27 September 2020

Konservasi Lingkungan Hidup Mahasiswa Pencinta Alam

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Topik Masalah

BAB II PEMBAHASAN

1. Konservasi

A. Pengertian Konservasi

B. Sejarah Konservasi di Indonesia

C. Macam Konservasi

D. Konsep Konservasi

2. Ekologi

A. Pengertian Ekologi

B. Kknsep Ekologi

C. Tingkatam Ekologi

D. Peran Ekologi dalam Kehidupan

3. Paradigma Etika Lingkungan

A. Pengertian Paradigma

B. Pengertian Etika Lingkungan

C. Teori Etika Lingkungan

4. Lingkungan Hidup

A. Pengertian Lingkungan Hidup

B. Unsur Lingkungan Hidup

C. Uapaya Pelestarian Lingkungan Hidup

5. Metodologi Penelitian

A. Pengertian Metodologi Penelitian

B. Jenis Metode Penelitian

C. Langkah dalam Metodologi Penelitian

6. AMDAL

A. Pengertian AMDAL

B. Jenis Dokumen AMDAL

C. Pihak yang Terlibat dalam AMDAL

7. Jurnalistik

A. Pengertian Jurnalistik

B. Teknik Jurnalistik

8. Advokasi

A. Pengertian Advokasi

B. Alasan Betadvokasi

C. Tujuan Advokasi

D. Langkah Beradvokasi

9. Pembibitan dan Pemupuka

Pembibitan

A. Pengertian Pembibitan

B. Tujuan Pembibitan

C. Alat dan Bahan Pembibitan

Pemupukan

A. Pengertian Pemupukan

B. Macam Pemupukan

C. Alat dan Bahan Pembuatan Pupuk Organik

10. Biopori

A. Pengertian Biopori

B. Manfaat Biopori

C. Alat dan Bahan Pembuatan Biopori

D. Pembuatan Biopori

11. Anveg

A. Pengertian Anveg

B. Kegunaan Anveg

12. Pertolongan Pertama pada Gawat Darurat (PPGD)

A. Pengertian  Pertolongan Pertama pada Gawat Darurat (PPGD)

B. Tujuan, Pokok, dan Prinsip Dasar Pertolongan Pertama pada Gawat Darurat (PPGD)

13. Menejemenn Perjalanan Rimba Gunung (MPRG)

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Istilah “konservasi” berasal dari kata dalam bahasa Inggris yaitu “conservation” yang secara genealogis bersumber dari kata con (together) dan servare (to keep, to save) yang dimengerti sebagai upaya memelihara milik kita (to keep, to save what we have), dan menggunakan milik tersebut secara bijak (wise use). Ide ini dikemukakan oleh Theodore Roosevelt (1902) yang merupakan orang Amerika pertama yang mengemukakan konsep konservasi. Konservasi juga dapat dipandang dari segi ekonomi, sosial dan Ekologi. Konservasi dari segi ekonomi berarti mencoba memanfaatkan sumberdaya alam untuk sekarang. Dari segi Ekologi, konservasi merupakan pemanfaatan sumberdaya alam untuk sekarang dan masa yang akan datang. Sementara dari segi sosial, konservasi merupakan pemanfaatan sumberdaya alam yang harus dilakukan secara bijaksana.

Lingkungan adalah kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik . Lingkungan merupakan segala sesuatu yang ada di sekitar manusia dan mempengaruhi perkembangan kehidupan manusia.

Oleh karena itu, kita sebagai mahasiswa yang berorganisasi di bidang kepencinta alaman sudah seharusnya kita menjaga dan melestarikan semua yang ada di bumi ini, mulai dari flora, fauna, Medan alam, dan sebagainya. Untuk apa? Untuk mewariskan kepada generasi penerus bangsa nantinya dan sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat yang tek terhingga dan sebagai timbal balik kita kepada-Nya yaitu dengan menjaga dan melestarikannya. Kalau bukan kita siapa lagi?

B. Topik Pembahasan

1. Konservasi

2. Ekologi

3. Paradigma Etika Lingkungan

4. Lingkungan Hidup

5. Metodologi Penelitian

6. AMDAL

7. Jurnalistik

8. Advokasi

9. Pembibitan dan Pemupukan

10. Biopori

11. Anveg

12. PPGD

13. MPRG

  

BAB II

PEMBAHASAN

 

 1. Konservasi

A. Pengertian Konservasi

Konservasi berasal dari kata conservation yang terdiri atas kata con (together) dan servare (keep/save) yang memiliki pengertian mengenai upaya pemelihara apa yang kita punya (keep/save what you have), namun secara bijaksana (wise use). Ide ini dikemukakan oleh Theodore Rooselvelt (1902) yang merupakan orang Amerika pertama yang mengungkapkan tentang konsep konservasi.

Sedangkan menururt Rijksen (1981), konervasi merupakan suatu bentuk evolusi kultural dimana pada saat dulu, upaya konservasi lebih buruk daripada sekarang. Konervasi juga dapat dipandang dari segi ekonomi dan Ekologi dimana konservasi dari segi ekonomi berarti mencoba mengalokasikan sumberdaya alam untuk sekarang, sedangkan dari segi Ekologi, konservasi merupakan alokasi sumberdaya alam untuk sekarang dan masa yang akan datang.

Secara sederhana konservasi sumberdaya alam dapat diartikan sebagai bentuk pengelolaan sumberdaya alam yang pemanfaatanya dilakukan secara seimbang dan bijaksana[1]

Adapun menurut ilmu biologi, konservasi adalah:

• Efisiensi penggunaan, produksi, transmisi, atau distribusi energi yang berakibat pada turunnya konsumsi energi dengan tetap menghasilkan manfaat yang sama;

• Pelestarian dan pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam secara bijaksana;

• Pelestarian dan perlindungan jangka panjang terhadap lingkungan, memastikan bahwa habitat alami suatu area dapat dipertahankan, sementara keanekaragaman genetik dari suatu spesies dapat tetap ada dengan mempertahankan lingkungan alaminya.

