11 September 2015

Makalah Sejarah Pendidikan Islam Pada Masa Bani Abbasiyah

BAB I
PENDAHULUAN

A.            LATAR BELAKANG
Dinasti Abbasiyah terbentuk melalui proses perebutan kekuasaan dari bani Umayyah. Dinasti Abbasiyah tergolong dinasti yang paling lama berkuasa. Dari beberapa khalifah yang berkuasa, Harun Al-Rasyid adalah khalifah yang telah membawa Abbasiyah menuju kepada zaman keemasan. Encyclopedia American melukiskan zaman harun Al-Rasyid sebagai kemasyhuran yang cukup lama berlangsung dan telah menjadi buah bibir dan pembicaraan di timur dan barat.
Kemudian di zaman Al-Ma’mun, islam semakin mencapai puncak keemasan dan kebudayaan islamnya juga. Khalifah ini terkenal keintelektualan dan kecintaannya tentang ilmu pengetahuan. pada zaman ini pendidikan islam pada puncak kemajuan.Untuk mengetahui keadaan pendidikan pada zaman abbasiayah,insya allah akan dijelaskan secara terperinci di bawah ini.

B.             RUMUSAN MASALAH
1.         Bagaimana keadaan pendidikan islam pada zaman dinasti abbasiyah?
2.         Apa saja lembaga penddikan pada zaman dinasti abbasiyah?
3.         Bagaimana kegunaan lembaga pendidikan pada zaman dinasti Abbasiyah?

C.            TUJUAN
1.      Mengetahui keadaan pendidikan pada zaman dinasti abbasiyah.
2.      Mengetahui Lembaga-lembaga pada zaman dinasti abbasiyah.
3.      Mengetahui fungsi lembaga pendidikan pada zaman dinasti Abbasiayh.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    KEADAAN PENDIDIKAN PADA ZAMAN BANI ABBAS
Sebagaimana telah banyak dicatat dalam berbagai sumber sejarah,bahwa zaman dinasti Abbasiyah adalah zaman keemasan islam(golden age) yang ditandai oleh kemajuan dalam ilmu pengetahuan,kebudayaan dan peradaban yang mengagumkan,yang dapat dibuktikan keberadaannya,baik melalui berbagai sumber informasi dalam buku-buku sejarah maupun melalui pengamatan empiris di berbagai  wilayah di belahan dunia yang pernah dikuasai islam seperti Irak,Spanyo,India,Mesir,dan sebagian Afrika Utara.Segala kemajuan tersebut tidak mungkin terjadi tanpa didukung oleh kemajuan bidang pendidikan.Terdapat sejumlah sumber informasi yang menggambarkan keadaan pendidikan di zaman Bani Abbas.

