24 September 2020

MAKALAH INTERELASI ISLAM DAN BUDAYA JAWA DALAM BIDANG PENDIDIKAN

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Islam sebagai agama, dalam berbagai hal, memiliki ajaran-ajaran yang fleksibel,

terutama menyangkut masalah sosial dan budaya. Al-Quran dan hadist-hadist Nabi cukup banyak memuat pernyataan (firman Tuhan dan ucapan Nabi Muhammad) yang mengajak umatnya untuk berpikir. Maka dari itu, dalam ajaran Islam dikenal dengan metode ijtihad, yaitu langkah dalam menafsirkan dalil-dalil yang terdapat dalam al-Quran dan hadis yang kedudukan hukumnya belum jelas, secara musyawarah. Dengan demikian, setiap ulama memungkinkan untuk mengambil tafsiran yang berbeda-beda. Apalagi sejarah perkembangan Islam membuktikan adanya empat mahzab yang berbeda, Maliki, Hanafi, Hambali, Syafei. Masing-masing mahzab memiliki tolak ukur yang berbeda dalam menafsirkan ayat-ayat suci. Dan setelah Islam bersentuhan dengan budaya yang non-Arab, maka ajaran-ajarannya sedikitbanyaknya mengalami pergeseran, bahkan ada yang melenceng jauh dari akidah dan syariah Islam yang memang bersifat absolut dan mutlak. Masyarakat Indonesia sendiri mayoritas menganut mahzab Syafei.

Sesungguhnya mempelajari Sejarah Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia sangatlah penting, terutama bagi pelajar sebagai generasi penerus bangsa. Dengan mempelajari sejarah perkembangan pendidikan islam kita dapat mengetahui faktor penyebab kemajuan islam juga faktor penyebab kemundurannya karena salah dalam cara didikannya ataupun sistemnya. Pendidikan islam adalah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dan bertujuan akhlak yang mulia dengan tidak melupakan kemajuan dunia dan ilmu pengeiahuan yang berguna untuk perseorangan dan kemasyarakatan.

 

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana awal-awal masuknya Islam di Indonesia dalam bidang pendidikan?

2.      Apa saja  Pengaruh  Zaman Kerajaan Islam dalam Bidang Pendidikan?

3.      Apakah ada budaya baru yang dilahirkan?

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Awal Masuknya Islam Di Indonesia Dalam Bidang Pendidikan

Pada awal-awal masuknya Islam di Indonesia, mulanya pendidikan agama dilaksanakan di Masjid, Langgar, atau Surau. Pelajaran yang diberikan adalah membaca Al-Qur’an, tata cara peribadatan, akhlak, dan keimanan. Seiring berjalannya waktu, kemudian muncul pesantren yang merupakan pengadopsian dari agama Hindu. Pesantren adalah sebuah asrama tradisional pendidikan Islam. Siswa tinggal bersama untuk belajar ilmu keagamaan di bawah bimbingan guru atau sering dikenal dengan sebutan Kiai. Siswa diajarkan mendalami ilmu agama Islam sesuai dengan syariat-syariat agama Islam. Pesantren dalam bahasa Jawa memiliki makna seseorang yang mengikuti aktivitas gurunya. Para ulama, termasuk wali, berperan besar terhadap penyebaran Islam. Mereka pada mulanya mendirikan pesantren-pesantren di sekitar kota pelabuhan (sebagai tempat transit kapal-kapal dagang) guna menyebarkan dakwah Islamnya. Istilah “pesantren” berasal dari ucapan “pesantrian”, yakni tempat para santri menimba ilmu agama. Di sinilah calon-calon santri yang tadinya non muslim dididik oleh guru-guru mereka untuk membaca Al-Quran, baca tulis huruf Arab, dan segenap aspek Islam lainnya.