Di Indonesia, berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya pada Pasal 1 angka 2, disebutkan bahwa pengertian konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya.

B. Sejarah Konservasi di Indonesia

Kegiatan Sumberdaya alam Hayati dan Ekosistemnya yang ada di Indonesia telah dilakukan oleh nenek moyang kita, yang dimulai dari jaman kerajaan Nusantara, jaman penjajahan Belanda, jaman penjajahan Jepang dan jaman kemerdekaan.[2]

1. Jaman Kerajaan Nusantara

Secara Implisit pada jaman kerajaan Nusantara tidak banyak arsip tertulis mengenai konservasi sumberdaya alam, tetapi secara eksplisit tindakan konservasi tercermin dalam pola perilaku masyarakat dalam berhubungan dengan alam yang merupakan warisan turun temurun.

Saat itu masyarakat memepercayai kekuatan alam, mistifikasi benda-benda, juga memiliki prinsip membangun harmonisasi antara manusia dengan alam. Alam dianggap suci, raja-raja melakukan ritual dan pemujaan terhadap penguasa alam, dewa-dewa dan roh-roh leluhur.

Salah satu contoh bahwa masyarakat pada jaman kerajaan telah melakukan upaya konservasi adalah tertuang Prasasti Malang (1395) hal ini adalah wujud kebijakan konservasi masa Majapahit. Bunyi dari Prasasti Malang, bila diartikan adalah sebagai berikut :

Pemberitahuan

Kepada seluruh satuan tata negara si parasama di sebelah timur Gunung Kawi, baik di timur atau di barat batang air (Berantas); diberitahukan kepada sekalian Wedana, Juru, Bujut, terutama kepada Pacatanda di Turen. Bahwa telah kita perkuat perintah seri paduka Batara Pratama Iswara, yang ditanam di Winubawana dan begitu pula perintah seri paduka yang ditanam di Kertabuana, berhubungan dengan kedudukan satuan tata negara si parasame Katiden yang meliputi sebelas desa.

Oleh karena masyarakat itu berkewajiban mengamat-amati padang alang-alang di lereng gunung Ledjar, supaya jangan terbakar, maka haruslah ia dibebaskan dari pembayaran pelbagai titisara. Selanjutnya masyarakat dilarang menebang pohon kayu dari hutan kekayu dan memungut telur penyu dan getan, karena larangan itu tidak berlaku padanya. Juga tidak seorang jua pun boleh melakukan di sana peraturan larangan berupa apa jua. Apabila keputusan raja ini sudah dibacakan maka Desa Lumpang haruslah menurutnya. Demikianlah diselenggarakan pada bulan pertama pada tahun Saka 1317”.

Serta masih banyak lagi kegiatan dari masyarakat pada jaman kerajaan yang pola perilakunya mencerminkan adanya upaya konservasi.

2. Jaman Penjajahan Belanda

Selama periode tahun 1714 sampai 1889, ada dua peristiwa yang menjadi tonggak konservasi. Pertama adalah tahun 1714, saat itu seorang anggota Dewan Hindia Belanda yang bernama C. Chastelein (1657-1714) yang sangat tinggi moralnya, dengan surat wasiat tertanggal 13 Maret 1714 memberikan kebebasan kepada sesama umatnya yang beragama Katholik dan menawarkan kepada mereka dua bidang Persil dekat Depok, dengan syarat lahan itu tidak boleh dipindah tangankan. Hutan seluas 6 hektar yang ada diatasnya tidak boleh dijadikan lahan tani.[3]

Peristiwa kedua pada tahun 1889, Kawasan Hutan Alam Cibodas dikukuhkan sebagai Cagar Alam seluas 280 Ha berdasar usulan Direktur Lands Plantetuin (KBR Bogor), untuk penelitian flora hutan pegunungan meluas hingga Gunung Gede-Pangrango pada tahun 1925.Pada saat itu juga terjadi pertentangan antara kelompok perlindungan alam dengan pemerintah Hindia Belanda, yaitu Kegiatan ekploitasi terhadap burung-burung di daerah ternate. Sehingga pada tahun 1897 atas desakan kelompok perlindungan alam, pemerintah Hindia Belanda Peristiwa kedua pada tahun 1889, Kawasan Hutan Alam Cibodas dikukuhkan sebagai Cagar Alam seluas 280 Ha berdasar usulan Direktur Lands Plantetuin (KBR Bogor), untuk penelitian flora hutan pegunungan meluas hingga Gunung Gede-Pangrango pada tahun 1925.Pada saat itu juga terjadi pertentangan antara kelompok perlindungan alam dengan pemerintah Hindia Belanda, yaitu Kegiatan ekploitasi terhadap burung-burung di daerah ternate. Sehingga pada tahun 1897 atas desakan kelompok perlindungan alam, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan aturan-aturan tentang pembatasan perdagangan binatang liar (satwa liar).

Banyak produk hukum yang telah dikeluarkan oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai bentuk upaya perlindungan terhadap sumberdaya alam di Indonesia, diantaranya adalah :

a) Perlindungan burung cendrawasih dan burung-burung lain yang menarik (Staatblad 497-Oktober 1909 dan Staatbald 594-Desember 1909)

b) Undang-undang perlindungan bagi mamalia liar dan burung liar tahun 1910 (Ordonnantie tot Bescherming van sommige in het levende Zoogdieren en Vogels)

c) Peraturan perlindungan binatang-binatang liar tahun 1931 (Dierenbeschermings verordening), penetapan 36 jenis satwa dilindungi.

d) Ordonasi Cagar Alam dan Suaka Margasatwa tahun 1932 (Natuur Monumenten en Wildreservaten Ordonantie) yang kemudian diganti menjadi Peraturan Perlindungan Alam (Statbald 167/1941)

Sampai akhir pendudukanya di Indonesia, Belanda telah menetapkan lebih dari 70 Cagar Alam di Indonesia.

