BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Dinasti Abbasiyah
terbentuk melalui proses perebutan kekuasaan dari bani Umayyah. Dinasti
Abbasiyah tergolong dinasti yang paling lama berkuasa. Dari beberapa khalifah
yang berkuasa, Harun Al-Rasyid adalah khalifah yang telah membawa Abbasiyah
menuju kepada zaman keemasan. Encyclopedia American melukiskan zaman harun
Al-Rasyid sebagai kemasyhuran yang cukup lama berlangsung dan telah menjadi
buah bibir dan pembicaraan di timur dan barat.
Kemudian di zaman
Al-Ma’mun, islam semakin mencapai puncak keemasan dan kebudayaan islamnya juga.
Khalifah ini terkenal keintelektualan dan kecintaannya tentang ilmu
pengetahuan. pada zaman ini pendidikan islam pada puncak kemajuan.Untuk
mengetahui keadaan pendidikan pada zaman abbasiayah,insya allah akan dijelaskan
secara terperinci di bawah ini.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimana
keadaan pendidikan islam pada zaman dinasti abbasiyah?
2.
Apa saja
lembaga penddikan pada zaman dinasti abbasiyah?
3.
Bagaimana
kegunaan lembaga pendidikan pada zaman dinasti Abbasiyah?
C.
TUJUAN
1. Mengetahui keadaan pendidikan pada zaman
dinasti abbasiyah.
2. Mengetahui Lembaga-lembaga pada zaman dinasti
abbasiyah.
3. Mengetahui fungsi lembaga pendidikan pada zaman
dinasti Abbasiayh.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
KEADAAN
PENDIDIKAN PADA ZAMAN BANI ABBAS
Sebagaimana telah banyak dicatat
dalam berbagai sumber sejarah,bahwa zaman dinasti Abbasiyah adalah zaman
keemasan islam(golden age) yang ditandai oleh kemajuan dalam ilmu
pengetahuan,kebudayaan dan peradaban yang mengagumkan,yang dapat dibuktikan
keberadaannya,baik melalui berbagai sumber informasi dalam buku-buku sejarah maupun melalui
pengamatan empiris di berbagai wilayah
di belahan dunia yang pernah dikuasai islam
seperti Irak,Spanyo,India,Mesir,dan sebagian Afrika Utara.Segala kemajuan
tersebut tidak mungkin terjadi tanpa didukung oleh kemajuan bidang pendidikan.Terdapat sejumlah
sumber informasi yang menggambarkan keadaan pendidikan di zaman Bani Abbas.
1.
Keadaan
Lembaga Pendidikan
a.
al-Hawanit
al-Waraqien(Toko Buku)
Ahmad syalabi mengatakan:
“Laalla min al-mumkinu al arbitha bain
al-aswaq al-aswaq al-arab fi al-jahiliah:Ukadz.majanan wa dzilmajaz,wa bain
dakakin bay’ual-kutub fi al-islam,fa fi al-aswaq kanaa al-arab yajtami’un lil al-qiyam bi ba’di al-shafaqat
al-tijariyah,wa lakinnahum kaanu yantahizuuna furshata haaza al-ijtima liyaqumu
binsyath ra’l al-nahiyah al-adabiyah, fa yansyidun al-asy’ar wa ya’qidun al-munazarah wa yulquna al-khattabah
al-rinanah wahakatka fi dzalika dakakin bay’u al-kutub hadzihi
al-dakakinal-latiy futihat fi al-ashli li I’mal tijariyah,tsumma idza hiya
tashih musrihanlis tsaqafah wa al-hiwar al-ilmi,indama ummaha al-mutsqifun wa
al-udaba,wa al-takhadzu minha makanan liijtima’ihim wa ibatsihim.wa qad dzaharat
dakakin bay’u al-kutub mundzu mathla’ al-daulah al-abbasiyah.tsumma intasyarat
bisur’ah intisyaran malhudzan fi al-awashim wa al-buldan al-mukhtalifah bi
al-am al-islamiy,wa hafalat kullu madinah bal kullu mahillah bi adadin wafirin
minha;dzakara al-yaqubiy fi jumlati kalamihi an irbadl Baghdad tsumma rabadla
wadhaha maula amir al-mu’minin wa bihi
