BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sastra
adalalah seni yang berhubungan dengan penciptaan dan ungkapan pribadi
(ekspresi) (Sumardjo, 1984: 15). Selain itu, sastra juga merupakan salah satu
hasil karya manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Manusia hidup di dunia ini
memerlukan banyak kebutuhan. Manusia perlu makan, pakaian agar tidak
kedinginan, rumah agar tidak kehujanan dan kepanasan, perlu kedokteran agar
tidak jatuh sakit. Manusia juga perlu hiburan agar mendapat kesenangan. Manusia
perlu berpikir dan mencipta untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya itu. Ada
kebutuhan manusia yang berupa kebendaan, ada pula kebutuhan manusia yang
bersifat kerohanian seperti aturan-aturan hidup dalam hidup bersama, kesenian
untuk hiburan. Semua hasil kerja manusia untuk memenuhi kebutuhannya itu
disebut kebudayaan. Karena kebutuhan manusia begitu banyak maka
kebutuhankebutuhan tersebut digolongkan dalam beberapa kategori yaitu kebutuhan
kebendaan yang terdiri dari ilmu pengetahuan, teknologi, dan ekonomi; kebutuhan
kerohanian terdiri dari kesenian, tata cara beribadah dalam agama,
peraturanperaturan dalam masyarakat, dan filsafat (Sumardjo, 1984: 2).
Sastra Jawa Kuno atau sering kali dieja sebagai Sastra
Jawa Kuno meliputi sastra yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuno pada periode
kurang-lebih ditulis dari abad ke-9 sampai abad ke-14 Masehi, dimulai dengan
Prasasti Sukabumi. Karya sastra ini ditulis baik dalam bentuk prosa (gancaran)
maupun puisi (kakawin). Karya-karya ini mencakup genre seperti sajak
wiracarita, undang-undang hukum, kronik (babad), dan kitab-kitab keagamaan.
Sastra Jawa Kuno diwariskan dalam bentuk manuskrip dan prasasti.
Manuskrip-manuskrip yang memuat teks Jawa Kuno jumlahnya sampai ribuan
sementara prasasti-prasasti ada puluhan dan bahkan ratusan jumlahnya. Meski di
sini harus diberi catatan bahwa tidak semua prasasti memuat teks kesusastraan.
Karya-karya sastra Jawa penting yang ditulis pada periode
ini termasuk Candakarana, Kakawin Ramayana dan terjemahan Mahabharata dalam
bahasa Jawa Kuno.
B.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana pertalian antara
Sastra Islam dan Sastra Jawa?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sastra Islam
Meskipun demikian, pada intinya
pengertian sastra Islam itu merunut pada nilai-nilai keislaman. Misalnya,
menurut Ibrahim, yang termasuk karya sastra Islam adalah (1) karya yang
menampilkan kehidupan manusia yang mengingatkan kita sebagai hamba dan khalifah
Allah, (2) cerita yang sesuai dengan pandangan Islam, (3) karya yang
menonjolkan nilai-nilai baik, mulia, dan aspek-aspek kebaikan yang sesuai
dengan pandangan Islam, sedangkan keburukan, kehinaan, dan aspekaspek
kemungkaran hanya digambarkan sebagai pembanding dan akhirnya kemungkaran itu
dapat dikalahkan oleh kebaikan, (4) menyampaikan kebenaran sesuai dengan
pandangan Islam, (5) mengandung unsur estetika seni, dan (6) menggunakan gaya bahasa
yang indah.