3. Jaman Penajajahan Jepang

Berbeda dengan Belanda, pemerintah Jepang yang menduduki Indonesia tidak memiliki perhatian yang penuh terhadap upaya konservasi. Jepang lebih mengurusi hutan jati yang telah ditanam oleh Belanda sejak berpulu-puluh tahun sebelumnya.[4]Tetapi sampai akhir pendudukan Jepang luas lokasi yang ditetapkan sebagai cagar alam adalah 3 juta hektar pada 117 lokasi yang tersebar di pulau Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan pulau lain.

4.  Jaman Kemerdekaan

Upaya perlindungan alam dimulai sejak tahun 1947, penunjukkan Bali Barat sebagai suaka alam tas prakarsa Raja-raja Bali sendiri. Pada tahun 1950, Jawatan Kehutanan RI meempatkan seorang pegawai khusus untuk urusan perlindungan alam saat itu petugas diberi tugas untuk mengusut perburuan badak di Ujung Kulon. Tahun 1952 dibentuk Lembaga Pengawetan Alam (LPA) bagian Penyelidikan Alam KBR Bogor. Sedangkan tahun, 1956, Jawatan kehutanan membentuk Bagian Perlindungan Alam (BPA)[5]

C. Macam Konservasi

Kawasan konservasi merupakan kawasan yang sangat penting bagi perlindungan dan pengawetan sumber daya alam dan budaya secara global. Undang-undang No.5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam (SDA) Hayati dan Ekosistemnya mendefinisikan, kawasan konservasi terdiri dari:

1. Kawasan Suaka Alam (KSA)

Adalah kawasan dengan ciri khas tertentu baik di daratan maupun diperairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya, juga berfungsi sebagai wilayah meliputi cagar alam dan suaka marga satwa.

2. Kawasan Pelestarian Alam (KPA)

Adalah kawasan dengan ciri khas tertentu baik di daratan maupun di air mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan, keanekaragaman hayati, jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Meliputi Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam.

Beberapa pengertian yang berkaitan dengan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya menurut Undang-undang :

a) Hutan adalah kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pohon dalam persekutuan alam lingkunganya satu dengan yang lainya tidak dapat dipisahkan.

b) Hutan konservasi adalah kawasan hutan yang mempunyai ciri khas tertentu yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya.

c) Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi dan memelihara kesuburan tanah.

d) Hutan produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil hutan.

e) Kawasan suaka alam merupakan kawasan dengan ciri khas tertentu baik didarat maupun diperairan yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman hayati juga berfungi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan.

f) Sumberdaya alam adalah unsur-unsur lingkungan alam, baik fisik maupun hayati yang diperlukan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraanya.

g) Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya adalah pengelolaan sumberdaya alam hayati yang pemanfaatanya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaanya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya.

h) Kawasan pelestarian alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik didarat maupun diperairan yang mempunyai fungi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keankaragaman jenis tumbuhan dan satwa, sert5a pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.

i) Cagar alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa serta ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembanganya berlangsung secara alami.

j) Suaka margasatwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan atau keunikan jenis satwa dimana untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap habitatnya.

k) Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi.

l) Taman Hutan Raya (TAHURA) adalah kawasan pelestarian alam yang bertujuan untuk koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau buatan, jenis asli dan bukan asli yang dimanfaatkan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budaya, pariwisata dan rekreasi.

m) Taman wisata alam adalah kawasan pelstarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi.

n) Kebun raya : tempat yang mempunyai fungsi utama melakukan upaya koleksi, pemeliharaan dan perbanyakan berbagai jenis tumbuhan sebagai sarana perlindungan dan pelestarian alam dan dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta sarana rekreasi yang sehat.

o) Taman safari adalah kebun bnatang yang kondisi alamnya sedemikian rupa sehingga mendekati habitat aslinya.

p) Konservasi In-Situ : upaya konservasi jenis flora dan fauna yang dilakukan di habitat alamnya, baik di dalam hutan yang terdapat di dalam kawasan koservasi maupun di luar kawasan konservasi.

q) Konservasi Ex-Situ : upaya konservasi jenis flora dan fauna yang dilakukan di luar habitat alaminya[6]

D. Prinsip-Prinsip Konservasi

Prinsip Konservasi, antara lain:

1. Perlindungan sistem penyangga kehidupan

2. Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya

3. Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

E. Konsep Konservasi

Dari penertian maupun history panjang mengenai konservasi diatas, sudah bia dilihat bahwa pada zaman dahulu, konsep konservasi sudah ada dan sudah diperkenalkan manusia, meskipun masih bersifat konservatif atau ekslusif (kerajaan). Konsep tersebut adalah konsep kuno yang merupakan cikal bakal konsep konservasi modern, yaitu konsep konservasimodern yang menekankan pada upaya memelihara dan memanfaatkan sumber daya tang tersedia secara bijaksana.[7]

 

2. Ekologi

A. Pengertian Ekologi

Ekologi ilmu mengkaji hubungan timbal balik (interaksi) antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Hubungan timbal balik antara makhluk hidup (sebagai komponen biotik) dengan lingkungannya (sebagai komponen abiotik) dikenal dengan istilah ekosistem.[8]

Ekologi berdasarkan sudut pandang pengkajianya dibedakan menjadi autekologi dan syntekologi. Autekologi  kajiannya lebih berfokus pada individu organisme atau spesies, sedangkan syntekologi membahas pengkajian golongan atau kumpulan organisme yang berasosiasi bersama sebagai satu kesatuan. Studi tentang harimau jawa dan faktor penyebab berkurangnya populasinya adalah contoh autokologi, sedangkan studi keragaman hayati di Cagar Alam Nusa Barong adalah contoh syntekolog[9]

B. Konsep Ekologi

Sistem adalah komponen-komponen yang secara teratur berinteraksi dan saling tergantung membentuk suatu keseluruhan yang satu. Ekosistem adalah satuan fungsional dasar dalam ekologi yang meliputi komponen biotik dan abiotik yang masing-masing saling mempengaruhi.

