BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Islam sebagai agama, dalam berbagai hal, memiliki ajaran-ajaran yang fleksibel,
terutama menyangkut masalah sosial dan budaya. Al-Quran dan hadist-hadist Nabi cukup banyak memuat pernyataan (firman Tuhan dan ucapan Nabi Muhammad) yang mengajak umatnya untuk berpikir. Maka dari itu, dalam ajaran Islam dikenal dengan metode ijtihad, yaitu langkah dalam menafsirkan dalil-dalil yang terdapat dalam al-Quran dan hadis yang kedudukan hukumnya belum jelas, secara musyawarah. Dengan demikian, setiap ulama memungkinkan untuk mengambil tafsiran yang berbeda-beda. Apalagi sejarah perkembangan Islam membuktikan adanya empat mahzab yang berbeda, Maliki, Hanafi, Hambali, Syafei. Masing-masing mahzab memiliki tolak ukur yang berbeda dalam menafsirkan ayat-ayat suci. Dan setelah Islam bersentuhan dengan budaya yang non-Arab, maka ajaran-ajarannya sedikitbanyaknya mengalami pergeseran, bahkan ada yang melenceng jauh dari akidah dan syariah Islam yang memang bersifat absolut dan mutlak. Masyarakat Indonesia sendiri mayoritas menganut mahzab Syafei.Sesungguhnya
mempelajari Sejarah Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia sangatlah penting, terutama bagi pelajar sebagai generasi
penerus bangsa. Dengan mempelajari
sejarah perkembangan pendidikan islam kita dapat mengetahui faktor
penyebab kemajuan islam juga faktor penyebab kemundurannya
karena salah dalam cara didikannya ataupun sistemnya. Pendidikan islam adalah
berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dan bertujuan akhlak yang mulia dengan
tidak melupakan kemajuan dunia dan ilmu pengeiahuan yang berguna untuk
perseorangan dan kemasyarakatan.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana awal-awal masuknya Islam di Indonesia dalam bidang
pendidikan?
2.
Apa saja Pengaruh Zaman Kerajaan Islam dalam Bidang Pendidikan?
3.
Apakah ada budaya baru yang dilahirkan?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Awal Masuknya Islam Di Indonesia Dalam Bidang Pendidikan
Pada awal-awal
masuknya Islam di Indonesia, mulanya pendidikan agama dilaksanakan di Masjid,
Langgar, atau Surau. Pelajaran yang diberikan adalah membaca Al-Qur’an, tata
cara peribadatan, akhlak, dan keimanan. Seiring berjalannya waktu, kemudian
muncul pesantren yang merupakan pengadopsian dari agama Hindu. Pesantren adalah
sebuah asrama tradisional pendidikan Islam. Siswa tinggal bersama untuk belajar
ilmu keagamaan di bawah bimbingan guru atau sering dikenal dengan sebutan Kiai.
Siswa diajarkan mendalami ilmu agama Islam sesuai dengan syariat-syariat agama
Islam. Pesantren dalam bahasa Jawa memiliki makna seseorang yang mengikuti
aktivitas gurunya. Para ulama, termasuk wali, berperan besar terhadap
penyebaran Islam. Mereka pada mulanya mendirikan pesantren-pesantren di sekitar
kota pelabuhan (sebagai tempat transit kapal-kapal dagang) guna menyebarkan
dakwah Islamnya. Istilah “pesantren” berasal dari ucapan “pesantrian”, yakni
tempat para santri menimba ilmu agama. Di sinilah calon-calon santri yang
tadinya non muslim dididik oleh guru-guru mereka untuk membaca Al-Quran, baca
tulis huruf Arab, dan segenap aspek Islam lainnya.
Materi-materi yang diajarkannya sebagai besar
meliputi hukum (syariat) Islam Para Wali di Jawa, contohnya, sebelum berkumpul
di Masjid Demak, terlebih dahulu membuka pondok-pondok pesantren di daerah
lain. Sunan Ampel menjadi guru spiritual di Ngampel Denta di Giri; Sunan Gresik
memiliki pondok pesantren di Gresik; Sunan Kalijaga mengasuh pesantren di
Kadilangu, dekat Demak. Sistem pendidikan Islam tradisonal ini dalam arti belum
tersentuh sistem pendidikan ala Barat berlangsung hingga abad ke-18. Setelah
pendidikan formal Barat diperkenalkan, materi materi yang diajarkan dipesantren
bertambah. Malah banyak di antaranya pesantren tersebut yang menjadi pelopor
perlawan terhadap pemerintah kolonial Belanda. Atas nama Tuhan dan semangat
jihad melawan kaum penjajah yang kebetulan berbeda keyakinan, pondok-pondok
pesantren merupakan pusat perlawanan. Meskipun semangat juang mereka belum
didasari semangat nasionalisme dan hanya bersifat kedaerahan, kaum santri yang
didukung oleh rakyat setempat dan segelintir kaum bangsawan begitu gigih dan
berani mati.
