BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Setiap insan
yang ingin mendalami agamanya perlu mempelajari ajaran dasar yang terdapat
didalam agama yang dianutnya. Sebagai contoh yaitu agama Islam.
Orang yang
beragama Islam mereka harus percaya bahwa adanya Tuhan yang maha Esa, selain
itu mampu mengetahui dasar-dasar ajaran dalam agama Islam. Bukan hanya sekedar
percaya namun harus meyakininya.
Didalam makalah
ini akan kami paparkan materi tentang keimanan, yang mencakup beberapa hal.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Bagaimanakah
pengertian keimanan?
2.
Bagaimanakah
unsur-unsur keimanan?
3.
Bagaimanakah
bertambahnya dan berkurangnya Iman?
BAB II
PENDAHULUAN
A.
Pengertian
Keimanan
حَدِيْثُ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ
النبي ص م بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ : مَاالْاِيْمَانُ؟
قَالَ : الْاِيْمَانُ اَنْ تُؤْمِنُ بِالله وَمَلَائِكَتِهِ وَبِلقَائِهِ
وَبِرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالبَعْثِ،قَالَ:مَاالْاِسْلاَمُ؟ قَالَ: الْاِسْلاَمُ اَنْ
تَعْبُدَاللهَ وَلَاتُشْرِكْ بِهِ وَتُقِيْمَ الصَّـلَاةَ وَتُؤَدِّىَ الزَّكَاةَ
الْمَفْرُوْضَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ. قَالَ: مَاالْاِحْسَانُ؟ قَالَ : اَنْ
تَعْبُدَاللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَأِنهُ يَرَاكَ. قَالَ: مَتَى السَّـاعَةُ؟
قَالَ: مَااْلمسْـئُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّـائِلِ، وَسَأُخْبِرُكَ
عَنْ اَشْرَاطِهَا، اِذَا وَلَدَتِ الاَمَةُ رَبَّهَا، وَاِذَاَ تَطَاوَلَ رُعَاةُ
الْاِبِلِ الْبَهْمُ فِى الْبُنْيَانِ، فِى خَمْسٍ لَايَعْلَمُهُنَّ اِلّااللهُ.
ثُمَّ تَلاَ النَّبِىُّ ص م اِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السّـاعَةِ،الآية. ثُمَّ
اَدْبَرَ. فَقَلَ: رُدُّوْهُ، فَلَمْ يَرَوْا شَيْئاً.فَقَلَ: هَذاَ جِبْرِيْلُ
جَاءَ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِيْنَهُمْ.
Artinya:
Hadits Abu
Hurairah ra. Dimana ia berkata : “pada suatu hari Nabi SAW. Berada di
tengah-tengah para sahabat, lalu ada seseorang datang kepada beliau lantas
bertanya : “Apakah iman itu?”. Beliau menjawab : “Iman adalah kamu percaya
kepada Allah dan malaikatNya, percaya dengan adanya pertemuan denganNya, dan
dengan adanya rasul-rasulNya, dan kamu percaya dengan adanya hari kebangkitan
(setelah mati)”. Ia bertanya : “Apakah Islam itu?”. Beliau menjawab : “Islam
yaitu kamu yang menyembah kepada Allah dan tidak mempersekutukanNya, mendirikan
shalat, menunaikan zakat yang diwajibkan, dan berpuasa pada bulan ramadhlan”.
Ia bertanya : “Apakah Ihsan itu?”. Beliau menjawab : “kamu menyembah Allah
seakan-akan kamu melihatNya, dan jika kamu tidak bisa (seakan-akan) melihatNya
maka (beryakinlah) bahwa sesungguhnya Allah melihat kamu”. Ia bertanya : “Kapan
hari kiamat itu?”. Beliau menjawab : “Orang yang ditanya tentang hari kiamat
itu tidak lebih tahu daripada orang yang bertanya. Akan tetapi aku akan
memberitahukan kepadamu tentang tanda-tandanya (yaitu)apabila seorang budak
perempuan melahirkan tuannya, apabila pengembala unta dan ternak berlomba-lomba
dalam bangunan; dalam lima hal tidak mengetahuinya kecuali Allah”. Kemudian
Nabi SAW. Membaca ayat (yang artinya) : “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisiNya
sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dialah yang menurunkan hujan dan
mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui
di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi maha
mengenal”. Orang yang bertanya itu lantas pergi , lalu beliau bersabda : “itu
adalah Jibril yang datang untuk mengajarkan manusia tentang agama mereka”.[1] (Al Bukhary 2:37; Muslim 1:1; Al Lu’lu’ wal Marjan 1:2)
Iman menurut
bahasa ialah mashdar (akar kata) dari amana, yu’minu, imanan. Ibnu Faris
berkata, “Amana yang terdiri dari hamzah, mim, dan nun memiliki dua makna yang
saling berdekatan. Pertama, maknanya adalah amanah yang merupakan
kebalikan kata khianat, yang berarti tentramnya hati. Kedua, maknanya
adalah membenarkan, kedua makna ini berdekatan.[2] Namun ada juga iman yang mempunyai makna membenarkan, seperti tashdiq=
membenarkan. Menurut istilah sebagian ahli ilmu, ialah tashdiqur rasuli
fi ma ja-a bihi ‘an robbihi= membenarkan Rasul terhadap apa yang
didatangkan dari Tuhannya.