Komponen abiotik adalah komponen tidak hidup yang diantaranya adalah tanah, air, udara, iklim serta termasuk di dalamnya adalah bahan-bahan atau senyawa-senyawa anorganik dan organik. Komponen biotik adalah komponen makhluk hidup yang meliputi 6 kingdom yaitu tumbuhan, hewan, jamur, protista (alga atau ganggang, mirip jamur dan mirip hewan), monera (archaebacteria, eubacteria dan cynobanteria) dan virus[10]

Ekosistem mampu memelihara dan mengatur diri sendiri seperti halnya komponen penyusunnya yaitu organisme dan populasi. Namun manusia cenderung mengganggu sistem pengendalian alamiah. Ekosistem merupakan kumpulan dari bermacam-macam dari alam tersebut, contoh hewan, tumbuhan, lingkungan, dan yang terakhir manusia

C. Tingkatan Ekologi

a. Populasi

Populasi merupakan kelompok organisme sejenis yang hidup dan berkembangbiak pada daerah tertentu[11]

b. Komunitas

Komunitas merupakan kumpulan dari berbagai populasi yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain.

c. Ekosistem

Ekosistem merupakan suatu sistem di alam, di dalamnya terjadi hubungan timbal balik antara organisme satu dengan organisme lainya, juga dengan keadaan lingkungan[12]

C. Peran  Ekologi dalam Kehidupan

Ekologi memikili banyak peran penting terhadap kehidupan, diantaranya:

1. Mengenal lebih benyak keanekaragamanb hayati,

2. Mengenal lebih jauh makhluk hidup,

3. Membantu mengetahui dampak terhadap lingkungan,

4. Membantu memecahkan masalah pangan, pertanian, energi, kesehatan,

5. Membuat proses industri yang lebih maju, dan

6. Mengenal kesetimbangan dalam kehidupan

 

3. Paradigma Etika Lingkungan

       A. Pengertian Paradigma

            Secara etimologis paradigma berarti model teori ilmu pengetahuan atau kerangka berpikir. Sedangkan secara terminologis paradigma berarti pandangan mendasar para ilmuan tentang apa yang menjadi poko kpersoalan yang semestinya dipelajari oleh suatu cabang ilmu pengetahuan. Jadi,paradigma ilmu pengetahuan adalah model atau kerangka berpikir beberapa komunitas ilmuan tentang gejala-gejala dengan pendekatan fragmentarisme yang cenderung terspesialisasi berdasarkan langkah-langkah ilmiah menurut bidangnya masing-masing.Paradigma adalah kumpulan tata nilai yang membentuk pola pikir seseorang sebagai titik tolak pandangannya sehingga akan membentuk citra subjektif seseorang – mengenai realita – dan akhirnya akan menentukan bagaimana seseorang menanggapi realita itu.Paradigma dalam disiplin intelektual adalah cara pandang seseorang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif).

Paradigma adalah pandangan dasar yang di anut oleh para ahli pada kurun waktu tertentu, yang di akui kebenarannya, dan di dukung oleh sebagian besar komunitas, serta berpengaruh terhadap perkembangan ilmu dan kehidupan. Harvey dan Holly (1981) mengutip batasan pengertian paradigma yang di kemukakan oleh Kuhn dalam The Structure of Scientific Revolution (1970) yang mengartikan paradigma sebagai “keseluruhan kumpulan (konstelasi) kepercayaan-kepercayaan, nilai-nilai, cara- cara(teknik) mempelajari, menjelaskan,cakupan, dan sarana kajian, dan sebagainya yang di anut oleh warga suatu komunitas tertentu.[13]

B. Pengertian Etika Lingkungan

Etika lingkungan bersal dari dua kata, yaitu Etika dan Lingkungan. Etika brasal dari bahasa yunani yaitu “Ethos” yang berarti adat istiadat atau kebiasaan.  adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang mempengaruhi kelangsungan kehidupan kesejahteraan manusia  dan makhluk hidup lain baik secara langsung maupun secara tidak.

Jadi Etika lingkungan merupakan kebijaksanaan moral manusia dalam bergaul dengan lingkunganya. Etika lingkungan diperlukan agar setiap kegiatan yang menyangkut lingkungan dipertimbangkan secara cermat sehingga keseimbangan lingkungan tetap terjaga.

C. Teori Etika Lingkungan

Ada tiga teori mengenai pengertian etika lingkungan, yaitu:

1. Etika Deontologi adalah suatu tindakan di nilai baik atau buruk  berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban.

2. Etika Teologi adalah baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan atau akibat suatu tindakan.

3. Etika Keutamaan adalah mengutamakan pengembangan karakter moral pada diri setiap orang

 

 

4. Lingkungan Hidup

A. Pengertian Lingkungan Hidup

Pengertian lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang memengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung.Lingkungan bisa dibedakan menjadi lingkungan biotik dan abiotik.

Menurut UU No. 32 tahun 2009, Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya keadaan, dan mahluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan kehidupan dan kesejahtraan manusia serta mahluk hidup lainya.

B. Unsur Lingkungan Hidup

1. Unsur Abiotik

Abiotik adalah istilah yang biasanya di gunakan untuk menyebut sesuatu yang tidak hidup, (benda mati). Komponen abiotik merupakan komponen penyusun ekosistem yang terdiri dari benda-benda mati sebagai penunjang kehidupan organisme. Seperti : air, udara, cahaya, tanah dan iklim.

2. Unsur Biotik

Biotik yaitu komponen yang terdiri makhluk hidup. Berdasarkan peran dan fungsinya, makhluk hidup di bedakan menjadi tiga macam, yaitu :

a) Produsen

Produsen merupakan makhluk hidup yang dapat memproduksi makanannya sendiri. Proses tersebut hanya bisa dilakukan oleh  tumbuhan yang berklorofil dengan cara fotosintesis. Contoh lumut dan tumbuhan hijau.

b) Konsumen

Konsumen yaitu mahluk hidup yang tidak bisa membuat makananya sendiri dan tergantung pada mahluk hidup lainya.

c) Dekomposer

Dekomposer yaitu organisme yang menguraikan bahan organik menjadi bahan anorganik untuk kemudian digunakan oleh produsen. Contohnya : bakteri pembusuk dan jamur.