Menurut Rosa (2003:8), salah satu ciri
sastra Islam, baik puisi, cerpen maupun novel adalah tidak akan melalaikan
pembacanya dari dzikrullah. Ketika membaca, pembaca akan diingatkan, baik pada
ayat-ayat kauliyah maupun kauniyah-Nya. Ada unsur amar makruf nahyi
mungkar—dengan tanpa menggurui tentunya—ibrah dan hikmah. Ia kerap bercerita
tentang cinta, baik cinta kepada Allah, Rasul-Nya, perjuangan di jalanNya,
maupun cinta pada kaum muslimin dan semua makhluk Allah: semua manusia, hewan,
tumbuhan, alam raya, dan sebagainya. Ciri lainnya, karya sastra Islam tidak
akan pernah mendeskripsikan hubungan badani, kemolekan tubuh perempuan atau
betapa “indahnya” kemaksiatan secara vulgar dengan 244 mengatasnamakan seni
atau aliran sastra apa pun. Ia juga tidak membawa pembaca pada tasyabuh bil
kuffar, apalagi jenjang kemusyrikan. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa
sedikitnya ada tiga syarat umum sebuah karya sastra dapat dikatakan sebagai
sastra Islam. Pertama, penulisnya adalah seorang muslim yang sadar dan
bertanggung jawab akan kesucian agama. Kedua, karya kreatif yang dihasilkan
sejalan dengan ajaran Islam dan tidak bertentangan dengan syariah. Ketiga,
karya itu mempunyai daya tarik universal dan dapat bermanfaat bagi masyarakat
mana pun mengingat Islam adalah agama fitrah.[1]
B.
Sastra Jawa
Dalam perkembangan sastra Jawa, terdapat beberapa penggolongan hasil
karya sastra, diantaranya berdasar kaitannya dengan kurun waktu, yakni sastra
Jawa Kuno, Jawa baru dan Jawa modern. Ada pula pembabakan berdasar pada
kerajaan, yakni sastra zaman Hindu, zaman Majapahit, zaman Islam, zaman Mataram
dan sesudah Mataram. Sedangkan Pigeaud memperinci periodisasi sastra jawa
berdasar pengaruh kebudayaan, yaitu:
1Periode pertama adalah pra-Islam
(900-1500M), dimana manuskrip-manuskrip Jawa kuno sebagian besar ditulis di
Jawa Timur. Periode ini sangat dipengaruhi oleh kebudayaan India. Dari
perkembangan kebudayaan Jawa ditemukan bukti bahwa kebudayaan Hindu sangat
berperan dalam pembentukan sastra Jawa Kuno, mulai dari pengenalan huruf sampai
pada sastra keagamaan, seperti Mahabrata dan Ramayana yang mengandung ajaran
moral.
2. Periode kedua adalah
periode Jawa-Bali. Pada periode ini sastra Jawa berada dalam lingkup pengaruh
raja Hindu di Bali. Sastra jawa dipelihara dan dilestarikan di Bali oleh
orang-orang Hindu Majapahit yang lari ke Bali karena tidak mau memeluk Islam.
3. Periode ketiga adalah era
sastra pesisiran. Daerah-daerah pesisir utara Jawa yang menjadi pusat
perdagangan seperti Surabaya, Gresik, Jepara, Demak, Cirebon dan Banten
merupakan pusat munculnya sastra Jawa pesisiran.
Periodesasi sastra juga telah dikenalkan pada era
walisongo. Walisongo sebagai pelopor dakwah dengan seni dan sastra budaya di
Jawa. Walisongo adalah sejumlah guru besar atau ulama' yang berjumlah sembilan
yang diberi tugas untuk dakwah islamiyah di wilayah tertentu. Walisongo
mencapai sukses besar dalam syiar Islam di tanah Jawa ini. Selain ahli dalam
bidang keagamaan, Walisongo juga memasuki ranah-ranah seni dan budaya
masyarakat. Mereka gemar dengan kebudayaan dan sastra daerah. Walisongo
menciptakan syair-syair atau puisi dan tembang-tembang atau lagu dengan
memasukkan ajaran Islam di dalamnya dalam berdakwah.[2]
C.