Al Qashtalany
berkata : “Iman, sebagai yang telah ditegaskan oleh At Taftazany, ialah tunduk
kepada penetapan seseorang dan memandang pembawa kabar itu seorang yang benar.”
Maka hakikat tashdiq, bukan hanya dalam hati sekedar membenarkan saja, namun
mematuhinya. Karena itu, iman tidak lepas dari hukum Islam. Kedua-duanya
bersatu pada ma shadaq (pada hakikat), walaupun berlainan pengertiannya.
Pengertian iman, membenarkan dengan hati, sedang Islam, mengerjakan dengan
anggota.
Iman menurut
pendapat ulama salaf dan khalaf, baik mutakallimin maupun muhadditsin ialah
mengucapkan dengan lidah yakni mengucapkan kalimat syahadat dan mengamalkannya.
Makna ini sesuai dengan pendapat salaf yang menetapkan bahwasanya Iman, ialah
“mengiktikadkan dengan hati, menuturkan dengan lidah dan mengerjakan dengan
anggota”.
Golongan
hanafiyah atau golongan maturidiyah berkata iman itu membenarkan dengan hati
dan mengikrarkan dengan lidah.[3]
Jadi Iman
adalah meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan serta membuktikannya
dengan amal perbuatan.
Adapun
perbuatan sebagai bagian dari iman itu terdiri dari 73 hingga 79 cabang, yang
tertingggi adalah ucapan dan terendah adalah menyingkirkan gangguan-gangguan
yang ada di jalan umum seperti; batu, duri, pecahan kaca, dan sesuatu yang
berbau busuk atau semisalnya.
Hadis riwayat
sahih Muslim dalam Kitabul Iman disebutkan iman itu lebih dari 70 atau
lebih dari 60 cabang. Yang paling utama adalah ucapan laailahaillallah dan yang
paling ringan ialah membuang kotoran dari jalan, dan rasa malu adalah cabang
dari iman.[4] Hal ini ditunjuk oleh sabda Nabi saw:
اَلْحَيَاءُ
شُعْـبَةٌ مِنَ الإِيْمَانِ
“Malu itu adalah suatu
cabang dari iman”.
B.
Unsur-Unsur
Keimanan
a.
Iman
الْاِيْمَانُ
اَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ
الاَخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. {رواه
مسلم}
Keimanan itu ialah percaya (beriman)
kepada Allah, kepada malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya,
rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan percaya bahwa takdir baik dan buruk adalah
dari-Nya.[5]
Selain itu Nabi. Saw. menerangkan
dalam hadits jibril bahwa ada lima dasar pokok iman: Mengimani adanya Allah,
mengimani sifat-sifat yang wajib bagi-Nya, mengimani adanya malaikat Allah,
mengimani bahwa kita akan menjumpai atau
melihat Allah di akhirat, mengimani Rasul-rasul-Nya, Mengimani bahwa semua
makhluk akan bangkit dari kubur.[6]
b.
Islam
Islam menurut bahasa adalah tunduk
dan patuh yang berasal dari bahasa arab ‘aslama yuslimu, islaman.[7] Sedangkan menurut syara’ ada dua: Pertama, derajat di atas
iman, yaitu mengakui dengan lidah. Dengan pengakuan lidah itu di peliharalah
darah, dan di aggaplah dia orang islam, tidak di anggap orang kafir lagi, baik
pengakuan lidah itu disertai iktikaf hati, ataupun tidak. Kedua,
derajatnya di atas iman, yaitu selain dari pengakuan lidah, mengiktikadkan pula
dengan hati dan mengerjakan dengan anggota tubuh serta menyerahkan diri kepada
Allah dalam segala yang di qadhakan Allah dan di takdirkan-Nya. [8]
اَلإِسْلاَمُ
اَنْ تَعْبُدَ اللهَ وَلاَ تُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ
وَتُؤَدِّيَ ازَّكَاةَ الْمَفْرُوْضَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وتَحُجَّ الْبَيْتَ. {رواه
البخارى ومسلم}
Islam itu ialah menyembah kepada
Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, mendirikan shalat, menunaikan
zakat yang diwajibkan, berpuasa dalam bulan Ramadhan, dan menunaikan ibadah
haji ke Baitul Haram (Masjidil haram dan sekitarnya)[9]
Tegaslah bahwasannya Islam ialah
menyerahkan diri kepada Allah, menundukkan jiwa Kepada Allah, serta mengakui
kehinaan dan kehambaan diri seraya mengerjakan dengan anggota tubuh dan panca
indera segala yang bersangkutan dengan ketundukan itu.
c.