Contoh-contoh
perlawanan yang bersifat sosial dan lokal, di antaranya, perlawanan rakyat
Cilegon, Banten, yang dipimpin oleh Tugabus Ismail pada tahun 1818.[1]
Pendidikan islam dalam arti yang luas adalah proses bimbingan (pemimpin,
tuntunan dan asuhan) oleh subjek didik terhadap perkembangan jiwa (pikiran,
perasaan, kemauan, intuisi,) dan raga objek didik dengan bahan-bahan materi
tertentu pada jangka waktu tertentu dan dengan metode tertentu dan dengan alat
perlengkapan yang ada kearah terciptanya pribadi tertentu. Pendidikan islam
dalam arti khusus adalah pendidikan yang materi didiknya adalah al-islam
akidah, syariah.[2]
Pendidikan secara kultural pada umumnya berada dalarn lingkup peran, fungsi
dan tujuan yang tidak berbeda.
Semuanya hidup dalam upaya
yang bemaksud mengang£at dan menegakkan martabai manusia melalui iransmisi yang
dimilikinya, terutama dalarn bentuk iransfer ol’know1edge dan transi’er
of values Dalam konteks ini secara jelas
juga menjadi sasaran
jangkauan pendidikan islam, merupakan bagian dari sistern pendidikan nasional, sekalipun dalam kehidupan bangsa Indonesia
tampak sekali eksisiensinya secara
kultural. Tapi secara
kuat ia telah
berusaha untuk mengambil
peran yang kompetitif’ dalam selmig sosiologis bangsa, walaupun ieiap saja
tidak mampu menyamai pendidikan umum yang
ada dengan otonomi dan dukongan yang lebih luas, dalam mewujudkan ıujuan
pendidikan secara nyaıa.
Sebagai
pendidikan yang berlebel agama, maka pendidikan
islam memiliki transmisi spritual yang lebih nyala dalam proses pengajarannya
dibanding dengan pendidikan umum. Kejelasannya
terletak pada kemıginan pendidik islam
nutuk mengembangkan keseluruhan aspek dalam diri anak didik secara
berimbang, baik aspek inıeleklual, imajinasi
dan keilmiahan, kultural serta kepribadian. Karena itulah pendidikan
islam memiliki beban yang multi paradigma, sebab berusaha memadukan unsur
profane dan imanen, dimana dengan pemaduan
ini, akan membuka kemungkinan terwujudnya tujuan inti pendidikan islam yaitu melahirkan manusia-manusia
yang beriman dan berilmu pengetahuan, yang
satu sama lainnya
saling menunjang.
B.
Pengaruh Pendidikan Pada Zaman Kerajaan
Samudera Pasai
merupakan tempat studi Islam yang paling tua yang dilakiikan oleh sebuah
kerajaan. Sementara itu, unik di luar kerajaan halaqah ajaran
islarn di duga sudah
koloni-koloni tempat pedagang islam berdaiangan di pelabuhan-pelabuh . Dari
halaqah semacam itu nanti berkembang
menjadi lembaga pendidikan. Setelah kerajaan Samudera Pasai mundiir dalam
bidang politik, tradisi pendidikan
agama islam terus berlanjut. Samudera Pasai ierus berfiingsi sebagai pusai
studi islam di Asia Tenggara. Lalu kemudian muncul Kerajaan Malaka sebagai
pusat polilik yang juga berkembang menjadi pusat pendidikan islain. Kerajaan
Malaka giat melaksanakan pengajian dan pendidikan Islam. Selain sebagai tempat
pemerintahan istana juga berfungsi sebagai mudzakarah masalah-maslah ilmu pengetahuan dan sebagai perpustakaan dan juga berfungsi sebagai pusat-pusat penerjemahan
dan penyalinan kitab-kitab terutama
kitab-kitab keislaman. Mata pelajaran yang diberikan
di lembaga-lembaga pendidikan islam dibagi menjadi
dua tingkatan Tingkat dasar terdiri atas pelajaran membaca,
menulis bahasa arab, pengajian Alquran, dan ibadah peraktis. Tingkat yang lebih tinggi dengan
maieri-materi ilmu liqih, tasawuf.