3. Unsur Sosial Budaya

Yaitu lingkungan sosial dan budaya yang di buat oleh manusia dan merupakan sistem nilai, gagasan, dan keyakinan dalam berprilaku seagai mahluk sosial.[14]

C. Upaya Pelestarian Lingkungan Hidup

Kerusakan lingkungan hidup terjadi sebagai ulah akibat tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab dalam memanfaatkan sumber daya yang terkandung dialam. Oleh karena itu perlu adanya upaya pelestarian lingkungan hidup. Adapun upaya-upaya pelestarian lingkungan hidup, yaitu :

1. Peraturan Pelestarian Lingkungan Hidup

Pemerintah telah mengeluarkan peraturan yang berkaitan dengan pengaturan dan pengelolaan lingkungan hidup, yaitu UU No 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Undang-Undang tersebut kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam PP No 27 tahun 1999 mengenai Analisis Dampak Lingkunga, PP No 19 tahun 1999 mengenai Pengendalian Pencemaran Danau atau Perusakan Laut dan PP No 41 Tahun 1999 tebtang Pengendalian Pencemaran Udara.[15]

2. Pelestarian di Lingkungan Darat

Pelestarian di lingkungan darat, antara lain:

a) Reboisasi atau Penghijauan yaitu penanaman kembali pada daerah hutan yang gundul.

b) Rehabilitasi Lahan yaitu pengembalian tingkat kesuburan tanah-tanah yang kritis dan tidak produktif.

c) Menjaga daerah resapan air diupayakan senantiasa hijau dengan cara ditanami oleh berbagai tanaman keras sehingga dapat meresap air dengan banyak, sehingga dapat menyimpan persediaan air di tanah.

d) Membuat sengkedan (terasering) bagi daerah–daerah pertanian yang memiliki kemiringan lahan curam yang rentan terhadap erosi.[16]

3. Pelestarian di Lingkungan Perairan

Pelestarian di lingkunga perairan, antara lain:

a) Larangan pembuangan limbah rumah tangga agar tidak kesungai.

b) Penyediaan tempat sampah, didaerah pantai yang dijadikan tempat wisata.

c) Memberlakukan Surat Izin Pengambilan Air (SIPA).

d) Netralisasi limbah industri sebelum dibuang kesungai

e) Menangkap ikan tidak menggunakan bahan kimia

4. Pelestarian di Lingkungan Udara

Upaya pelestarian dilingkungan udara dengan cara mengontrol kadar polusi udara, memberi informasi jika kadar polusi melebihi ambang batas yang dikenal dengan emisi gas buang.[17]

 

5. Metodologi Penelitian

A. Pengertian Metodologi Penelitian

“Metodologi Penelitian” berasal dari kata “Metode” yang artinya cara yang tepat untuk melakukan sesuatu, dan “Logos” yang artinya ilmu pengetahuan. Jadi, metodologi artinya cara melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran secara seksama untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan “Penelitian” adalah suatu kegiatan untuk mencari, mencatat, merumuskan,. Dan menganalisis sampai menyusun laporannya. Lebih luas lagi dapat dikatakan bahwa metodologi penelitian adalah ilmu yang mempelajari cara-cara melakukan pengamatan dengan pemikiran yang tepat secara terpadu melalui tahapan-tahapan yang disusun secara ilmiah untuk mencari, menyusun, serta menganalisis dan menyimpulkan data-data, sehingga dapat dipergunakan untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran sesuatu pengetahuanberdasarkan bimbingan Tuhan.[18]

Adapun definisi metode penelitian menurut para ahli, antara lain:

1) Prof. Dr. Sugiyono, Pengertian metode penelitian ialah suatu cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.

2) Muhiddin Sirat, Definisi metode riset ialah suatu cara untuk memilih topik masalah dan penentuan judul suatu riset.

3) Heri Rahyubi, Arti metode penelitian ialah suatu model cara yang bisa dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar demi tercapainya suatu proses pembelajaran yang baik.

4) Muhammad Nasir, Makna metode penelitan ialah cara utama yang digunakan oleh para peneliti untuk mencapai tujuan dan menentukan jawaban atas masalah yang diajukan[19]

B. Jenis-jenis Metode Penelitian

1) Metode Kualitatif

Metode kualitatif adalah metode riset yang sifatnya memberikan penjelasan dengan menggunakan analisis. Pada pelaksanaannya, metode ini bersifat subjektif dimana proses penelitian lebih tiperlihatkan dan cenderung lebih fokus pada landasan teori.

Ciri metode ini: menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data, memiliki sifat deskriptif analitik, bersifat induktif, mengutamakan makna, penekanannya pada proses bukan hasilnya, dsb.

2)  Metode Kuantitatif

Metode kuantitatif adalah bentuk penelitian yang dilakukan secara sistematis, terstruktur, serta terperinci. Pada pelaksanaaannya, metode riset ini fokus pada penggunaan angka, tabel, grafik, dan diagram untuk menampilkan hasil data/ informasi yang diperoleh.

Ciri dari metode ini adalah metode ini memperhatikan pada pengumpulan dan analisis data dalam bentuk numerik dan sudah dapat dipastikan, serta bersifat objektif, penelitian kuantitatif sering bertolak pada teori, penelitian kuantitatif dimulai dengan teori dan hipoteses, penelitian ini untuk menjelaskan sebab-akibat antar variabel yang diteliti dsb.

3) Metode Surveiuntuk menjelaskan

Metode survei adalah suatu metode yang digunakan untuk mendapatkan hasil riset dalam bentuk opini atau pendapat dari orang lain yang berinteraksi langsung dengan objek yang diamati. Tujuan utama dari metode ini adalah untuk mendapatkan gambaran umum melalui sampel beberapa orang.