 Materi-materi yang diajarkannya sebagai besar meliputi hukum (syariat) Islam Para Wali di Jawa, contohnya, sebelum berkumpul di Masjid Demak, terlebih dahulu membuka pondok-pondok pesantren di daerah lain. Sunan Ampel menjadi guru spiritual di Ngampel Denta di Giri; Sunan Gresik memiliki pondok pesantren di Gresik; Sunan Kalijaga mengasuh pesantren di Kadilangu, dekat Demak. Sistem pendidikan Islam tradisonal ini dalam arti belum tersentuh sistem pendidikan ala Barat berlangsung hingga abad ke-18. Setelah pendidikan formal Barat diperkenalkan, materi materi yang diajarkan dipesantren bertambah. Malah banyak di antaranya pesantren tersebut yang menjadi pelopor perlawan terhadap pemerintah kolonial Belanda. Atas nama Tuhan dan semangat jihad melawan kaum penjajah yang kebetulan berbeda keyakinan, pondok-pondok pesantren merupakan pusat perlawanan. Meskipun semangat juang mereka belum didasari semangat nasionalisme dan hanya bersifat kedaerahan, kaum santri yang didukung oleh rakyat setempat dan segelintir kaum bangsawan begitu gigih dan berani mati.

Contoh-contoh perlawanan yang bersifat sosial dan lokal, di antaranya, perlawanan rakyat Cilegon, Banten, yang dipimpin oleh Tugabus Ismail pada tahun 1818.[1] Pendidikan islam dalam arti yang luas adalah proses bimbingan (pemimpin, tuntunan dan asuhan) oleh subjek didik terhadap perkembangan jiwa (pikiran, perasaan, kemauan, intuisi,) dan raga objek didik dengan bahan-bahan materi tertentu pada jangka waktu tertentu dan dengan metode tertentu dan dengan alat perlengkapan yang ada kearah terciptanya pribadi tertentu. Pendidikan islam dalam arti khusus adalah pendidikan yang materi didiknya adalah al-islam akidah, syariah.[2] Pendidikan secara kultural pada umumnya berada dalarn lingkup peran, fungsi dan tujuan yang tidak berbeda. Semuanya hidup dalam upaya yang bemaksud mengang£at dan menegakkan martabai manusia melalui iransmisi yang dimilikinya, terutama dalarn bentuk iransfer ol’know1edge dan transi’er of values Dalam konteks ini secara jelas juga menjadi sasaran jangkauan pendidikan islam, merupakan bagian dari sistern pendidikan nasional, sekalipun dalam kehidupan bangsa Indonesia tampak sekali eksisiensinya secara kultural. Tapi secara kuat ia telah berusaha untuk mengambil peran yang kompetitif’ dalam selmig sosiologis bangsa, walaupun ieiap saja tidak mampu menyamai pendidikan umum yang ada dengan otonomi dan dukongan yang lebih luas, dalam mewujudkan ıujuan pendidikan secara nyaıa.

Sebagai pendidikan yang berlebel agama, maka pendidikan islam memiliki transmisi spritual yang lebih nyala dalam proses pengajarannya dibanding dengan pendidikan umum. Kejelasannya terletak pada kemıginan pendidik islam nutuk mengembangkan keseluruhan aspek dalam diri anak didik secara berimbang, baik aspek inıeleklual, imajinasi dan keilmiahan, kultural serta kepribadian. Karena itulah pendidikan islam memiliki beban yang multi paradigma, sebab berusaha memadukan unsur profane dan imanen, dimana dengan pemaduan ini, akan membuka kemungkinan terwujudnya tujuan inti pendidikan islam yaitu melahirkan manusia-manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan, yang satu sama lainnya saling menunjang.

B.     Pengaruh Pendidikan Pada Zaman Kerajaan

Samudera Pasai merupakan tempat studi Islam yang paling tua yang dilakiikan oleh sebuah kerajaan. Sementara itu, unik di luar kerajaan halaqah  ajaran  islarn di  duga sudah koloni-koloni tempat pedagang islam berdaiangan di pelabuhan-pelabuh . Dari halaqah semacam itu    nanti berkembang menjadi lembaga pendidikan. Setelah kerajaan Samudera Pasai mundiir dalam bidang politik, tradisi pendidikan agama islam terus berlanjut. Samudera Pasai ierus berfiingsi sebagai pusai studi islam di Asia Tenggara. Lalu kemudian muncul Kerajaan Malaka sebagai pusat polilik yang juga berkembang menjadi pusat pendidikan islain. Kerajaan Malaka giat melaksanakan pengajian dan pendidikan Islam. Selain sebagai tempat pemerintahan istana juga berfungsi sebagai mudzakarah masalah-maslah ilmu pengetahuan dan sebagai perpustakaan dan juga berfungsi sebagai pusat-pusat penerjemahan dan penyalinan kitab-kitab terutama kitab-kitab keislaman. Mata pelajaran yang diberikan di lembaga-lembaga pendidikan islam dibagi menjadi dua tingkatan Tingkat dasar terdiri atas pelajaran membaca, menulis bahasa arab, pengajian Alquran, dan ibadah peraktis. Tingkat yang lebih tinggi dengan maieri-materi ilmu liqih, tasawuf.