1.        Keadaan Lembaga Pendidikan
a.      al-Hawanit al-Waraqien(Toko Buku)
Ahmad syalabi mengatakan:
Laalla min al-mumkinu al arbitha bain al-aswaq al-aswaq al-arab fi al-jahiliah:Ukadz.majanan wa dzilmajaz,wa bain dakakin bay’ual-kutub fi al-islam,fa fi al-aswaq kanaa al-arab yajtami’un  lil al-qiyam bi ba’di al-shafaqat al-tijariyah,wa lakinnahum kaanu yantahizuuna furshata haaza al-ijtima liyaqumu binsyath ra’l al-nahiyah al-adabiyah, fa yansyidun al-asy’ar  wa ya’qidun al-munazarah wa yulquna al-khattabah al-rinanah wahakatka fi dzalika dakakin bay’u al-kutub hadzihi al-dakakinal-latiy futihat fi al-ashli li I’mal tijariyah,tsumma idza hiya tashih musrihanlis tsaqafah wa al-hiwar al-ilmi,indama ummaha al-mutsqifun wa al-udaba,wa al-takhadzu minha makanan liijtima’ihim wa ibatsihim.wa qad dzaharat dakakin bay’u al-kutub mundzu mathla’ al-daulah al-abbasiyah.tsumma intasyarat bisur’ah intisyaran malhudzan fi al-awashim wa al-buldan al-mukhtalifah bi al-am al-islamiy,wa hafalat kullu madinah bal kullu mahillah bi adadin wafirin minha;dzakara al-yaqubiy fi jumlati kalamihi an irbadl Baghdad tsumma rabadla wadhaha maula amir al-mu’minin wa bihi  aktsar min mi’ah hawanut lil qaraqin.wa kaana fi mishra fi ahdi al-thuluniyyin wa al-ikhsyidiyin suuqun adzimin lil wariqin lil tu’radu fiha al-kutub libay’I wa ahyaanan taduuru fii dakakinihi al-munazarah wa qad tu,ridlu al-maqridziy fi mawadli katsirah min kuttabihi al-khattah lil hadits an hadzihi al-mahal”.[1]
Artinya “Menghubungkan antara pasar-pasar bangsa arab di zaman jahiliah:Ukadz,Majanan dan dzil Majas,dengan toko-toko yang menjual kitab pada zaman islam tampaknya sebuah kemungkinan.Di pasar-pasar bangsa Arab terdapat sekelompok manusia berkumpul untuk mendirikan sejumlah tenda untuk berdagang , dan mereka menggunakan kesempatan pertemuan ini mempertunjukan kehebatannya dalam bidang sastra.Mereka kemudian membaca syair dan menyelenggarakan diskusi serta menyampaikan pidato,dan dalam kesempatan tersebut berdirilah toko-toko untuk menjual kitab.Toko-toko ini pada mulanya  dibuka untuk keperluan berdagang, namun kemudian menjadi tempat untuk pertunjukan kebudayaan dan peradaban serta kegiatan ilmiah yang ditangani oleh para budayawan dan sastrawan.Mereka mengambil bagian di tempat tersebut untuk berkumpul dan dan melakukan kajian.Toko-toko yang menjual kitab tersebut mucul pada zaman daulat Abbasiyah,kemudian menyebar sangat cepat pada setiap ibu kota dan berbagai negara Islam, bahkan di setiap sudut pada setiap kota.Dalam hubungan ini al-Yakubi menyebutkan , bahwa toko-toko ada tersebut pada sejumlah tempat di Baghdad ,yang jumlahnya mencapai lebih dari 1000 toko buku.Demikian pula di Mesir pada zaman dinasti Bani Thulun dan al-Ikhsyidin terdapat  sebuah pasar yang besar yang khusus menyediakan buku untuk dijual dan kadang diselenggarakan pula kegiatan kajian ilmiah.Demikian pula al-Maqridzi mengemukakan tentang adanya sejumlah tempat yang banyak menjual kitab-kitab, tentang adanya para penulis buku untuk ikut ambil bagian dalam perdebatan di tempat tersebut.
b.      Manazil al-Ulama (Rumah-rumah Para ulama)
Pelaksanaan kegiatan belajar di rumah pernah terjadi pada awal permulaan Islam, yaitu pada saat sebelum tumbuhnya masjid. Rasullah SAW misalnya pernah menggunakan rumah al-Arqam(Dar al-Arqam) bin Abi al-Arqam sebagai markas pengajaran tentang dasar-dasar agama baru serta membacakan al-Alqur’an.Di antara rumah yang sering digunakan kegiatan ilmiah pada zaman dinasti Abbasiyah adalah al-rais Ibnu Shina.Al-Jauzani berkata bahwa kepada sahabatnya bahwa pada setiap malam ia berkumpul di rumah Ibnu Sina untuk menimba ilmu, dan aku membaca kitab al-Syifa,dan sebagian yang lain ada yang membaca kitab al-Qanun.Kemudian rumah Abu Sulaiman banyak dikunjungi para ulama untuk melakukan tukar menukar informasi (muzakarah),dan berdiskusi(munazarah)pada berbagai tempat yang berbeda –beda,dan Abu Sulaiman sebagai tenaga ahli yang memberikan penilaian(expert judgement).Di antara yang menghadiri majlis ilmu yang yang diselenggarakan di rumah Abu Sulaiman adalah Abu Sulaiman al-Muqaddasi,Abu al-Fatah al-Nuwasjaniy, Abu Zakariyah al-shiymiriy,Abu Bakar al-Qumisy ,Ghulam Zuhli,Abu Hayan al-Tuhidiy.Kemudian rumah Imam al-Ghazali (504 H).Demikian pula rumah Ya’kub bin Kalas wazir al-Azis billah al-Fatimiy,rumah al-Sulfiy Ahmad bin Muhammad Abu Thahir (576 H) di Iskandariyah digunakan untuk kegiatan ilmiah.
c.       Al-sholun al-Adabiyah (Sanggar Sastra)
Al-Sholun al-Adabiyah (sanggar sastra) ini mulai tumbuh sederhana pada zaman pemerintah Bani Umayah ,kemudian berkembang pesat pada masa pemerintahan Abbasiyah.Adapun sanggar sastra dibuat dengan meniru kebudayaan asing yang diambil oleh khalifah arab dari para penguasa agung yang merupakan tanda penghormatan atas kekuasaannya.Dengan demikian di sanggar sastra ini terdapat ketentuan dan kode etik yang khusus.Dalam hubungan ini Ibn Abd Rabiah ,al-muqri dan al-Maqrizi berkata, bahwa sanggar sastra tidak bisa menerima setiap orang yang menginginkannya , melainkan sanggar sastra tersebut hanya dibolehkan untuk sekelompok manusia tertentu.Orang yang masuk di sanggar sastra tidak dapat duduk di tempat sekehendaknya atau berpindah ke tempat lain,melainkan setiap orang harus duduk di tempat yang telah ditentukan,dan ia dapat berpindah jika mendapatkan izin khusus dari khalifah.Dalam hubungan ini setiap khalifah memiliki isyarat tertentu.
Dalam sanggar sastra tersebut, bukan hanya dibahas dan didiskusikan masalah-masalah kesusastraan saja, melainkan juga berbagai macam ilmu pengetahuan (majlis ilmu pengetahuan) dan berbagai kesenian (majlis kesenian).