Ihsan
Ihsan menurut bahasa berarti
mengerjakan sesuatu yang memberi manfaat kepada orang lain. Sedangkan menurut
syara, ihsan itu bermakna ikhlas atau lebih tegas dalam Sabda Nabi Saw.
اَنْ تَعْبُدَاللهَ كَأَنَّكَ
تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَأِنهُ يَرَاكَ.
“Engkau
mengibadati Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak
melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihat engkau”.
Keikhlasan menuntut kita
membaikkan amal yang dikerjakan. Tegasnya, ihsan itu ialah jiwa amalan zhahir
dan batin. Hal ini memberi pengertian bahwa kita diharuskan beribadah kepada
Allah seperti kita memandang-Nya dengan mata sehingga kita terus-menerus membaguskan
ibadah. Jika belum seperti itu maka hendaklah kita yakin bahwa Allah melihat
kita. Hal ini akan mendorong kita untuk tetap berlaku Ihsan (mengerjakan
sesuatu dengan baik dan ikhlas dalam beribadah).[10]
Jadi dapat disimpulkan dari ketiga
unsur keimanan tersebut bahwa Iman ialah keyakinan dan juga pengikraran, Islam
ialah bentuk praktik dari Iman, dan Ihsan ialah Konsistensi antara Iman dan
Islam.
Iman, Islam, Ihsan
bersatu hakikatnya dan terjalin rapi satu sama lainnya. Perjalinannya seperti
perjalinan anasir-anasir air dari yang berjalin dan bersatunya anasir-anasir
itu, berwujudlah air, bukan sebagai bersatunya kertas rokok dengan temabakau.
C.
Bertambah
dan Berkurangnya Iman
Tiap-tiap
sesuatu yang mungkin bertambah, niscaya ada kemungkinan pula berkurang. Yang
menjadi pembahasan disini ialah bertambah atau berkurangnya iman. Tetapi adakah
bertambahnya itu tasdiq saja ataukah tasdiq dengan amalnya?. Kedua-duanya dapat
terjadi, yaitu keduanya mungkin bertambah dan berkurang. Hanya saja
berkurangnya itu ada batasnya. Dan iman itu tidak akan berkurang sebelum
bertambah.
Jadi
bertambah dan berkurangnya iman itu, adalah diluar dari pada batas iman yang
semestinya. Jika bertambahnya iman menurut tasdiq dan juga amalnya maka hal itu
telah jelas untuk kita, karena bila seseorang itu telah bertambah amal dan
ibadahnya berarti tasdiqnya telah bertambah dari semula. Dan jika bertambahnya
iman menurut tasdiqnya saja maka terjadi berbagai pendapat. Menurut ulama
masyhur mengatakan bahwa bertambahnya iman menurut tasdiqnya saja maka itu
sesuatu yang tidak mungkin. Tetapi anehnya tasdiq sajapun juga dapat bertambah
dan berkurang. Hal ini diperoleh dari 3 jurusan:
1.
Jurusan
wasilahnya ( perantaranya )
Bertambah atau berkurangnya tasdiq
dari jurusan wasilah yaitu karena kuat dan lemahnya dalil atau bukti yang
membawa kita kepada tasdiq tersebut. Misalnya, suatu benda yang mendapat
pukulan dari benda lain yang lebih keras dan lebih tajam, niscaya mendapat
bekas yang lebih mendalam. Sebaliknya jika keadaan itu hanya sepintas lalu
saja, niscaya bekasnya tidak akan mendalam dan bertambah, bahkan mungkin bekas
tersebut akan lenyap dengan cepat atau lambat tergantung dalamnya bekas
tersebut.
Jadi dapat disimpulkan jika kita
menyaksikan sesuatu hanya sekali saja, tentu berbeda dengan yang
memperhatikannya berulang-ulang setiap saat. Sudah tentu yang selalu dilihat
itu akan jauh dari perasaan syak atau ragu, dan tentu akan bertambah jelas dan
yakin.
2.
Jurusan
muta’allaqnya
Yaitu bagaimana perhubungan dan
pertaliannya yang kita percayai dengan dalil dan bukti-bukti.