Di kerajaan Aceh Darussalam, Sulatan Isk dar Muda juga sangat memperhatikan pengembangan agama dengan mendirikan mesjid-mesjid seperti Mesjid Bait al-Rahman di Banda Aceh dan pusat-pusaı pendidikan Islam yang di sebuı buçuk. Di Aceh ıerdapat ulama-ulama besar yang ternama yang telafi berjasa mengembangkan lembaga pendidikan seperti d uh ini menjadi semacam perguruan tinggi. Nuruddin al-Raniri dan Abd. Raui’ Singkel adalah ulama-ulama yang mengajar di lembaga pendidikan ini. Para penuntul ilmu yang daıang dari luar Aceh belajar mereka seperti Syekh Burhanuddin yang berasal dari ulakan- Minangkabau. Setelah taınat ia pulang. dan mendirikan lembaga pendidikan islam yang di sebuı surnu. Kemajuan pesat lembaga pendidikan islam di Aceh ini menyebabkan orang menjulukinya Serambi Makkah. Murid dari kerajaan lain belajar kepada gurunya masing-masing, kemudian meningkat belajar lebih ıinggi di Aceh, kemudian seıelah itu belajar ke Mekkah. Sistem pengajaran bagi umat islam sebagaimana di negeri-negeri muslim, adalah pengajian Alquran. Pada ıahap awal  lafal bacaan Bahasa Arab (huruf -’ huruf hijaiyah), seıelah itu menghapal surat-surat  pendek (jus’Amma beserta ıajwidnya yang diperlukan untuk shalal. Pelajaran lebih lanjuı berkenaan dengan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan (fıqih) dan tasawuf. Pendidikan Islam mengal kemajuan pesat seıelah para ulama mengarang bııku-bııku pelajaran keislaman bebahasa Melayu, seperıi karya-karya Hamzah Fansuri, Nıırurddin al-Raniri, Abd. Raui’ Sing£el di Aceh.

 Di Minangkabau lembaga pendidikan disebut surau. Surau sebelum islam datang merupakan tempat menginap anak-anak bujang, lalu Syaikh Burhanuddin merubah fungsi suruu menjadi tempat pendidikan Islam. Suarau inilah cikal bakal lembaga pendidikan Islam yang lebih ieraiur di masa berikutnya. Lembaga Pendidikan Islam di Jawa dikenal dengan nama pesanıren. Menıırut sumber lokal pesanıren pertama di pulau Jawa adalah Pesantren Giri de Pesantren Gresik di Jawa Timur. Pesanıren Gresik didirikan oleh Maulana Malik Ibrahim yang mendidik Mubaligh-mubaligh yang nantinya menyiarkan agama islam ke selurııh Nusantara. sedangkan Pesantren Giri didirikan oleh Sunan Giri. Terdapat pula pendidikan agama di Ampel-Surabaya-Jawa Timur, dibangun oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel Denıa). Berawal dari Giri dan Ampel berikuınya semakin banyak pusaı-pusat pendidikan islam di Jawa seperti Tembayaı, Prawoıo (Demak), dan Gunung Jati Cirebon.[3]

 

C.    Dari Shuffah ke Pondok Pesantren

Sejak rasulullah wafat kelanjutan dakwah berada di tangan para sahabatnya, dilanjutkan kepada generasi tabi’in (pengikut para sahabat), dilanjutkan terus oleh para tabi’it tabi’it dan seterusnya tanggung jawab kelanjutan dakwah terus bergulir ditangan para ulama dari generasi ke generasi, hingga agama islam meluas keseluruh penjuru dunia yang dibawa dan disiarkan oleh para ulama. Jika melihat fungsi shuffah sebagaimana gambarannya, maka besar kemungkinan bahwa sebenarnya pondok pesantren sebagaimana yang berkembang di Indonesia merupakan bentuk penyempurnaan model shuffah yang pernah berkembang di masa Madinah. Penyempurnaan penyempurnaan karena shuffah dimasa nabi lebih berfungsi sebagai penampung sosial dari pada pendidikan. Pondok pesantren yang berkembang di Indonesia lebih sempurna karena memang lembaga ini sejak mula didirikan dengan tujuan dan fungsi pendidikan.