aktsar min mi’ah hawanut lil qaraqin.wa kaana fi mishra fi ahdi
al-thuluniyyin wa al-ikhsyidiyin suuqun adzimin lil wariqin lil tu’radu fiha
al-kutub libay’I wa ahyaanan taduuru fii dakakinihi al-munazarah wa qad
tu,ridlu al-maqridziy fi mawadli katsirah min kuttabihi al-khattah lil hadits
an hadzihi al-mahal”.[1]
Artinya “Menghubungkan antara pasar-pasar
bangsa arab di zaman jahiliah:Ukadz,Majanan dan dzil Majas,dengan toko-toko
yang menjual kitab pada zaman islam tampaknya sebuah kemungkinan.Di pasar-pasar
bangsa Arab terdapat sekelompok manusia berkumpul untuk mendirikan sejumlah
tenda untuk berdagang , dan mereka menggunakan kesempatan pertemuan ini
mempertunjukan kehebatannya dalam bidang sastra.Mereka kemudian membaca syair
dan menyelenggarakan diskusi serta menyampaikan pidato,dan dalam kesempatan
tersebut berdirilah toko-toko untuk menjual kitab.Toko-toko ini pada
mulanya dibuka untuk keperluan
berdagang, namun kemudian menjadi tempat untuk pertunjukan kebudayaan dan
peradaban serta kegiatan ilmiah yang ditangani oleh para
budayawan dan sastrawan.Mereka mengambil bagian di tempat tersebut untuk
berkumpul dan dan melakukan kajian.Toko-toko yang menjual kitab tersebut mucul
pada zaman daulat Abbasiyah,kemudian menyebar sangat cepat pada setiap ibu kota dan berbagai negara
Islam, bahkan di setiap sudut pada setiap kota.Dalam hubungan ini al-Yakubi
menyebutkan , bahwa toko-toko ada tersebut pada
sejumlah tempat di Baghdad ,yang jumlahnya mencapai lebih dari 1000 toko
buku.Demikian pula di Mesir pada zaman dinasti Bani Thulun dan al-Ikhsyidin
terdapat sebuah pasar yang besar yang
khusus menyediakan buku untuk dijual dan kadang diselenggarakan pula kegiatan
kajian ilmiah.Demikian pula al-Maqridzi mengemukakan tentang adanya sejumlah
tempat yang banyak menjual kitab-kitab, tentang adanya para penulis buku untuk
ikut ambil bagian dalam perdebatan di tempat tersebut.
b.
Manazil
al-Ulama (Rumah-rumah Para ulama)
Pelaksanaan kegiatan belajar di
rumah pernah terjadi pada awal permulaan Islam, yaitu pada saat sebelum
tumbuhnya masjid. Rasullah SAW misalnya pernah menggunakan rumah al-Arqam(Dar
al-Arqam) bin Abi al-Arqam sebagai markas pengajaran tentang dasar-dasar agama
baru serta membacakan al-Alqur’an.Di antara rumah yang sering digunakan
kegiatan ilmiah pada zaman dinasti Abbasiyah adalah al-rais Ibnu
Shina.Al-Jauzani berkata bahwa kepada sahabatnya bahwa pada setiap malam ia
berkumpul di rumah Ibnu Sina untuk menimba ilmu, dan aku membaca kitab al-Syifa,dan
sebagian yang lain ada yang membaca kitab al-Qanun.Kemudian rumah Abu Sulaiman
banyak dikunjungi para ulama untuk melakukan tukar menukar informasi (muzakarah),dan
berdiskusi(munazarah)pada berbagai tempat
yang berbeda –beda,dan Abu Sulaiman sebagai tenaga ahli yang memberikan
penilaian(expert judgement).Di antara yang menghadiri majlis ilmu yang
yang diselenggarakan di rumah Abu Sulaiman adalah Abu Sulaiman al-Muqaddasi,Abu
al-Fatah al-Nuwasjaniy, Abu Zakariyah al-shiymiriy,Abu Bakar al-Qumisy ,Ghulam
Zuhli,Abu Hayan al-Tuhidiy.Kemudian rumah Imam al-Ghazali (504 H).Demikian pula
rumah Ya’kub bin Kalas wazir al-Azis billah al-Fatimiy,rumah al-Sulfiy Ahmad
bin Muhammad Abu Thahir (576 H) di Iskandariyah digunakan untuk kegiatan
ilmiah.
c.