d.      Madrasah
Menurut bahasa madrasah berarti tempat belajar,menurut istilah madrasah berarti lembaga pendidikan tingkat dasar dan menengah yang mengajarkan ilmu agama dan ilmu lainnyayang menggunakan sistem klasikal.Madrasah mulai muncul pada zaman khalifah Bani Abbas .Ahmad Tsalabi berkata bahwa ketika minat masyarakat mencari ilmu meningkat di halaqah yang ada di masjid dan menimbulkan kegaduhan maka akibatnya mengganggu kekhusyukan orang sholat dan mulai berfikir untuk merancang tempat belajar yang khusus dan dilengkapi berbagai sarana prasarana yang diperlukan.Selain itu berdirinya madrasah disebabkan karena ilmu pengetahuan dan berbagai ketrampilan semakin berkembang.Selain itu madrasah didirikan untuk dengan tujuan untuk memasayarakatkan ajaran atau paham keagamaan dan ideologi tertentu ,sebagaiman yang terjadi pada madrasah Nidzamiah yang perdana mentrinya Nidzam al-Mulk,ia medirikan madrasah untuk beramal ibadah ,juga untuk menanamkan teologi dan keagamaan Islam yang dianut kaum sunni,serta mencegah masuknya paham syi’ah dan lainnya.[2]
e.       Perpustakaan dan Observarium
Tempat ini digunakan untuk sebagai belajar mengajar dalam arti yang luas,yaitu belajar bukan berarti menerima ilmu dari guru sebagaimana yang umumnya dipahami,melainkan kegiatan belajar yang bertumpu pada aktivitas siswa(student centris), seperti belajar dengan cara memecahkan masalah,eksperimen,belajar sambil bekerja(learning by doing),dan inquiry (penemuan).
Belajar yang demikian ini telah tumbuh di zaman khalifah Abbasiyah.
f.       Al-Ribath
Menurut bahasa al-Ribath berarti ikatan yang mudah dibuka.Menurut istilah adalah tempat untuk melakukan latihan,bimbingan,dan pengajaranbagi salon sufi.Di dalam al-Ribath terdapat komponen atau ketentuan yang terkait dengan pendidikan tasawuf diantaranya komponen guru yang terdiri dari syech (guru besar),mursyid(guru utama),mu’id(asisten guru),dan mufid (fasilitator). Murid al-Ribath dibagi menjadi  dari ibtidaiyah,tsanawiyah,dan aliyah.
g.      Az-Zawiah
Menurut harfiah berarti sayap dan menurut umum adalah tempat yang berada di samping masjid yang digunakan untuk melakukan bimbingan wirid dan zikir untuk mendapatkan kepuasan spiritual.
h.      Rumah Sakit
Dalam rangka menyebarkan kesejahteraan di kalangan umat islam, maka banyak didirikan rumah-rumah sakit. Rumah sakit tersebut, bukan hanya berfungsi sebagai tempat merawat dan mengobati orang-orang sakit tetapi juga mendidik tenaga-tenaga yang berhubungan dengan perawatan dan pengobatan. Mereka mengadakan penelitian dan percobaan dalam bidang kedokteran dan obat-obatan.
Rumah sakit ini jugamerupakan tempat praktikum dari sekolah kedokteran yang didirikan diluar rumah sakit, tetapi tidak jarang pula sekolah-sekolah kedokteran tersebut didirikan tidak terpisah dari rumah sakit. Dengan demikian, rumah sakit dalam dunia islam, juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan.