Di kerajaan Aceh Darussalam, Sulatan
Isk dar Muda juga sangat memperhatikan
pengembangan agama dengan mendirikan mesjid-mesjid seperti Mesjid Bait al-Rahman di Banda Aceh dan
pusat-pusaı pendidikan Islam yang di sebuı buçuk. Di Aceh ıerdapat
ulama-ulama besar yang ternama yang telafi
berjasa mengembangkan lembaga pendidikan seperti d uh ini menjadi semacam perguruan tinggi. Nuruddin al-Raniri dan
Abd. Raui’ Singkel adalah ulama-ulama yang mengajar di lembaga pendidikan ini.
Para penuntul ilmu yang daıang dari luar Aceh belajar mereka seperti Syekh
Burhanuddin yang berasal dari ulakan- Minangkabau. Setelah taınat ia pulang.
dan mendirikan lembaga pendidikan islam yang di sebuı surnu. Kemajuan pesat
lembaga pendidikan islam di Aceh ini
menyebabkan orang menjulukinya Serambi Makkah.
Murid dari kerajaan
lain belajar kepada gurunya masing-masing, kemudian meningkat
belajar lebih ıinggi
di Aceh, kemudian seıelah itu belajar
ke Mekkah. Sistem pengajaran bagi umat islam sebagaimana di negeri-negeri muslim,
adalah pengajian Alquran. Pada ıahap awal lafal bacaan Bahasa Arab (huruf -’ huruf hijaiyah), seıelah itu menghapal surat-surat pendek (jus’Amma beserta ıajwidnya yang diperlukan untuk shalal.
Pelajaran lebih lanjuı berkenaan dengan persoalan-persoalan yang berkaitan
dengan (fıqih) dan tasawuf. Pendidikan Islam mengal kemajuan pesat
seıelah para ulama mengarang bııku-bııku
pelajaran keislaman bebahasa Melayu, seperıi karya-karya Hamzah Fansuri,
Nıırurddin al-Raniri, Abd. Raui’ Sing£el di Aceh.
Di Minangkabau lembaga pendidikan disebut surau. Surau sebelum islam datang
merupakan tempat menginap
anak-anak bujang, lalu Syaikh Burhanuddin merubah
fungsi suruu menjadi tempat
pendidikan Islam. Suarau inilah cikal bakal lembaga pendidikan Islam yang lebih
ieraiur di masa berikutnya. Lembaga
Pendidikan Islam di Jawa dikenal dengan nama pesanıren. Menıırut
sumber lokal pesanıren pertama di pulau
Jawa adalah Pesantren
Giri de Pesantren Gresik di Jawa Timur. Pesanıren Gresik didirikan oleh Maulana Malik Ibrahim yang mendidik Mubaligh-mubaligh yang nantinya
menyiarkan agama islam
ke selurııh Nusantara. sedangkan Pesantren Giri didirikan oleh Sunan Giri. Terdapat
pula pendidikan agama di Ampel-Surabaya-Jawa Timur, dibangun oleh Raden Rahmat
(Sunan Ampel Denıa).
Berawal dari Giri dan
Ampel berikuınya semakin
banyak pusaı-pusat pendidikan islam di Jawa seperti
Tembayaı, Prawoıo (Demak),
dan Gunung Jati Cirebon.[3]
C.
Dari Shuffah ke Pondok Pesantren
Sejak
rasulullah wafat kelanjutan dakwah berada di tangan para sahabatnya, dilanjutkan
kepada generasi tabi’in (pengikut para sahabat), dilanjutkan terus oleh para
tabi’it tabi’it dan seterusnya tanggung jawab kelanjutan dakwah terus bergulir
ditangan para ulama dari generasi ke generasi, hingga agama islam meluas
keseluruh penjuru dunia yang dibawa dan disiarkan oleh para ulama. Jika melihat
fungsi shuffah sebagaimana gambarannya, maka besar kemungkinan bahwa sebenarnya
pondok pesantren sebagaimana yang berkembang di Indonesia merupakan bentuk
penyempurnaan model shuffah yang pernah berkembang di masa Madinah.
Penyempurnaan penyempurnaan karena shuffah dimasa nabi lebih berfungsi sebagai
penampung sosial dari pada pendidikan. Pondok pesantren yang berkembang di
Indonesia lebih sempurna karena memang lembaga ini sejak mula didirikan dengan
tujuan dan fungsi pendidikan.
