30 September 2020

Makalah Pertalian Antara Sastra Islam dan Sastra Jawa

 BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Sastra adalalah seni yang berhubungan dengan penciptaan dan ungkapan pribadi (ekspresi) (Sumardjo, 1984: 15). Selain itu, sastra juga merupakan salah satu hasil karya manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Manusia hidup di dunia ini memerlukan banyak kebutuhan. Manusia perlu makan, pakaian agar tidak kedinginan, rumah agar tidak kehujanan dan kepanasan, perlu kedokteran agar tidak jatuh sakit. Manusia juga perlu hiburan agar mendapat kesenangan. Manusia perlu berpikir dan mencipta untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya itu. Ada kebutuhan manusia yang berupa kebendaan, ada pula kebutuhan manusia yang bersifat kerohanian seperti aturan-aturan hidup dalam hidup bersama, kesenian untuk hiburan. Semua hasil kerja manusia untuk memenuhi kebutuhannya itu disebut kebudayaan. Karena kebutuhan manusia begitu banyak maka kebutuhankebutuhan tersebut digolongkan dalam beberapa kategori yaitu kebutuhan kebendaan yang terdiri dari ilmu pengetahuan, teknologi, dan ekonomi; kebutuhan kerohanian terdiri dari kesenian, tata cara beribadah dalam agama, peraturanperaturan dalam masyarakat, dan filsafat (Sumardjo, 1984: 2).

Sastra Jawa Kuno atau sering kali dieja sebagai Sastra Jawa Kuno meliputi sastra yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuno pada periode kurang-lebih ditulis dari abad ke-9 sampai abad ke-14 Masehi, dimulai dengan Prasasti Sukabumi. Karya sastra ini ditulis baik dalam bentuk prosa (gancaran) maupun puisi (kakawin). Karya-karya ini mencakup genre seperti sajak wiracarita, undang-undang hukum, kronik (babad), dan kitab-kitab keagamaan. Sastra Jawa Kuno diwariskan dalam bentuk manuskrip dan prasasti. Manuskrip-manuskrip yang memuat teks Jawa Kuno jumlahnya sampai ribuan sementara prasasti-prasasti ada puluhan dan bahkan ratusan jumlahnya. Meski di sini harus diberi catatan bahwa tidak semua prasasti memuat teks kesusastraan.

Karya-karya sastra Jawa penting yang ditulis pada periode ini termasuk Candakarana, Kakawin Ramayana dan terjemahan Mahabharata dalam bahasa Jawa Kuno.

 

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana pertalian antara Sastra Islam dan Sastra Jawa?

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Sastra Islam

Meskipun demikian, pada intinya pengertian sastra Islam itu merunut pada nilai-nilai keislaman. Misalnya, menurut Ibrahim, yang termasuk karya sastra Islam adalah (1) karya yang menampilkan kehidupan manusia yang mengingatkan kita sebagai hamba dan khalifah Allah, (2) cerita yang sesuai dengan pandangan Islam, (3) karya yang menonjolkan nilai-nilai baik, mulia, dan aspek-aspek kebaikan yang sesuai dengan pandangan Islam, sedangkan keburukan, kehinaan, dan aspekaspek kemungkaran hanya digambarkan sebagai pembanding dan akhirnya kemungkaran itu dapat dikalahkan oleh kebaikan, (4) menyampaikan kebenaran sesuai dengan pandangan Islam, (5) mengandung unsur estetika seni, dan (6) menggunakan gaya bahasa yang indah.