2.        Kurikulum
a.       Kurikulum Menurut Imam al-Ghozali
Ia membagi ilmu menjadi tiga pendekatan,pertama pembagian ilmu dari segi sumbernya;kedua,pembagian ilmu dilihat dari segi jauh dekatnya dengan tuhan;ketiga,pembagian ilmu dari segi hukumnya.Menurut al-Ghazali ilmu dilihat dari sumbernya terbagi atas ilmu yang bersumber dari syariat(al-Qur’an dan al-hadis) dan ilmu yang bersumber bukan dari syariat.Selanjutnya bahwa dilihat dari objeknya terbagi menjadi, ilmu pengetahuan yang tercela secara mutlak;ilmu pengetahuan yang terpuji;ilmu pengetahuan yang dalam kadar  tertentu,terpuji jika mendalam tercela.Menurut status hukum terbagi menjadi 2 yaitu fardlu a’in dan kifayah.
b.      Menurut Ibn Kaldun
Ibn Kaldun menyusun kurikulum sesuai dengan akal dan kejiwaan peserta didiknya agar menyukai dan bersungguh-sungguh mempelajarinya.Ibn kaldun membagi ilmu menjadi tiga macam,yaitu pertama,kelompok ilmu lisan(bahasa) terdiri dari ilmu tentang tata bahasa(gramatika),sastra dan bahasa yang tersusun secara puitis(syair);kedua,kelompok ilmu naqli,merupakan ilmu yang diambil dari kitab suci dan sunnah Nabi;ketiga,kelompok ilmu aqli,merupakan ilmu yang diperoleh dari berfikir ,prosesnya dilakukan melelui panca indra.