Al-sholun
al-Adabiyah (Sanggar Sastra)
Al-Sholun al-Adabiyah (sanggar
sastra) ini mulai tumbuh sederhana pada zaman pemerintah Bani Umayah ,kemudian
berkembang pesat pada masa pemerintahan Abbasiyah.Adapun sanggar sastra dibuat
dengan meniru kebudayaan asing yang diambil oleh khalifah arab dari para
penguasa agung yang merupakan tanda penghormatan atas kekuasaannya.Dengan
demikian di sanggar sastra ini terdapat ketentuan dan kode etik yang
khusus.Dalam hubungan ini Ibn Abd Rabiah ,al-muqri dan al-Maqrizi berkata,
bahwa sanggar sastra tidak bisa menerima setiap orang yang menginginkannya ,
melainkan sanggar sastra tersebut hanya dibolehkan untuk sekelompok manusia
tertentu.Orang yang masuk di sanggar sastra tidak dapat duduk di tempat
sekehendaknya atau berpindah ke tempat lain,melainkan setiap orang harus duduk
di tempat yang telah ditentukan,dan ia dapat berpindah jika mendapatkan izin
khusus dari khalifah.Dalam hubungan ini setiap khalifah memiliki isyarat
tertentu.
Dalam sanggar sastra
tersebut, bukan hanya dibahas dan didiskusikan masalah-masalah kesusastraan
saja, melainkan juga berbagai macam ilmu pengetahuan (majlis ilmu pengetahuan)
dan berbagai kesenian
(majlis kesenian).
d.
Madrasah
Menurut bahasa
madrasah berarti tempat belajar,menurut istilah madrasah berarti lembaga
pendidikan tingkat dasar dan menengah yang mengajarkan ilmu agama dan ilmu
lainnyayang menggunakan sistem klasikal.Madrasah mulai muncul pada zaman
khalifah Bani Abbas .Ahmad Tsalabi berkata bahwa ketika minat masyarakat
mencari ilmu meningkat di halaqah yang ada di masjid dan menimbulkan kegaduhan
maka akibatnya mengganggu kekhusyukan orang sholat dan mulai berfikir untuk
merancang tempat belajar yang khusus dan dilengkapi berbagai sarana prasarana
yang diperlukan.Selain itu berdirinya madrasah disebabkan karena ilmu
pengetahuan dan berbagai ketrampilan semakin berkembang.Selain itu madrasah
didirikan untuk dengan tujuan untuk memasayarakatkan ajaran atau paham
keagamaan dan ideologi tertentu ,sebagaiman yang terjadi pada madrasah
Nidzamiah yang perdana mentrinya Nidzam al-Mulk,ia medirikan madrasah untuk
beramal ibadah ,juga untuk menanamkan teologi dan keagamaan Islam yang dianut
kaum sunni,serta mencegah masuknya paham syi’ah dan lainnya.[2]
e.
Perpustakaan
dan Observarium
Tempat ini digunakan untuk sebagai
belajar mengajar dalam arti yang luas,yaitu belajar bukan berarti menerima ilmu
dari guru sebagaimana yang umumnya dipahami,melainkan kegiatan belajar yang
bertumpu pada aktivitas siswa(student centris), seperti belajar dengan cara
memecahkan masalah,eksperimen,belajar sambil bekerja(learning by doing),dan
inquiry (penemuan).
Belajar yang demikian ini telah
tumbuh di zaman khalifah Abbasiyah.
f.
Al-Ribath
Menurut bahasa al-Ribath berarti
ikatan yang mudah dibuka.Menurut istilah adalah tempat untuk melakukan
latihan,bimbingan,dan pengajaranbagi salon sufi.Di dalam al-Ribath terdapat
komponen atau ketentuan yang terkait dengan pendidikan tasawuf diantaranya
komponen guru yang terdiri dari syech (guru besar),mursyid(guru
utama),mu’id(asisten guru),dan mufid (fasilitator). Murid al-Ribath dibagi
menjadi dari ibtidaiyah,tsanawiyah,dan
aliyah.
g.