Elemen-elemen dasarnya antara shuffah dengan pondok pesantren juga
mirip yakni masjid, gedung (shuffah), santri, kiai, kajian kitab-kitab klasik
(pengajaran utama Al-Qur’an dan Hadis). Model shuffah ini pada periode sahabat,
tabi’in dan tabi’it tabi’in belum diketahui apakah dilanjutkan atau tidak.
Tetapi pada masa kekhaliffahan abbasiyah muncul dan berkembang bentuk masjid
Khan dan Zawiyah dan di Zaman Aceh menjadi
Dayah, yang memiliki elemen-elemen dasar yang mirip dengan pondok
pesantren. Maka bisa jadi shuffah dimasa nabi itulah yang merupakan cikal bakal
model lembaga pendidikan pondok pesantren yang berkembang di Indonesia.[4]
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Pendidikan
islam dalam arti yang luas adalah proses bimbingan (pemimpin, tuntunan dan
asuhan) oleh subjek didik terhadap perkembangan jiwa (pikiran, perasaan,
kemauan, intuisi,) dan raga objek didik dengan bahan-bahan materi tertentu pada
jangka waktu tertentu dan dengan metode tertentu dan dengan alat perlengkapan
yang ada kearah terciptanya pribadi tertentu. Pendidikan islam dalam arti
khusus adalah pendidikan yang materi didiknya adalah al-islam akidah, syariah. Para
ulama, termasuk wali, berperan besar terhadap penyebaran Islam. Mereka pada
mulanya mendirikan pesantren-pesantren di sekitar kota pelabuhan (sebagai
tempat transit kapal-kapal dagang) guna menyebarkan dakwah Islamnya. Istilah
“pesantren” berasal dari ucapan “pesantrian”, yakni tempat para santri menimba
ilmu agama. Di sinilah calon-calon santri yang tadinya non muslim dididik oleh
guru-guru mereka untuk membaca Al-Quran, baca tulis huruf Arab, dan segenap
aspek Islam lainnya. Materi-materi yang diajarkannya sebagai besar meliputi
hukum (syariat) Islam Para Wali di Jawa. pondok pesantren sebagaimana yang
berkembang di Indonesia merupakan bentuk penyempurnaan model shuffah yang
pernah berkembang di masa Madinah. Penyempurnaan penyempurnaan karena shuffah
dimasa nabi lebih berfungsi sebagai penampung sosial dari pada pendidikan.
Pondok pesantren yang berkembang di Indonesia lebih sempurna karena memang
lembaga ini sejak mula didirikan dengan tujuan dan fungsi pendidikan.
Elemen-elemen dasarnya antara
shuffah dengan pondok pesantren juga mirip yakni masjid, gedung (shuffah),
santri, kiai, kajian kitab-kitab klasik (pengajaran utama Al-Qur’an dan Hadis).
Model shuffah ini pada periode sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in belum
diketahui apakah dilanjutkan atau tidak. Tetapi pada masa kekhaliffahan
abbasiyah muncul dan berkembang bentuk masjid Khan dan Zawiyah dan di Zaman
Aceh menjadi Dayah, yang memiliki
elemen-elemen dasar yang mirip dengan pondok pesantren. Maka bisa jadi shuffah
dimasa nabi itulah yang merupakan cikal bakal model lembaga pendidikan pondok
pesantren yang berkembang di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Suwito, T. 2009. Sejarah :
Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) Kelas XI. Jakarta: Pusat
Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
Saifudin,Endang.2004. wawasan islam: pokok-pokok tentang
paradigm dan system islam. Bandung: Gema Insani.
Mahmud, Yunus.1957.
Pendidikan islam di Indonesia. Jakarta: Muliara.
Anasom, 2015. Interelasi Islam dan Budaya Jawa. Semarang:
CV. Karya Abadi Jaya
[1] Suwito, T. Sejarah
: Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) Kelas XI.(Jakarta:
Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional,2009) hlm 368.
[2] Endang Saifudin, wawasan islam: pokok-pokok tentang paradigm dan
system islam(Bandung, 2004) hlm 150
[3] Yunus, Mahmud. Pendidikan islam di Indonesia.( Jakarta: Muliara, 1957)
[4] Anasom, Interelasi Islam dan Budaya Jawa (Semarang: CV.
Karya Abadi Jaya, 2015) hlm 123-125