4) Metode Ekspos Facto

Metode Ekspos Facto adalah metode riset untuk meneliti hubungan sebab-akibat dari suatu peristiwa. Dari keterkaitan sebab-akibat tersebut akan ditemukan kemungkinan baru yang bisa dijadikan indikator dalam proses riset.

5) Metode Deskriptif

Metode deskriptif adalah metode riset yang bertujuan untuk menjelaskan suatu peristiwa yang sedang berlangsung pada masa sekarang dan juga pada masa lampau. Metode riset ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu Longitudinal (sepanjang waktu) dan Cross Sectional (waktu tertentu).[20]

Jenis Penelitian ada banyak, diantaranya:

1) Eksperimen

Penelitian eksperimental merupakan bentuk penelitian percobaan yang berusaha untuk mengisolasi dan melakukan kontrol setiap kondisi-kondisi yang relevan dengan situasi yang diteliti kemudian melakukan pengamatan terhadap efek atau pengaruh ketika kondisi-kondisi tersebut dimanipulasi. Dengan kata lain, perubahan atau manipulasi dilakukan terhadap variabel bebas dan pengaruhnya diamati pada variabel terikat. Menurut Emzir (2008:96-103) desain penelitian ekperimen dibagi menjadi empat bentuk yakni, pre-experimental design, true experimental design, quasy experimental design dan factorial design. Contoh:

Pengaruh Penerapan Strategi Pembelajaran TANDUR Berbantuan Web Interaktif Terhadap Hasil Belajar Teknologi Informasi dan Komunikasi Siswa Kelas VII SMPN 3 Malang. (Kuasi Eksperimen terhadap Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Malang Tahun Ajaran 2010/2011). (Sumber: perpustakaan Universitas Negeri Malang, skripsi tidak diterbitkan).

2) Deskriptif

Penelitian deskriptif adalah suatu metode  penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung saat ini atau saat yang lampau. Penelitian ini tidak mengadakan manipulasi atau pengubahan pada variabel-variabel bebas, tetapi menggambarkan suatu kondisi apa adanya. Penggambaran kondisi bisa individual atau menggunakan angka-angka. (Sukmadinata, 2006:5) Penelitian deskriptif, bisa mendeskripsikan suatu keadaan saja, tetapi bisa juga mendeskripsikan keadaan dalam tahapan-tahapan perkembangannya, penelitian demikian disebut penelitan perkembangan (Developmental Studies). Dalam penelitian perkembangan ini ada yang bersifat longitudinal atau sepanjang waktu dan ada yang bersifat cross sectional atau dalam potongan waktu.

Contoh:

Manajemen Pengembagan Kinerja Guru SMK se-Kabupaten Kuningan:  Studi Tentang Kepemimpinan Entrepeuneur Dan Sistem kompensasi Kreativitas dan Kinerja Inovatif. (Sumber: perpustakaan Universitas Negeri Malang, skripsi tidak diterbitkan).

3) Korelasional

Penelitian korelasi adalah suatu penelitian yang melibatkan tindakan pengumpulan data guna menentukan, apakah ada hubungan dan tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih. Adanya hubungan dan tingkat variabel yang penting, karena dengan mengetahui tingkat hubungan yang ada, peneliti akan dapat mengembangkannya sesuai dengan tujuan penelitian. (Sukardi, 2003:166) Penelitian korelasi merupakan bentuk penelitian untuk memeriksa hubungan diantara dua konsep. Secara umum ada dua jenis pernyataan yang menyatakan hubungan, yaitu: (1) gabungan antara dua konsep, ada semacam pengaruh dari suatu konsep terhadap konsep yang lain; (2) hubungan kausal, ada hubungan sebab akibat. Pada hubungan kausal, penyebab diferensikan sebagai varibel bebas dan akibat direferensikan sebagai variabel terikat. Pada penelitian korelasi tidak ada kontrol atau manipulasi terhadap variabel.

Contoh:

Hubungan Antara Penerimaan Diri dengan Kompetensi Interpersonal Pada Remaja (Studi korelasi pada remaja tunanetra yang mengalami ketunanetraan tidak sejak dari lahir di PSBN Wyata Guna Bandung). (Sumber: repository.upi.edu).[21]

4) Komparatif

Penelitian kausal komparatif atau penelitian ex post facto adalah penyelidikan empiris yang sistematis dimana ilmuan tidak mengendalikan variabel bebas secara langsung karena eksistensi variabel tersebut telah terjadi. Pendekatan dasar klausa komparatif melibatkan kegiatan peneliti yang diawali dari mengidentifikasi pengaruh variabel satu terhadap variabel lainnya kemudian dia berusaha mencari kemungkinan variabel penyebabnya. Penelitian komparatif membandingkan situasi masa lalu dan saat ini atau situasi-situasi paralel yang berbeda, khusunya apabila peneliti tidak memiliki kontrol terhadap situasi yang diteliti. Penelitian ini bisa memiliki perspektif makro (misal: internasional,nasional) dan mikro (misal: komunitas, individu).

Contoh:

Studi Komparatif Penerapan Model Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan Model Problem Based Learning (PBL) dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Menganalisis Rangkaian Listrik dan Elektronika Di SMKN 12 Bandung. (Sumber: repository.upi.edu).

5) Evaluasi

Penelitian evaluasi merupakan bentuk penelitian yang bertujuan untuk memriksa proses perjalanan suatu program  sekaligus menguraikan fakta-fakta yang bersifat kompleks dan terlibat di dalam program. Misalnya adalah keefektifan, efisiensi  dan kemenarikan suatu program (Mukhadis, 2013:61). Contoh:

Evaluasi Proses Pembelajaran TIK SMA Negeri di Kota Malang Berdasarkan Pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses. (Deskriptif tentang kondisi proses pembelajaran mata pelajaran TIK SMA di Kota Malang Tahun Ajaran 2010/2011 dengan jumlah populasi 10 SMA Negeri dan sampel penelitian sebanyak 5 SMA Negeri).[22]

6) Simulasi

Penelitian simulasi merupakan bentuk penelitian yang bertujuan untuk mencari gambaran melalui sebuah sistem berskala kecil atau sederhana (model) dimana di dalam model tersebut akan dilakukan manipulasi atau kontrol untuk melihat pengaruhnya. Penelitian ini mirip dengan penelitian eksperimental, perbedaannya adalah di dalam penelitian ini membutuhkan lingkungan yang benar-benar serupa dengan keadaan atau sistem yang asli.