Pertalian Sastra Islam Dan Sastra Jawa
a. Tersebarnya agama Islam ke Nusantara maka berpengaruh
terhadap bidang aksara atau tulisan, yaitu masyarakat mulai mengenal tulisan
Arab, bahkan berkembang tulisan Arab Melayu atau biasanya dikenal dengan
istilah Arab gundul yaitu tulisan Arab yang dipakai untuk menuliskan bahasa
Melayu tetapi tidak menggunakan tanda a, i, u seperti lazimnya tulisan Arab. Di
samping itu juga, huruf Arab berkembang menjadi seni kaligrafi yang banyak
digunakan sebagai motif hiasan ataupun ukiran.
Gambar
ilustrasi kaidah penulisan huruf jawa pegon
Sedangkan
dalam seni sastra yang berkembang pada awal periode Islam adalah seni sastra
yang berasal dari perpaduan sastra pengaruh Hindu – Budha dan sastra Islam yang
banyak mendapat pengaruh Persia. Dengan demikian wujud akulturasi dalam seni
sastra tersebut terlihat dari tulisan/ aksara yang dipergunakan yaitu
menggunakan huruf Arab Melayu (Arab Gundul) dan isi ceritanya juga ada yang
mengambil hasil sastra yang berkembang pada jaman Hindu. Adapun beberapa bentuk
seni sastra yang berkembang disaat itu adalah:
a. Hikayat yaitu cerita atau
dongeng yang berpangkal dari peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat ditulis
dalam bentuk peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk
gancaran (karangan bebas atau prosa). Contoh hikayat yang terkenal yaitu
Hikayat 1001 Malam, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Pandawa Lima (Hindu), Hikayat
Sri Rama (Hindu).
b. Babad adalah kisah rekaan
pujangga keraton sering dianggap sebagai peristiwa sejarah contohnya Babad
Tanah Jawi (Jawa Kuno), Babad Cirebon.
c. Suluk adalah kitab yang
membentangkan soal-soal tasawwuf contohnya Suluk Sukarsa, Suluk Wijil, Suluk
Malang Sumirang dan sebagainya.
d. Primbon adalah hasil sastra yang
sangat dekat dengan Suluk karena berbentuk kitab yang berisi ramalan-ramalan,
keajaiban dan penentuan hari baik/buruk.
Bentuk seni sastra tersebut di atas pada umumnya
banyak berkembang di Melayu dan Pulau Jawa yang masih memegang kuat tradisi
jawa. Berikut di bawah ini beberapa contoh buku tentang bentuk seni sastra di
atas: Gambar ilustrasi buku karya sastra jawa yang masih banyak diminati warga.[3]
b.
Karya sastra pada masa walisongo
- Sunan Gunung Jati/Syarif
Hidayatullah Karya sastra: kerajaan Banten
- Syaikh Maulana Malik
Ibrohim/ Syaikh Maulana Malik Ibrohim/ Syaikh Maghribi/ sunan Gresik
- Sunan Muria/ Raden Umar
Said/Raden Prawoto bin Sunan Kalijaga Karya sastra: Tembang dakwah Sinom
dan Kinanti
- Sunan Ampel atau Raden Rohmat.
ajaran beliu yang terkenal (karya sastra) adalah melarang “MA LIMA” Atau “
M. lima” dan merancang Kerajaan Islam Demak
- Sunan Kudus/Jafar
Sadik/Waliyyul Ilmi Karya sastra: Cerita agama Maskumambang dan Mijil
- Sunan Bonang/Raden Maulana
Makdum Ibrahim. Karya sastra: Gending, tembang tombo ati dan suluk
- Sunan Kalijaga/Raden Mas
Syahid bin Raden Sahur Karya sastra: Wayang Purwa,cerita pewayangan ,Jamus
Kalisada, babat alas wonomarto, wahyu tohjali,
- Sunan Drajad/Raden
Qosim/Syarifudin Karya sastra: Tembang Pangkur dan gamelan Singomengkok
- Sunan Giri/Raden Paku/Raden
Ainul Yakin Karya sastra: Permainan Jelungan, gendi ferit, jor, gula anti,
cublak-cublak suweng, lir ilir, Gending Asmarandana dan pucung[4]
c.
