walaupun berlainan pengertiannya. Pengertian iman, membenarkan dengan hati, sedang Islam, mengerjakan dengan anggota.
Iman menurut pendapat ulama salaf dan khalaf, baik mutakallimin maupun muhadditsin ialah mengucapkan dengan lidah yakni mengucapkan kalimat syahadat dan mengamalkannya. Makna ini sesuai dengan pendapat salaf yang menetapkan bahwasanya Iman, ialah “mengiktikadkan dengan hati, menuturkan dengan lidah dan mengerjakan dengan anggota”.
Golongan hanafiyah atau golongan maturidiyah berkata iman itu membenarkan dengan hati dan mengikrarkan dengan lidah.[3]
Jadi Iman adalah meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan serta membuktikannya dengan amal perbuatan.
Adapun perbuatan sebagai bagian dari iman itu terdiri dari 73 hingga 79 cabang, yang tertingggi adalah ucapan dan terendah adalah menyingkirkan gangguan-gangguan yang ada di jalan umum seperti; batu, duri, pecahan kaca, dan sesuatu yang berbau busuk atau semisalnya.
Hadis riwayat sahih Muslim dalam Kitabul Iman disebutkan iman itu lebih dari 70 atau lebih dari 60 cabang. Yang paling utama adalah ucapan laailahaillallah dan yang paling ringan ialah membuang kotoran dari jalan, dan rasa malu adalah cabang dari iman.[4] Hal ini ditunjuk oleh sabda Nabi saw:
اَلْحَيَاءُ شُعْـبَةٌ مِنَ الإِيْمَانِ
“Malu itu adalah suatu cabang dari iman”.

B.     Unsur-Unsur Keimanan
a.       Iman
الْاِيْمَانُ اَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الاَخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. {رواه مسلم}
Keimanan itu ialah percaya (beriman) kepada Allah, kepada malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan percaya bahwa takdir baik dan buruk adalah dari-Nya.[5]
Selain itu Nabi. Saw. menerangkan dalam hadits jibril bahwa ada lima dasar pokok iman: Mengimani adanya Allah, mengimani sifat-sifat yang wajib bagi-Nya, mengimani adanya malaikat Allah, mengimani bahwa kita akan  menjumpai atau melihat Allah di akhirat, mengimani Rasul-rasul-Nya, Mengimani bahwa semua makhluk akan bangkit dari kubur.[6]