Contoh:
Penggunaan Simulasi Monte Carlo Untuk Menentukan Nilai Outcome Pada Pengambilan Keputusan (Studi Kasus Pengambilan Keputusan pada Toko NAFC Collection).

7) Survey

Survey research designs are procedures in quantitative research in which investigators administer a survey to a sample or to the entire population of people to describe the attitudes, opinions, behaviors, or characteristics of the population. (Creswell, 2012: 376)[23]

Penelitian survey digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang populasi yang besar dengan menggunakan sampel yang relatif kecil. Populasi tersebut bisa berkenaan dengan orang, instansi, lembaga, organisasi dan unit-unit kemasyarakatan dan lain-lain, tetapi sumber utamanya adalah orang. Desain survey tergantung pada penggunaan jenis kuisoner. Survey memerlukan populasi yang besar jika peneliti menginginkan hasilnya mencerminkan kondisi nyata, semakin besar sample survey semakin memberikan hasil akurat. Penelitian survei memiliki tiga tujuan utama yaitu menggambarkan keadaan saat itu, mengidentifikasi secara terukur keadaan sekarang untuk membandinkan, menentukan hubungan kejadian yang spesifik.

Contoh:

Stress and Burnout in Rural and Urban Secondary School Teachers. Journal of Educational Research. 1999. 92, pg. 287–293. (dalam Creswell, 2012:378)

8) Studi Kasus

Sebuah studi kasus adalah eksplorasi mendalam dari sistem terikat (misalnya, kegiatan, acara, proses, atau individu) berdasarkan pengumpulan data yang luas. Studi kasus melibatkan investigasi kasus, yang dapat didefinisikan sebagai suatu entitas atau objek studi yang dibatasi, atau terpisah untuk penelitian dalam hal waktu, tempat, atau batas-batas fisik. Penting untuk memahami bahwa kasus dapat berupa individu, program, kegiatan, sekolah, ruang kelas, atau kelompok. Setelah kasus didefinisikan dengan jelas, peneliti menyelidiki mereka secara mendalam, biasanya menggunakan beberapa metode pengumpulan data, seperti wawancara, observasi lapangan, dan dokumentasi.

Studi kasus kolektif; (a) melibatkan beberapa kasus, (b) dapat terjadi selama bertahun situs, dan (c) menggunakan banyak individu. Kerangka konseptual untuk studi kasus adalah bahwa dengan mengumpulkan informasi mendalam tentang kasus, peneliti akan mencapai pemahaman mendalam tentang kasus ini, apakah kasus itu adalah seorang individu, kelompok, kelas, atau sekolah.

Contoh:

Butera, G. 2005. Collaboration in the context of Appalachia: The case of Cassie. The Journal of Special Education, 39(2): 106–116. Butera (2005) menggunakan studi kasus dan data yang dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumen untuk menggambarkan kolaborasi tim dengan anak 4 tahun di West Virginia. (Stoner, 2010: 21).[24]

9) Teori Dasar (Grounded Theory)

Grounded Theory merupakan pendekatan yang memungkinkan peneliti untuk mengembangkan atau menemukan teori yang didasarkan pada studi fenomena. Dengan menggunakan grounded theory, peneliti sengaja (a) memilih peserta yang mengalami fenomena yang sedang dipelajari, (b) menganalisis data (yaitu, wawancara, dokumen, dan catatan), dan (c) mendekati fenomena yang diteliti tanpa prasangka pengertian. Kerangka konseptual ini memungkinkan suara peserta muncul , mensyaratkan bahwa peneliti mengidentifikasi tema utama atau konsep dari data peserta , dan memberikan jalan untuk mengembangkan teori dari perspektif peserta .

Most grounded theory researchers will begin with research questions but they do not start with a hypothesis, nor do they begin their investigation with a thorough review of the literature relating to their topic. They build up theory from their data and they do not wait until all data are collected before they begin the analysis stage. (Bell, 2005: 19) Contoh:

Bays, D. A., & Crockett, J. B. 2007. Investigating Instructional Leadership For Special Education. Exceptionality, 15(3): 143–161. Pendekatan groundedtheory digunakan oleh Bays dan Crockett (2007) untuk menyelidiki kepemimpinan instruksional untuk pendidikan khusus di sekolah dasar. (Stoner, 2010: 22)

10) Etnografi

Ethnographic researchers attempt to develop an understanding of how a culture works and many methods and techniques are used in this such us: participant observation, interview, mapping and charting, interaction analysis, study of historical records and current public documents, the use of demographic data. (Bell, 2005:16). Etnografi adalah analisis mendalam dari kelompok sosial. Data biasanya dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumen. Jenis penelitian ini berfokus pada membangun catatan perilaku dan kepercayaan dari kelompok dari waktu ke waktu. Etnografi mengharuskan peneliti berpartisipasi, baik sebagai pengamat atau peserta aktif, waktu interaksi yang cukup lama dengan kelompok yang diteliti. Kerangka konseptual etnografi adalah bahwa keterlibatan langsung ke dalam budaya kelompok akan memungkinkan peneliti untuk melihat dunia dari perspektif kelompok, dan melihat yang akan memberikan pemahaman tentang perilaku dan keyakinan kelompok.[25]

Contoh:

Harry, Klingner, & Hart. 2005. African American families under fire: Ethnographic views of family strengths. Remedial and Special Education, 26(2): 101–112. Harry, Klingner, dan Hart (2005) menerbitkan sebuah studi etnografi siswa Amerika keturunan Afrika dalam pendidikan khusus di sebuah distrik sekolah beragam budaya perkotaan. (Stoner, 2010: 22)

11) Kultural

Penelitian kultural (budaya) merupakan penelitian yang dilakukan atas objek berupa unsur atau gejala budaya dengan menggunakan perangkat metodologis yang tercakup di dalam ilmu pengetahuan budaya. Unsur atau gejala budaya adalah unsur atau gejala yang terdapat di dalam suatu masyarakat yang berkaitan dengan perangkat nilai-nilai, pemikiran, dan hasil budi daya dalam bentukinteraksi antara masyarakat dengan lingkungannya atau segi hasil pemikiran atau kreasi anggotanya yang terungkap dalam wujud tulisan atau benda-benda. Contoh:

Identifikasi Ajen Budaya Sunda Dina Wawacan Jaka Bayawak. (Sumber: repository.upi.edu).