3.        Tradisi Ilmiah dan Atmosfer Akademik
Tradisi ilmiah bisa diartikan sebagai kebiasaan yang berkaitan dengan pengembangan ilmu yang sudah memasyarakatkan dan digunakan secara merasa di kalangan ilmuwan.Atmosfer akademik yaitu suasana yang khas yang timbul dari tradisi ilmiah.Diantara tradisi ilmiah dan atmosfer akademik pada zaman dinasti Abbasiyah adalah sebagai berikut:
a.      Muzakarah(Tukar-menukar Informasi)
Tradisi ini dilakukan oleh para pelajar dari berbagai daerah dengan saling bertukar pikiran ,pemahaman pengamalan sesuatu ajaran.
b.     Munazarah(Berdebat)
Munazarah secara sederhana berarti saling memberikan pendapat dan argumentasi tentang sesuatu masalah kajian ilmiah, atau penetapan hukum syari’at tentang suatu masalah.
c.      Rihlah Ilmiah
Secara sederhana berarti  melakukan perjalanan atau mengembara dari suatu daerah ke daerah lain dengan tujuan mencari ilmu atau melakukan penelitian.Ahmad bin Hambal ,ketika ia masih kecil ,ia belajar kepada guru-guru yang ada di Baghdad.Kemudian pada umur 16 tahun ia menuntut ilmu keluar kota dan keluar negeri seperti kuffah,Bashrah,Syam,Yaman.
d.     Penerjemahan
Penerjamahan dapat diartikan suatu upaya mengalihkan bahasa suatu buku ke bahasa lain,sehingga buku tersebut mudah dipahami.Khaliafah Abbasiyah bernama al-Makmun yang dikenal penganut paham teologi rasional Muzilah sangat perhatian dengan kegiatan penerjemahan.Ia membangun Bait al-Hikmah(ruamh kegiatan ilmu) untuk kegiatan penerjemahan karya-karya Yunani,India,China dan ia menyewa penerjemah asing seperti hunain ibn ishak.[3]
e.      Mengoleksi Buku dan Mendirikan Perpustakaan
Mengoleksi buku merupakan suatu kegiatan mencari ,mengumpulkan,dan mengatur buku dalam berbagai ilmu pengetahuan baik agama maupun umum.
f.       Membangun Lembaga Pendidikan
Lembaga pendidikan ini digunakan untuk pendidikan, pengjaran, bimbingan, dan pelatihan, baik secara formal maupun non formal
g.      Melakukan Penelitian Ilmiah
Penelitian pada zaman ini dibagi menjadi dua yaitu,pertama,penelitian untuk mendpatkan temuan baru dalam ilmu pengetahuan atau teori (murni). kedua, penelitian untuk penerapan hasil penelitian yang dihasilkan dari penelitian pertama.
h.     Menulis Buku
Diantara penulis buku pada zaman dinasti Abbasiyah antara lain:
1.       Al-Jahidz (776-869), beliau hidup pada khalifah al-Ma’mun dan berani menulis tanpa terikat pada tradisi lama.Selain itu ia mulai belajar bahasa dan dilanjutkan belajar fikih dan filsafat dari al-Nadzam.[4]
2.       Imam Bukhari,beliau dikenal sebagai peneliti dan penulis hadis yang terkenal. Ia penulis buku al-Jami’ as-Shalih.[5]
3.       Ibnu Sa’id, beliau adalah pengarang buku Thabaqat al-Qubra sebanyak 8 jilid.
i.        Memberikan Wakaf
Secara harfiah artinya sesuatu yang menetapkan atau tidak hilang.menurut umum adalah menyerah sesuatu barang yang bermanfaat seperti tanah,bangunan,dan buku guna diambil manfaatnya,sedangkan pangkal atau pokok sesuatu barang  atau benda tersebut tidak boleh hilang.
4.        Para Ilmuwan dan Guru
Diantara ilmuwan atau guru yang terkenal pada zaman Abbasiyah antara lain:
1.        Ibnu Sina
Seorang maha guru dalam bidang ilmu kedokteran dan filsafat.Melalui karyany al-Qanun fi al-Thibbi sebanyak tiga jilid,ia mengajar dan mendidik calon-calon dokter di al-Bimaristan(rumah sakit pendidikan) dan di istana raja Nuh bin Mansur.Dan dengan karyanya al-Syifa dan al-najah,Ibn sina mengajarkdan mendidik calon-calon filsuf dan psikolog di rumahnya dan di lembaga yang saat itu ada.
2.        Ibnu Maskawih
Beliau telah berhasil mendidik para putra raja dan masyarakat pada umumnya
3.        Ibn Jama’ah
Seorang guru guru dalam ilmi fikih dan akhlak melalui karyanya Tadzkirat al-sa’mi lil A’lim wa Muta’allim.
4.        Imam al-Juwaini
Yang sering disebut juga dengan Imam al-Haramain adalh seorang guru di madrasah Nidzamiah,tempat Imam al-Ghazali menimba ilmu.Dengan karyanya al-irsyad ia tampil sebagai guru dalam bidang teologi yang amat dikagumi.
5.        Imam al-Ghazali
Seorang mahaguru di madrasah Nidzamiah,istana,dan di masayarakat umum.Dengan karyanya Ihya’ Ulumu al-Din sebanyak tiga jilid,ia tampil sebagai guru dalam bidang fikih dan tasawuf.
5.        Sarana Prasarana
Sarana prasarana pendidikan seperti lembaga pendidikan ,peralatan kegiatan mengajar,peralatan kegiatan penelitian dan percobaan,tersedia lebih lengkap dibandingkan dengan masa sebelumnya.
6.        Pembiayaan Pendidikan
Sumber pembiayaan pendidikan pada dinasti Abbasiyah berasal dari anggaran belanja pemerintah serta dari dana wakaf yang berhasil dihimpun.Menurut catatan para ahli sejarah,bahwa pada setiap tahunnya,Pemerintah Abbasiyah mengeluarkandana tidak kurang dari 600.000 dinar atau setara dengan 6 miliyar rupiah pada waktu itu tau pada zaman sekarang 6 triliyun.
7.        Manajemen Pendidikan
Dalam sistem pendidikan pada zaman itu diatur dengan manajemen pengelolaan yang rapi dan tertib.
8.        Para Pelajar
Para pelajar pada zaman dinasti Abbasiyah berasal dari daerah sekitar dan juga dari mancanegara.