Az-Zawiah
Menurut harfiah berarti sayap dan
menurut umum adalah tempat yang berada di samping masjid yang digunakan untuk
melakukan bimbingan wirid dan zikir untuk mendapatkan kepuasan spiritual.
h. Rumah Sakit
Dalam rangka menyebarkan
kesejahteraan di kalangan umat islam, maka banyak didirikan rumah-rumah sakit. Rumah sakit tersebut, bukan hanya berfungsi sebagai
tempat merawat dan mengobati orang-orang sakit tetapi juga mendidik
tenaga-tenaga yang berhubungan dengan perawatan dan pengobatan. Mereka
mengadakan penelitian dan percobaan dalam bidang kedokteran dan obat-obatan.
Rumah sakit ini
jugamerupakan tempat praktikum dari sekolah kedokteran yang didirikan diluar
rumah sakit, tetapi tidak jarang pula sekolah-sekolah kedokteran tersebut
didirikan tidak terpisah dari rumah sakit. Dengan demikian, rumah sakit dalam
dunia islam, juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan.
2.
Kurikulum
a.
Kurikulum
Menurut Imam al-Ghozali
Ia membagi ilmu menjadi tiga pendekatan,pertama
pembagian ilmu dari segi sumbernya;kedua,pembagian ilmu dilihat dari segi jauh
dekatnya dengan tuhan;ketiga,pembagian ilmu dari segi hukumnya.Menurut
al-Ghazali ilmu dilihat dari sumbernya terbagi atas ilmu yang bersumber dari
syariat(al-Qur’an dan al-hadis) dan ilmu yang bersumber bukan dari syariat.Selanjutnya
bahwa dilihat dari objeknya terbagi menjadi, ilmu pengetahuan yang tercela
secara mutlak;ilmu pengetahuan yang terpuji;ilmu pengetahuan yang dalam
kadar tertentu,terpuji jika mendalam
tercela.Menurut status hukum terbagi menjadi 2 yaitu fardlu a’in dan kifayah.
b.
Menurut Ibn
Kaldun
Ibn Kaldun menyusun kurikulum
sesuai dengan akal dan kejiwaan peserta didiknya agar menyukai dan
bersungguh-sungguh mempelajarinya.Ibn kaldun membagi ilmu menjadi tiga
macam,yaitu pertama,kelompok
ilmu lisan(bahasa) terdiri dari ilmu tentang tata bahasa(gramatika),sastra dan
bahasa yang tersusun secara puitis(syair);kedua,kelompok ilmu naqli,merupakan
ilmu yang diambil dari kitab suci dan sunnah Nabi;ketiga,kelompok ilmu
aqli,merupakan ilmu yang diperoleh dari berfikir ,prosesnya dilakukan melelui
panca indra.
3.
Tradisi Ilmiah
dan Atmosfer Akademik
Tradisi ilmiah bisa diartikan
sebagai kebiasaan yang berkaitan dengan pengembangan ilmu yang sudah memasyarakatkan
dan digunakan secara merasa di kalangan ilmuwan.Atmosfer akademik yaitu suasana
yang khas yang timbul dari tradisi ilmiah.Diantara tradisi ilmiah dan atmosfer
akademik pada zaman dinasti Abbasiyah adalah sebagai berikut:
a.
Muzakarah(Tukar-menukar
Informasi)
Tradisi ini dilakukan oleh para
pelajar dari berbagai daerah dengan saling bertukar pikiran ,pemahaman
pengamalan sesuatu ajaran.
b.
Munazarah(Berdebat)
Munazarah secara sederhana berarti
saling memberikan pendapat dan argumentasi tentang sesuatu masalah kajian
ilmiah, atau penetapan hukum syari’at tentang suatu
masalah.
c.
Rihlah Ilmiah
Secara sederhana berarti melakukan perjalanan atau mengembara dari
suatu daerah ke daerah lain dengan tujuan mencari ilmu atau melakukan
penelitian.Ahmad bin Hambal ,ketika ia masih kecil ,ia belajar kepada guru-guru
yang ada di Baghdad.Kemudian pada umur 16 tahun ia menuntut ilmu keluar kota
dan keluar negeri seperti kuffah,Bashrah,Syam,Yaman.
d.