b.      Islam
Islam menurut bahasa adalah tunduk dan patuh yang berasal dari bahasa arab ‘aslama yuslimu, islaman.[7] Sedangkan menurut syara’ ada dua: Pertama, derajat di atas iman, yaitu mengakui dengan lidah. Dengan pengakuan lidah itu di peliharalah darah, dan di aggaplah dia orang islam, tidak di anggap orang kafir lagi, baik pengakuan lidah itu disertai iktikaf hati, ataupun tidak. Kedua, derajatnya di atas iman, yaitu selain dari pengakuan lidah, mengiktikadkan pula dengan hati dan mengerjakan dengan anggota tubuh serta menyerahkan diri kepada Allah dalam segala yang di qadhakan Allah dan di takdirkan-Nya. [8]
اَلإِسْلاَمُ اَنْ تَعْبُدَ اللهَ وَلاَ تُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤَدِّيَ ازَّكَاةَ الْمَفْرُوْضَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وتَحُجَّ الْبَيْتَ. {رواه البخارى ومسلم}
Islam itu ialah menyembah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, mendirikan shalat, menunaikan zakat yang diwajibkan, berpuasa dalam bulan Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji ke Baitul Haram (Masjidil haram dan sekitarnya)[9]
Tegaslah bahwasannya Islam ialah menyerahkan diri kepada Allah, menundukkan jiwa Kepada Allah, serta mengakui kehinaan dan kehambaan diri seraya mengerjakan dengan anggota tubuh dan panca indera segala yang bersangkutan dengan ketundukan itu.
c.       Ihsan
Ihsan menurut bahasa berarti mengerjakan sesuatu yang memberi manfaat kepada orang lain. Sedangkan menurut syara, ihsan itu bermakna ikhlas atau lebih tegas dalam Sabda Nabi Saw.
 اَنْ تَعْبُدَاللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَأِنهُ يَرَاكَ.
Engkau mengibadati Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihat engkau”.
      Keikhlasan menuntut kita membaikkan amal yang dikerjakan. Tegasnya, ihsan itu ialah jiwa amalan zhahir dan batin. Hal ini memberi pengertian bahwa kita diharuskan beribadah kepada Allah seperti kita memandang-Nya dengan mata sehingga kita terus-menerus membaguskan ibadah. Jika belum seperti itu maka hendaklah kita yakin bahwa Allah melihat kita. Hal ini akan mendorong kita untuk tetap berlaku Ihsan (mengerjakan sesuatu dengan baik dan ikhlas dalam beribadah).[10]
Jadi dapat disimpulkan dari ketiga unsur keimanan tersebut bahwa Iman ialah keyakinan dan juga pengikraran, Islam ialah bentuk praktik dari Iman, dan Ihsan ialah Konsistensi antara Iman dan Islam.
      Iman, Islam, Ihsan bersatu hakikatnya dan terjalin rapi satu sama lainnya. Perjalinannya seperti perjalinan anasir-anasir air dari yang berjalin dan bersatunya anasir-anasir itu, berwujudlah air, bukan sebagai bersatunya kertas rokok dengan temabakau.
C.     Bertambah dan Berkurangnya Iman
Tiap-tiap sesuatu yang mungkin bertambah, niscaya ada kemungkinan pula berkurang. Yang menjadi pembahasan disini ialah bertambah atau berkurangnya iman. Tetapi adakah bertambahnya itu tasdiq saja ataukah tasdiq dengan amalnya?. Kedua-duanya dapat terjadi, yaitu keduanya mungkin bertambah dan berkurang. Hanya saja berkurangnya itu ada batasnya. Dan iman itu tidak akan berkurang sebelum bertambah.
Jadi bertambah dan berkurangnya iman itu, adalah diluar dari pada batas iman yang semestinya. Jika bertambahnya iman menurut tasdiq dan juga amalnya maka hal itu telah jelas untuk kita, karena bila seseorang itu telah bertambah amal dan ibadahnya berarti tasdiqnya telah bertambah dari semula. Dan jika bertambahnya iman menurut tasdiqnya saja maka terjadi berbagai pendapat. Menurut ulama masyhur mengatakan bahwa bertambahnya iman menurut tasdiqnya saja maka itu sesuatu yang tidak mungkin. Tetapi anehnya tasdiq sajapun juga dapat bertambah dan berkurang. Hal ini diperoleh dari 3 jurusan:
1.      Jurusan wasilahnya ( perantaranya )
Bertambah atau berkurangnya tasdiq dari jurusan wasilah yaitu karena kuat dan lemahnya dalil atau bukti yang membawa kita kepada tasdiq tersebut. Misalnya, suatu benda yang mendapat pukulan dari benda lain yang lebih keras dan lebih tajam, niscaya mendapat bekas yang lebih mendalam. Sebaliknya jika keadaan itu hanya sepintas lalu saja, niscaya bekasnya tidak akan mendalam dan bertambah, bahkan mungkin bekas tersebut akan lenyap dengan cepat atau lambat tergantung dalamnya bekas tersebut.
Jadi dapat disimpulkan jika kita menyaksikan sesuatu hanya sekali saja, tentu berbeda dengan yang memperhatikannya berulang-ulang setiap saat. Sudah tentu yang selalu dilihat itu akan jauh dari perasaan syak atau ragu, dan tentu akan bertambah jelas dan yakin.
2.      Jurusan muta’allaqnya
Yaitu bagaimana perhubungan dan pertaliannya yang kita percayai dengan dalil dan bukti-bukti.
Tiap-tiap sesuatu yang kita ketahui kadang-kadang hanya sepintas lalu saja tetapi kadang-kadang juga dengan luas dan mendalam benar, sehingga tidak saja garis-garis besarnya, tetapi sampai garis kecilnya.
Jadi, apabila kita mengetahui sesuatu dengan luas dan mendalam, walaupun tidak menyebabkan kuatnya paham kita, tetapi telah menambah banyaknya pengetahuan kita. Jika banyak pengetahuan maka hubungannya dengan yang diyakimi akan lebih banyak pula.
Jelaslah sudah bahwa keyakinan dan kepercayaan itu dapat pula bertambah kuantitasnya, sekalipun tambahnya itu bukan pada mutu atau kwalitas.
3.      Dari segi hasil
Bertambah dan berkurangnya iman ditinjau dari segi hasilnya yaitu amal seseorang yang baru mendapat suatu teori berkat hasil pikirannya, tentu akan lebih puas dan yakin apabila teori yang didapat itu sering dipraktikkan.
Demikianlah gambarannya orang yang banyak membiasakan taat kepada Allah, niscaya bertambahlah iman dan kepercayaannya. Sebaliknya orang-orang yang sering meninggalkan perintah Allah tentu akan lemah dan berkuranglah imannya.[11]