Menurut Rosa (2003:8), salah satu ciri sastra Islam, baik puisi, cerpen maupun novel adalah tidak akan melalaikan pembacanya dari dzikrullah. Ketika membaca, pembaca akan diingatkan, baik pada ayat-ayat kauliyah maupun kauniyah-Nya. Ada unsur amar makruf nahyi mungkar—dengan tanpa menggurui tentunya—ibrah dan hikmah. Ia kerap bercerita tentang cinta, baik cinta kepada Allah, Rasul-Nya, perjuangan di jalanNya, maupun cinta pada kaum muslimin dan semua makhluk Allah: semua manusia, hewan, tumbuhan, alam raya, dan sebagainya. Ciri lainnya, karya sastra Islam tidak akan pernah mendeskripsikan hubungan badani, kemolekan tubuh perempuan atau betapa “indahnya” kemaksiatan secara vulgar dengan 244 mengatasnamakan seni atau aliran sastra apa pun. Ia juga tidak membawa pembaca pada tasyabuh bil kuffar, apalagi jenjang kemusyrikan. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa sedikitnya ada tiga syarat umum sebuah karya sastra dapat dikatakan sebagai sastra Islam. Pertama, penulisnya adalah seorang muslim yang sadar dan bertanggung jawab akan kesucian agama. Kedua, karya kreatif yang dihasilkan sejalan dengan ajaran Islam dan tidak bertentangan dengan syariah. Ketiga, karya itu mempunyai daya tarik universal dan dapat bermanfaat bagi masyarakat mana pun mengingat Islam adalah agama fitrah.[1]

 

 

 

B.     Sastra Jawa

Dalam perkembangan sastra Jawa, terdapat beberapa penggolongan hasil karya sastra, diantaranya berdasar kaitannya dengan kurun waktu, yakni sastra Jawa Kuno, Jawa baru dan Jawa modern. Ada pula pembabakan berdasar pada kerajaan, yakni sastra zaman Hindu, zaman Majapahit, zaman Islam, zaman Mataram dan sesudah Mataram. Sedangkan Pigeaud memperinci periodisasi sastra jawa berdasar pengaruh kebudayaan, yaitu:

1Periode pertama adalah pra-Islam (900-1500M), dimana manuskrip-manuskrip Jawa kuno sebagian besar ditulis di Jawa Timur. Periode ini sangat dipengaruhi oleh kebudayaan India. Dari perkembangan kebudayaan Jawa ditemukan bukti bahwa kebudayaan Hindu sangat berperan dalam pembentukan sastra Jawa Kuno, mulai dari pengenalan huruf sampai pada sastra keagamaan, seperti Mahabrata dan Ramayana yang mengandung ajaran moral.

2. Periode kedua adalah periode Jawa-Bali. Pada periode ini sastra Jawa berada dalam lingkup pengaruh raja Hindu di Bali. Sastra jawa dipelihara dan dilestarikan di Bali oleh orang-orang Hindu Majapahit yang lari ke Bali karena tidak mau memeluk Islam.

3. Periode ketiga adalah era sastra pesisiran. Daerah-daerah pesisir utara Jawa yang menjadi pusat perdagangan seperti Surabaya, Gresik, Jepara, Demak, Cirebon dan Banten merupakan pusat munculnya sastra Jawa pesisiran.

Periodesasi sastra juga telah dikenalkan pada era walisongo. Walisongo sebagai pelopor dakwah dengan seni dan sastra budaya di Jawa. Walisongo adalah sejumlah guru besar atau ulama' yang berjumlah sembilan yang diberi tugas untuk dakwah islamiyah di wilayah tertentu. Walisongo mencapai sukses besar dalam syiar Islam di tanah Jawa ini. Selain ahli dalam bidang keagamaan, Walisongo juga memasuki ranah-ranah seni dan budaya masyarakat. Mereka gemar dengan kebudayaan dan sastra daerah. Walisongo menciptakan syair-syair atau puisi dan tembang-tembang atau lagu dengan memasukkan ajaran Islam di dalamnya dalam berdakwah.[2]

                                           

C.    Pertalian  Sastra Islam Dan Sastra Jawa

a.       Tersebarnya agama Islam ke Nusantara maka berpengaruh terhadap bidang aksara atau tulisan, yaitu masyarakat mulai mengenal tulisan Arab, bahkan berkembang tulisan Arab Melayu atau biasanya dikenal dengan istilah Arab gundul yaitu tulisan Arab yang dipakai untuk menuliskan bahasa Melayu tetapi tidak menggunakan tanda a, i, u seperti lazimnya tulisan Arab. Di samping itu juga, huruf Arab berkembang menjadi seni kaligrafi yang banyak digunakan sebagai motif hiasan ataupun ukiran.