Sunan bonang
dan karyanya
Sunan Bonang banyak berdakwah
melalui kesenian untuk menarik penduduk Jawa agar memeluk agama Islam. Ia
dikatakan sebagai penggubah suluk Wujil dan tembang Tombo Ati, yang masih
sering dinyanyikan orang. Pembaharuannya pada gamelan Jawa ialah dengan
memasukkan rebab dan bonang, yang sering dihubungkan dengan namanya.
Universitas Leiden menyimpan sebuah karya sastra bahasa Jawa bernama Het Boek
van Bonang atau Buku Bonang. Menurut G.W.J. Drewes, itu bukan karya Sunan
Bonang namun mungkin saja mengandung ajarannya. Sunan Bonang diperkirakan wafat
pada tahun 1525. Dalam berdakwah Raden Makdum Ibrahim ini sering mempergunakan
kesenian rakyat untuk menarik simpati mereka, yaitu berupa seperangkat gamelan
yang disebut bonang. Bonang adalah sejenis kuningan yang ditonjolkan dibagian
tengahnya. Bila benjolan itu dipukul dengan kayu lunak maka timbullah suaranya
yang merdu ditelinga penduduk setempat. Lebih-lebih bila Raden Makdum Ibrahim
sendiri yang membunyikan alat musik itu, beliau adalah seorang Wali yang
mempunyai cita rasa seni yang tinggi, sehingga beliau bunyikan pengaruhnya
sangat hebat bagi para pendengarnya. Setiap Raden Makdum Ibrahim membunyikan
Bonang, pasti banyak penduduk yang datang ingin mendengarkannya. Dan tidak
sedikit dari mereka yang ingin belajar membunyikan Bonang sekaligus melagukan
tembang-tembang ciptaan Raden Makdum Ibrahim. Begitulah siasat Raden Makdum
Ibrahim yang dijalankan penuh kesabaran. Setelah rakyat berhasil direbut
simpatinya tinggal mengisikan saja ajaran Islam kepada mereka.
Tembang-tembang yang diajarkan
Raden Makdum Ibrahim adalah tembang yang berisikan ajaran agama Islam. Sehingga
tanpa terasa penduduk sudah mempelajari agama Islam dengan senang hati, bukan
dengan paksaan. Di antara tembang yang terkenal ialah Tombo Ati. Hingga
sekarang lagu ini sering dilantunkan para santri ketika hendak shalat jama’ah,
baik di pedesaan maupun di pesantren.[5]
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Kesimpulan diatas sekaligus
menutup pembahasan makalah ini. Saran kami, sebagai mahasiswa sepatutnya kita mampu
mempertahankan kesustraan Jawa yang telah berkembang seperti sekarang ini. Juga
menghargai hasil karya-karya para pujangga terdahulu yang telah mampu
memasukkan nilai-nilai ajaran Islam serta hal-hal yang tidak sepatutnya kita
lakukan kedalam karya sastra tersebut, sehingga Islam pun mampu berkembang
sedemikian rupa.[11]
Demikian
yang dapat pemakalah sampaikan, penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari
kata sempurna. Sehingga pemakalah mengharap kritik dan saran yang
bersifat membangun dari para pembaca, demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan manfaat dan menambah pengetahuan kita. Amiin.
DAFTAR
PUSTAKA
TAKMILAH:
MENUJU TEORI SASTRA ISLAMI Takmilah: Concern to Islamic Literary Theory, Asep Supriadi,
Anasom, dkk, 2004, Merumuskan Interelasi
Islam–Jawa, Yogyakarta: Gama Media.
http://e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/6845/1/STUDI%20ISLAM%20NUSANTARA.pdf
http://semuabiza.blogspot.com/2018/10/nama-nama-walisongo-dan-karya-sastra.html
https://www.academia.edu/38169046/Bab_VI_Dakwah_Islam_Masa_Wali_Songo.pdf