BAB III
PENUTUP
        i.            Kesimpulan
Iman adalah meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan serta membuktikannya dengan amal perbuatan.
Adapun perbuatan sebagai bagian dari iman itu terdiri dari 73 hingga 79 cabang, yang tertingggi adalah ucapan dan terendah adalah menyingkirkan gangguan-gangguan yang ada di jalan umum seperti; batu, duri, pecahan kaca, dan sesuatu yang berbau busuk atau semisalnya. Hadis riwayat sahih Muslim dalam Kitabul Iman disebutkan iman itu lebih dari 70 atau lebih dari 60 cabang. Yang paling utama adalah ucapan laailahaillallah dan yang paling ringan ialah membuang kotoran dari jalan, dan rasa malu adalah cabang dari iman.
Unsur-unsur keimanan ada tiga yaitu: Iman, Islam, Ihsan. Ketiga unsur tersebut saling berikatan secara rapi.
Bertambah dan berkurangnya Iman dapat di gambarkan atau dilihat melalui tiga jurusan, yaitu: jurusan wasilahnya, jurusan muta’allaqnya, dan dari segi hasilnya.

      ii.            Penutup
            Demikianlah makalah ini kami susun, dengan terselasainya penyusunan makalah ini kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini. Kami juga mohon maaf apabila dalam penyusunan makalah ini ada kekurangan atau kesalahan, karena manusia tidak luput dari kesalahan, dan kami juga memohon partisipasi dari pembaca untuk mengkritik serta memberi saran, sehingga kedepannya dapat menyusun makalah lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Zainal.2011.530 Hadits Shahih Bukhari-Muslim.Jakarta:PT Rineka Cipta.
Ash Shiddieqy,Tengku Muhammad Hasbi. 2002.Mutiara Hadits1.Semarang:Rizki Putra.
Az-Zindani, Abdul Majid. 2007. Samudera Iman.Yogyakarta: Diva Press.
Baqi, Muhammad Fu’ad Abdul. 1993.Al-Lu’lu’ Wal Marjan.Semarang: Al-Ridha.
Hasanah, Hasyim.2013. Pengantar Studi Islam.Yogyakarta: Ombak.
Mu’in,Taib Thahir Abdul Mu’in.1966.Ilmu Kalam.Jakarta: Widjaya.
Razak ,Nazaruddin.1973 .Dienul Islam.Bandung:PT Al Ma’arif.






[1] Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, Al-Lu’lu’ Wal Marjan, (Semarang: Al-Ridha, 1993), hal. 9-10.
[2] Abdul Majid Az-Zindani, Samudera Iman, (Yogyakarta: Diva Press, 2007), hal. 25.
[3] Tengku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Mutiara Hadits1, (Semarang: Pustaka Rizki Putra,2002), hal.16-17.
[4] Hasyim Hasanah, Pengantar Studi Islam, (Yogyakarta: Ombak, 2013), hal. 24.
[5] Zainal Abidin, 530 Hadits Shahih Bukhari-Muslim, (Jakarta:PT Rineka Cipta, 2011), hal. 1.
[6] Tengku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Mutiara Hadits1, (Semarang: Pustaka Rizki Putra,2002), hal.16.
[7] Hasyim Hasanah, Pengantar Studi Islam, (Yogyakarta: Ombak, 2013), hal. 22.
[8] Tengku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Mutiara Hadits1, (Semarang: Pustaka Rizki Putra,2002), hal. 18.
[9]Nazaruddin Razak,  Dienul Islam, (Bandung:PT Al Ma’arif, 1973), hal 154.
[10] Tengku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Mutiara Hadits1, (Semarang: Pustaka Rizki Putra,2002), hal. 19.
[11] Taib Thahir Abdul Mu’in, Ilmu Kalam, (Jakarta: Widjaya,1966), hal. 155-159.