 

            Gambar ilustrasi kaidah penulisan huruf jawa pegon

Sedangkan dalam seni sastra yang berkembang pada awal periode Islam adalah seni sastra yang berasal dari perpaduan sastra pengaruh Hindu – Budha dan sastra Islam yang banyak mendapat pengaruh Persia. Dengan demikian wujud akulturasi dalam seni sastra tersebut terlihat dari tulisan/ aksara yang dipergunakan yaitu menggunakan huruf Arab Melayu (Arab Gundul) dan isi ceritanya juga ada yang mengambil hasil sastra yang berkembang pada jaman Hindu. Adapun beberapa bentuk seni sastra yang berkembang disaat itu adalah:

a. Hikayat yaitu cerita atau dongeng yang berpangkal dari peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk gancaran (karangan bebas atau prosa). Contoh hikayat yang terkenal yaitu Hikayat 1001 Malam, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Pandawa Lima (Hindu), Hikayat Sri Rama (Hindu).

b. Babad adalah kisah rekaan pujangga keraton sering dianggap sebagai peristiwa sejarah contohnya Babad Tanah Jawi (Jawa Kuno), Babad Cirebon.

c. Suluk adalah kitab yang membentangkan soal-soal tasawwuf contohnya Suluk Sukarsa, Suluk Wijil, Suluk Malang Sumirang dan sebagainya.

d. Primbon adalah hasil sastra yang sangat dekat dengan Suluk karena berbentuk kitab yang berisi ramalan-ramalan, keajaiban dan penentuan hari baik/buruk.

Bentuk seni sastra tersebut di atas pada umumnya banyak berkembang di Melayu dan Pulau Jawa yang masih memegang kuat tradisi jawa. Berikut di bawah ini beberapa contoh buku tentang bentuk seni sastra di atas: Gambar ilustrasi buku karya sastra jawa yang masih banyak diminati warga.[3]

b.      Karya sastra pada masa walisongo

  1. Sunan Gunung Jati/Syarif Hidayatullah Karya sastra: kerajaan Banten
  2. Syaikh Maulana Malik Ibrohim/ Syaikh Maulana Malik Ibrohim/ Syaikh Maghribi/ sunan Gresik
  3. Sunan Muria/ Raden Umar Said/Raden Prawoto bin Sunan Kalijaga Karya sastra: Tembang dakwah Sinom dan Kinanti
  4. Sunan Ampel atau Raden Rohmat. ajaran beliu yang terkenal (karya sastra) adalah melarang “MA LIMA” Atau “ M. lima” dan merancang Kerajaan Islam Demak
  5. Sunan Kudus/Jafar Sadik/Waliyyul Ilmi Karya sastra: Cerita agama Maskumambang dan Mijil
  6. Sunan Bonang/Raden Maulana Makdum Ibrahim. Karya sastra: Gending, tembang tombo ati dan suluk 
  7. Sunan Kalijaga/Raden Mas Syahid bin Raden Sahur Karya sastra: Wayang Purwa,cerita pewayangan ,Jamus Kalisada, babat alas wonomarto, wahyu tohjali,
  8. Sunan Drajad/Raden Qosim/Syarifudin Karya sastra: Tembang Pangkur dan gamelan Singomengkok
  9. Sunan Giri/Raden Paku/Raden Ainul Yakin Karya sastra: Permainan Jelungan, gendi ferit, jor, gula anti, cublak-cublak suweng, lir ilir, Gending Asmarandana dan pucung[4]