Penerjemahan
Penerjamahan dapat diartikan suatu
upaya mengalihkan bahasa suatu buku ke bahasa lain,sehingga buku tersebut mudah
dipahami.Khaliafah Abbasiyah bernama al-Makmun yang dikenal penganut paham
teologi rasional Muzilah sangat perhatian dengan kegiatan penerjemahan.Ia
membangun Bait al-Hikmah(ruamh kegiatan ilmu) untuk kegiatan penerjemahan
karya-karya Yunani,India,China dan ia menyewa penerjemah asing seperti hunain
ibn ishak.[3]
e. Mengoleksi Buku dan Mendirikan Perpustakaan
Mengoleksi buku merupakan
suatu kegiatan mencari ,mengumpulkan,dan mengatur buku dalam berbagai ilmu pengetahuan baik agama maupun umum.
f. Membangun Lembaga
Pendidikan
Lembaga pendidikan ini digunakan untuk pendidikan, pengjaran, bimbingan, dan pelatihan, baik secara
formal maupun non formal
g. Melakukan Penelitian
Ilmiah
Penelitian pada zaman ini
dibagi menjadi dua yaitu,pertama,penelitian untuk mendpatkan temuan baru dalam
ilmu pengetahuan atau teori (murni). kedua, penelitian untuk penerapan hasil penelitian
yang dihasilkan dari penelitian pertama.
h. Menulis Buku
Diantara penulis buku
pada zaman dinasti Abbasiyah antara lain:
1. Al-Jahidz (776-869), beliau hidup pada khalifah al-Ma’mun dan berani
menulis tanpa terikat pada tradisi lama.Selain itu ia mulai belajar bahasa dan
dilanjutkan belajar fikih dan filsafat dari al-Nadzam.[4]
2. Imam Bukhari,beliau dikenal sebagai peneliti dan penulis hadis yang
terkenal. Ia penulis buku al-Jami’ as-Shalih.[5]
3. Ibnu Sa’id, beliau adalah
pengarang buku Thabaqat al-Qubra sebanyak 8 jilid.
i.
Memberikan Wakaf
Secara harfiah artinya
sesuatu yang menetapkan atau tidak hilang.menurut umum adalah menyerah sesuatu
barang yang bermanfaat seperti tanah,bangunan,dan buku guna diambil
manfaatnya,sedangkan pangkal atau pokok sesuatu barang atau benda tersebut tidak boleh hilang.
4.
Para Ilmuwan dan Guru
Diantara ilmuwan atau guru
yang terkenal pada zaman Abbasiyah antara lain:
1.
Ibnu Sina
Seorang maha
guru dalam bidang ilmu kedokteran dan filsafat.Melalui karyany al-Qanun fi
al-Thibbi sebanyak tiga jilid,ia mengajar dan mendidik calon-calon dokter
di al-Bimaristan(rumah sakit pendidikan) dan di istana raja Nuh bin
Mansur.Dan dengan karyanya al-Syifa dan al-najah,Ibn sina
mengajarkdan mendidik calon-calon filsuf dan psikolog di rumahnya dan di
lembaga yang saat itu ada.
2.
Ibnu Maskawih
Beliau telah berhasil mendidik para putra raja dan masyarakat pada
umumnya
3.
Ibn Jama’ah
Seorang guru guru dalam ilmi fikih dan akhlak melalui karyanya Tadzkirat
al-sa’mi lil A’lim wa Muta’allim.
4.
Imam
al-Juwaini
Yang sering disebut juga dengan Imam al-Haramain adalh seorang
guru di madrasah Nidzamiah,tempat Imam al-Ghazali menimba ilmu.Dengan karyanya
al-irsyad ia tampil sebagai guru dalam bidang teologi yang amat dikagumi.
5.
Imam
al-Ghazali
Seorang
mahaguru di madrasah Nidzamiah,istana,dan di masayarakat umum.Dengan karyanya
Ihya’ Ulumu al-Din sebanyak tiga jilid,ia tampil sebagai guru dalam bidang
fikih dan tasawuf.