BAB III
PENUTUP

A.      SIMPULAN
        Dari uraian tersebut dapat kami simpulkan bahwa :
Pertama, sistem pendidikan Islam pada zaman Khalifah Bani Abbasiyah tampak lebih maju, lebih lengkp, dan kukuh dibandingkan sistem pendidikan pada zaman sebelumnya. Hal ini sejalan dengan terjadinya puncak kejayaan Islam dizaman itu, dan peran pendidikan dalam mewujudkannya.
        Kedua, kemajuan sistem pendidikan Islam pada zaman Khalifah Abbasiyah sebagaimana tersebut diatas, antara lain ditandai oleh munculnya berbagai lembaga pendidikan yang amat beragam, tradisi ilmiah/atmosfer akademik yang amat kondusif, kurikulum pendidikan, keberadaaan para guru yang memiliki bidang keahlian, reputasi dan pengaruh yang besar dan luas, sarana dan prasaran pendidikan yang lebih memdai, pembiayaaan pendidikan yang mencukupi, manajemen pendidikan yang lebih rappi dan tertib, serta para pelajar yang datang dari berbagai penjuru dunia.
        Ketiga, kemajuan sistem pendidikan yang terjadi dizaman Abbasiyah telah memberikan pengaruh yang besar, tak hanya bagi umat Islam, melainkan bagi dunia pada umumnya. Keberadaan Islam benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh alam, dan umat tampil sebagai adikuasa(super power) yang dihormati, disegani, dan dikagumi oleh bangsa didunia.
        Keempat, sistem pendidikan di zaman Abbasiyah menjadi model atau kiblat bagipelaksanaan pendidikan yang terjadi diberbagai belahan dunia, dan hingga saat ini pengaruhnya masih merata.

B.      PENUTUP
        Demikianlah makalah ini kami buat meskipun belum mencapai kesempurnaan. Selebihnya harapan kami, bisa ditambahkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk menyempurnakan makalah ini. Kami ucapkan Alhamdulillahirabbil’alamin, puji syukur kita panjatkan pada Allah karena berkatnya kami masih diberikan kesempatan untuk menyelesaikan tugas makalah kami. Semoga bermanfaat bagi pemakalah khususnya pembaca umumnya. Amin yaa rabbal’alamin

DAFTAR PUSTAKA

Zuhairini. 1992. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara
Syukur, Fatah. 2010. Sejarah Pendidikan Islam. Semarang: Al-Qalam press
Nizar, Samsul. 2011. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media Group



[1] Lihat Ahmad syalabi, Tarikh al-Tarbiyah al-Islamiyah(Kassyaf li al-nashr wa al-thiba’ah wa al-tauzi,1954),hlm. 40.
[2] Lihat Ahmad Syalabi,Tarikh al-Tarbiyah al-Islamiyah,OP.cit.,hlm 101.
[3] Hunain Ishak seorang kristen keturunan Nestoria akrab dengan ilmu kedokteran dan ia menjadi dokter istana khalifah sekaligus guru kedokteran di Baghdad.
[4] Lihat Montgomer Isalam watt,Islam dan Peradaban Dunia,hlm 97.
[5] Lihat Ibnu Hajar al-Asqalany,Hady al-Sari,Risalah Idarah al-Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta wa al-Da’wah wa al-Irsyad,(Riyadh,t.th),hlm6-7.