c.    Sunan bonang dan karyanya

Sunan Bonang banyak berdakwah melalui kesenian untuk menarik penduduk Jawa agar memeluk agama Islam. Ia dikatakan sebagai penggubah suluk Wujil dan tembang Tombo Ati, yang masih sering dinyanyikan orang. Pembaharuannya pada gamelan Jawa ialah dengan memasukkan rebab dan bonang, yang sering dihubungkan dengan namanya. Universitas Leiden menyimpan sebuah karya sastra bahasa Jawa bernama Het Boek van Bonang atau Buku Bonang. Menurut G.W.J. Drewes, itu bukan karya Sunan Bonang namun mungkin saja mengandung ajarannya. Sunan Bonang diperkirakan wafat pada tahun 1525. Dalam berdakwah Raden Makdum Ibrahim ini sering mempergunakan kesenian rakyat untuk menarik simpati mereka, yaitu berupa seperangkat gamelan yang disebut bonang. Bonang adalah sejenis kuningan yang ditonjolkan dibagian tengahnya. Bila benjolan itu dipukul dengan kayu lunak maka timbullah suaranya yang merdu ditelinga penduduk setempat. Lebih-lebih bila Raden Makdum Ibrahim sendiri yang membunyikan alat musik itu, beliau adalah seorang Wali yang mempunyai cita rasa seni yang tinggi, sehingga beliau bunyikan pengaruhnya sangat hebat bagi para pendengarnya. Setiap Raden Makdum Ibrahim membunyikan Bonang, pasti banyak penduduk yang datang ingin mendengarkannya. Dan tidak sedikit dari mereka yang ingin belajar membunyikan Bonang sekaligus melagukan tembang-tembang ciptaan Raden Makdum Ibrahim. Begitulah siasat Raden Makdum Ibrahim yang dijalankan penuh kesabaran. Setelah rakyat berhasil direbut simpatinya tinggal mengisikan saja ajaran Islam kepada mereka.

Tembang-tembang yang diajarkan Raden Makdum Ibrahim adalah tembang yang berisikan ajaran agama Islam. Sehingga tanpa terasa penduduk sudah mempelajari agama Islam dengan senang hati, bukan dengan paksaan. Di antara tembang yang terkenal ialah Tombo Ati. Hingga sekarang lagu ini sering dilantunkan para santri ketika hendak shalat jama’ah, baik di pedesaan maupun di pesantren.[5]

  

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Kesimpulan diatas sekaligus menutup pembahasan makalah ini. Saran kami, sebagai mahasiswa sepatutnya kita mampu mempertahankan kesustraan Jawa yang telah berkembang seperti sekarang ini. Juga menghargai hasil karya-karya para pujangga terdahulu yang telah mampu memasukkan nilai-nilai ajaran Islam serta hal-hal yang tidak sepatutnya kita lakukan kedalam karya sastra tersebut, sehingga Islam pun mampu berkembang sedemikian rupa.[11]

            Demikian yang dapat pemakalah sampaikan, penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna. Sehingga pemakalah mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca, demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini memberikan manfaat dan menambah pengetahuan kita. Amiin.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

TAKMILAH: MENUJU TEORI SASTRA ISLAMI Takmilah: Concern to Islamic Literary Theory, Asep Supriadi,

Anasom, dkk,  2004, Merumuskan Interelasi Islam–Jawa, Yogyakarta: Gama Media.

http://e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/6845/1/STUDI%20ISLAM%20NUSANTARA.pdf

http://semuabiza.blogspot.com/2018/10/nama-nama-walisongo-dan-karya-sastra.html

https://www.academia.edu/38169046/Bab_VI_Dakwah_Islam_Masa_Wali_Songo.pdf

 



[1] TAKMILAH: MENUJU TEORI SASTRA ISLAMI Takmilah: Concern to Islamic Literary Theory, Asep Supriadi, hal.243

[2] Anasom, dkk, Merumuskan Interelasi Islam – Jawa, (Yogyakarta: Gama Media, 2004),hlm. 118.

[3] http://e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/6845/1/STUDI%20ISLAM%20NUSANTARA.pdf