Elemen-elemen dasarnya antara shuffah dengan pondok pesantren juga mirip yakni masjid, gedung (shuffah), santri, kiai, kajian kitab-kitab klasik (pengajaran utama Al-Qur’an dan Hadis). Model shuffah ini pada periode sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in belum diketahui apakah dilanjutkan atau tidak. Tetapi pada masa kekhaliffahan abbasiyah muncul dan berkembang bentuk masjid Khan dan Zawiyah dan di Zaman Aceh menjadi  Dayah, yang memiliki elemen-elemen dasar yang mirip dengan pondok pesantren. Maka bisa jadi shuffah dimasa nabi itulah yang merupakan cikal bakal model lembaga pendidikan pondok pesantren yang berkembang di Indonesia.[4]

 

 

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Pendidikan islam dalam arti yang luas adalah proses bimbingan (pemimpin, tuntunan dan asuhan) oleh subjek didik terhadap perkembangan jiwa (pikiran, perasaan, kemauan, intuisi,) dan raga objek didik dengan bahan-bahan materi tertentu pada jangka waktu tertentu dan dengan metode tertentu dan dengan alat perlengkapan yang ada kearah terciptanya pribadi tertentu. Pendidikan islam dalam arti khusus adalah pendidikan yang materi didiknya adalah al-islam akidah, syariah. Para ulama, termasuk wali, berperan besar terhadap penyebaran Islam. Mereka pada mulanya mendirikan pesantren-pesantren di sekitar kota pelabuhan (sebagai tempat transit kapal-kapal dagang) guna menyebarkan dakwah Islamnya. Istilah “pesantren” berasal dari ucapan “pesantrian”, yakni tempat para santri menimba ilmu agama. Di sinilah calon-calon santri yang tadinya non muslim dididik oleh guru-guru mereka untuk membaca Al-Quran, baca tulis huruf Arab, dan segenap aspek Islam lainnya. Materi-materi yang diajarkannya sebagai besar meliputi hukum (syariat) Islam Para Wali di Jawa. pondok pesantren sebagaimana yang berkembang di Indonesia merupakan bentuk penyempurnaan model shuffah yang pernah berkembang di masa Madinah. Penyempurnaan penyempurnaan karena shuffah dimasa nabi lebih berfungsi sebagai penampung sosial dari pada pendidikan. Pondok pesantren yang berkembang di Indonesia lebih sempurna karena memang lembaga ini sejak mula didirikan dengan tujuan dan fungsi pendidikan.

Elemen-elemen dasarnya antara shuffah dengan pondok pesantren juga mirip yakni masjid, gedung (shuffah), santri, kiai, kajian kitab-kitab klasik (pengajaran utama Al-Qur’an dan Hadis). Model shuffah ini pada periode sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in belum diketahui apakah dilanjutkan atau tidak. Tetapi pada masa kekhaliffahan abbasiyah muncul dan berkembang bentuk masjid Khan dan Zawiyah dan di Zaman Aceh menjadi  Dayah, yang memiliki elemen-elemen dasar yang mirip dengan pondok pesantren. Maka bisa jadi shuffah dimasa nabi itulah yang merupakan cikal bakal model lembaga pendidikan pondok pesantren yang berkembang di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Suwito, T. 2009. Sejarah : Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) Kelas XI. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

 Saifudin,Endang.2004. wawasan islam: pokok-pokok tentang paradigm dan system islam. Bandung: Gema Insani.

Mahmud, Yunus.1957. Pendidikan islam di Indonesia. Jakarta: Muliara.

Anasom, 2015. Interelasi Islam dan Budaya Jawa. Semarang: CV. Karya Abadi Jaya



[1] Suwito, T. Sejarah : Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) Kelas XI.(Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional,2009) hlm 368.

[2] Endang Saifudin, wawasan islam: pokok-pokok tentang paradigm dan system islam(Bandung, 2004) hlm 150

[3] Yunus, Mahmud. Pendidikan islam di Indonesia.( Jakarta: Muliara, 1957)

 

[4] Anasom, Interelasi Islam dan Budaya Jawa (Semarang: CV. Karya Abadi Jaya, 2015) hlm 123-125