Tiap-tiap sesuatu yang kita ketahui kadang-kadang hanya sepintas
lalu saja tetapi kadang-kadang juga dengan luas dan mendalam benar, sehingga
tidak saja garis-garis besarnya, tetapi sampai garis kecilnya.
Jadi, apabila kita mengetahui sesuatu dengan luas dan mendalam,
walaupun tidak menyebabkan kuatnya paham kita, tetapi telah menambah banyaknya
pengetahuan kita. Jika banyak pengetahuan maka hubungannya dengan yang diyakimi
akan lebih banyak pula.
Jelaslah sudah bahwa keyakinan dan
kepercayaan itu dapat pula bertambah kuantitasnya, sekalipun tambahnya itu
bukan pada mutu atau kwalitas.
3.
Dari
segi hasil
Bertambah dan berkurangnya iman
ditinjau dari segi hasilnya yaitu amal seseorang yang baru mendapat suatu teori
berkat hasil pikirannya, tentu akan lebih puas dan yakin apabila teori yang
didapat itu sering dipraktikkan.
Demikianlah gambarannya orang yang banyak membiasakan taat kepada
Allah, niscaya bertambahlah iman dan kepercayaannya. Sebaliknya orang-orang
yang sering meninggalkan perintah Allah tentu akan lemah dan berkuranglah
imannya.[11]
BAB III
PENUTUP
i.
Kesimpulan
Iman adalah
meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan serta membuktikannya dengan amal
perbuatan.
Adapun
perbuatan sebagai bagian dari iman itu terdiri dari 73 hingga 79 cabang, yang
tertingggi adalah ucapan dan terendah adalah menyingkirkan gangguan-gangguan
yang ada di jalan umum seperti; batu, duri, pecahan kaca, dan sesuatu yang
berbau busuk atau semisalnya. Hadis riwayat sahih Muslim dalam Kitabul Iman
disebutkan iman itu lebih dari 70 atau lebih dari 60 cabang. Yang paling utama
adalah ucapan laailahaillallah dan yang paling ringan ialah membuang kotoran
dari jalan, dan rasa malu adalah cabang dari iman.
Unsur-unsur
keimanan ada tiga yaitu: Iman, Islam, Ihsan. Ketiga unsur tersebut saling
berikatan secara rapi.
Bertambah dan
berkurangnya Iman dapat di gambarkan atau dilihat melalui tiga jurusan, yaitu:
jurusan wasilahnya, jurusan muta’allaqnya, dan dari segi hasilnya.
ii.
Penutup
Demikianlah makalah ini kami susun,
dengan terselasainya penyusunan makalah ini kami mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini. Kami juga
mohon maaf apabila dalam penyusunan makalah ini ada kekurangan atau kesalahan,
karena manusia tidak luput dari kesalahan, dan kami juga memohon partisipasi
dari pembaca untuk mengkritik serta memberi saran, sehingga kedepannya dapat
menyusun makalah lebih baik lagi.
DAFTAR
PUSTAKA
Abidin,
Zainal.2011.530 Hadits Shahih Bukhari-Muslim.Jakarta:PT Rineka Cipta.
Ash
Shiddieqy,Tengku Muhammad Hasbi. 2002.Mutiara Hadits1.Semarang:Rizki
Putra.
Az-Zindani,
Abdul Majid. 2007. Samudera Iman.Yogyakarta: Diva Press.
Baqi, Muhammad
Fu’ad Abdul. 1993.Al-Lu’lu’ Wal Marjan.Semarang: Al-Ridha.
Hasanah,
Hasyim.2013. Pengantar Studi Islam.Yogyakarta: Ombak.
Mu’in,Taib
Thahir Abdul Mu’in.1966.Ilmu Kalam.Jakarta: Widjaya.
Razak
,Nazaruddin.1973 .Dienul Islam.Bandung:PT Al Ma’arif.
[1]
Muhammad Fu’ad
Abdul Baqi, Al-Lu’lu’ Wal Marjan, (Semarang: Al-Ridha, 1993), hal. 9-10.
[3]
Tengku Muhammad
Hasbi Ash Shiddieqy, Mutiara Hadits1, (Semarang: Pustaka Rizki
Putra,2002), hal.16-17.
[6]
Tengku Muhammad
Hasbi Ash Shiddieqy, Mutiara Hadits1, (Semarang: Pustaka Rizki
Putra,2002), hal.16.
[8]
Tengku Muhammad
Hasbi Ash Shiddieqy, Mutiara Hadits1, (Semarang: Pustaka Rizki
Putra,2002), hal. 18.
[10]
Tengku Muhammad
Hasbi Ash Shiddieqy, Mutiara Hadits1, (Semarang: Pustaka Rizki
Putra,2002), hal. 19.