5.
Sarana Prasarana
Sarana prasarana
pendidikan seperti lembaga pendidikan ,peralatan kegiatan mengajar,peralatan
kegiatan penelitian dan percobaan,tersedia lebih lengkap dibandingkan dengan
masa sebelumnya.
6.
Pembiayaan Pendidikan
Sumber pembiayaan
pendidikan pada dinasti Abbasiyah berasal dari anggaran belanja pemerintah
serta dari dana wakaf yang berhasil dihimpun.Menurut catatan para ahli
sejarah,bahwa pada setiap tahunnya,Pemerintah Abbasiyah mengeluarkandana tidak
kurang dari 600.000 dinar atau setara dengan 6 miliyar rupiah pada waktu itu
tau pada zaman sekarang 6 triliyun.
7.
Manajemen Pendidikan
Dalam sistem pendidikan
pada zaman itu diatur dengan manajemen pengelolaan yang rapi dan tertib.
8.
Para Pelajar
Para pelajar pada zaman
dinasti Abbasiyah berasal dari daerah sekitar dan juga dari mancanegara.
BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
Dari uraian tersebut dapat kami simpulkan bahwa :
Pertama, sistem pendidikan Islam pada zaman
Khalifah Bani Abbasiyah tampak lebih maju, lebih lengkp, dan kukuh dibandingkan
sistem pendidikan pada zaman sebelumnya. Hal ini sejalan dengan terjadinya
puncak kejayaan Islam dizaman itu, dan peran pendidikan dalam mewujudkannya.
Kedua, kemajuan sistem
pendidikan Islam pada zaman Khalifah Abbasiyah sebagaimana tersebut diatas,
antara lain ditandai oleh munculnya berbagai lembaga pendidikan yang amat
beragam, tradisi ilmiah/atmosfer akademik yang amat kondusif, kurikulum
pendidikan, keberadaaan para guru yang memiliki bidang keahlian, reputasi dan
pengaruh yang besar dan luas, sarana dan prasaran pendidikan yang lebih memdai,
pembiayaaan pendidikan yang mencukupi, manajemen pendidikan yang lebih rappi
dan tertib, serta para pelajar yang datang dari berbagai penjuru dunia.
Ketiga, kemajuan sistem
pendidikan yang terjadi dizaman Abbasiyah telah memberikan pengaruh yang besar,
tak hanya bagi umat Islam, melainkan bagi dunia pada umumnya. Keberadaan Islam
benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh alam, dan umat tampil sebagai adikuasa(super
power) yang dihormati, disegani, dan dikagumi oleh bangsa didunia.
Keempat, sistem pendidikan di
zaman Abbasiyah menjadi model atau kiblat bagipelaksanaan pendidikan yang
terjadi diberbagai belahan dunia, dan hingga saat ini pengaruhnya masih merata.
B. PENUTUP
Demikianlah
makalah ini kami buat meskipun belum mencapai kesempurnaan. Selebihnya harapan
kami, bisa ditambahkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk
menyempurnakan makalah ini. Kami ucapkan Alhamdulillahirabbil’alamin, puji
syukur kita panjatkan pada Allah karena berkatnya kami masih diberikan
kesempatan untuk menyelesaikan tugas makalah kami. Semoga bermanfaat bagi
pemakalah khususnya pembaca umumnya. Amin yaa rabbal’alamin
DAFTAR PUSTAKA
Zuhairini. 1992. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara
Syukur, Fatah. 2010. Sejarah Pendidikan Islam. Semarang: Al-Qalam
press
Nizar, Samsul. 2011. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group
[1] Lihat Ahmad syalabi, Tarikh al-Tarbiyah
al-Islamiyah(Kassyaf li al-nashr wa al-thiba’ah wa al-tauzi,1954),hlm. 40.
[3] Hunain Ishak seorang kristen keturunan Nestoria akrab
dengan ilmu kedokteran dan ia menjadi dokter istana khalifah sekaligus guru
kedokteran di Baghdad.
[5] Lihat Ibnu Hajar al-Asqalany,Hady al-Sari,Risalah
Idarah al-Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta wa al-Da’wah wa al-Irsyad,(Riyadh,t.th),hlm6-7.