12) Historis

Penelitian historikal merupakan bentuk penelitian yang memiliki tujuan untuk menggambarkan fakta dan menarik kesimpulan atas kejadian masa lalu. Data primer dari penelitian ini adalah data yang bersifat historis, misalnya para arkeolog menggunakan sumber data berupa dokumentasi tentang masa lalu. Penelitian historikal dapat digunakan untuk menemukan solusi sementara berdasarkan kejadian masa lalu dan menggambarkan tren masa kini atau masa depan.

Kothari (2004) mengategorikan jenis penelitian histori ke dalam dua pendekatan, yaitu pendekatan perspektif –mempelajari kegiatan/agenda masa lampau sampai sekarang- dan pendekatan retroperpektif –mempelajari kegiatan/agenda saat ini kemudian dihubungkan dengan hal serupa di masa lalu. Contoh:

Seni Tradisi Gembyung di Kampung Ganceuy Kabupaten Subang 1975-1999 (Suatu Kajian Historis Terhadap Sosial Budaya Masyarakat). (Sumber: repository.upi.edu).

13) Etnologi

Penelitian etnologi merupakan penelitian yang fokus kepada perilaku manusia. Peneliti lebih condong menggunakan interpretasi langsung dari perilaku subjek yang diteliti daripada melakukan interpretasi dari segi  teoritik. Peneliti harus berusaha untuk tidak nampak sebagai peneliti, karena bila tidak demikian interpretasi atas data yang didapat dari responden akan terpengaruh.

Contoh:

Eufemisme Dalam Bahasa Simalungun (Suatu Kajian Sosiolinguistik) (Sumber: repository.usu.ac.id)

14) Penelitian Praktis (Penelitian Tindakan/Action Reasearch)

Action research designs often utilize both quantitative and qualitative data, but they focus more on procedures useful in addressing practical problems in schools and the classrooms. Action research designs are systematic procedures used by teachers (or other individuals in an educational setting) to gather quantitative and qualitative data to address improvements in their educational setting, their teaching, and the learning of their students (Creswell, 2012:577).

 Penelitian tindakan merupakan bentuk penelitian yang berisi berbagai macam prosedur untuk menguraikan kasus-kasus yang bersifat mikro atau khusus. Simpulan dari penelitian tindakan langsung diberlakukan hanya untuk kasus yang diteliti dan tidak bisa digeneralisasikan. Penelitian tindakan lebih condok ke metode kualitatif yang sangat bergantung pada data penagamatan yang bersifat behavioralistik.

Contoh:

Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Tentang Pemecahan Masalah Yang Melibatkan Uang Melalui Metode Simulasi (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas III B SDN Cicadas 03 Gunung Putri Bogor). (Sumber: repository.upi.edu)

C. Langkah dalam Metodologi Penelitian

Langkah-langkah dalam metodologi penelitian, diantaranya:

1. Perumusan Masalah

Perumusan masalah adalah langkah awal dalam melakukan kerja ilmiah. Masalah adalah kseuliatan yang dihadapi , sehingga memerlukan penyelesaian atau memecahkannya.

2. Perencanaan Penelitian

Sebelum dilakukan penelitian terlebih dahulu harus dipersiapkan rancangan penelitiannya. Rancangan penelitian ini berisi tentang rencana atau hal-hal yang harus dilakukan sebelum, selama dan setelah penelitian selesai. Metode penelitian, alat dan bahan yang diperlukan dalam penelitian juga harus disiapkan dalam rancangan penelitian.

3. Pelaksanaan Penelitian

Langkah langkah pelaksanaan penelitian adalah sebagai berikut :

a)Persiapan

Penelitian biasanya diwujudkan dalam pembuatan rancangan penelitian. Alat, bahan, tempat, waktu dan teknik pengumpulan data juga harus dipersiapkan dengan baik.

b) Pelaksanaan

c) Pengumpulan/pengambilan data

• Data kualitatif merupakan data yang diperoleh dari hasil pengamatan dengan menggunakan alat indra, seperti indra penglihatan (mata), indra penciuman (hidung), indra pengecap (lidah), indra pendengaran (telinga), dan indra peraba (kulit).

• Data kualitatif merupakan data yang diperoleh dari hasil pengukuran sehingga akan diperoleh data berupa angka-angka.

d) Pengolahan data

4. Menarik kesimpulan

Setelah pengolahan data melalui analisis selesai dilakukan maka kita dapat mengetahui apakah hipotesis yang kita buat sesuai dengan hasil penelitian atau mungkin juga tidak sesuai. Selanjutnya kita dapat mengambil kesimpilan dari penelitian yang telah kita lakukan. Kesimpulan yang kita peroleh dari hasil penelitian dapat mendukung hipotesis yang kita buat, tetapi kesimpulan yang kita ambil harus dapat menjawab permasalahan yang melatarbelakangi penelitian.

5. Pelaporan penelitian

Sistematika penyusunan laporan penelitian meliputi :

a)      Pendahuluan,

Bagian pendahuluan merupakan bagian awal dari laporan hasil penelitian dan berisi tentang latar belakang dilaksanakannya penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan hipotesis.

b)      Telaah kepustakaan/kajian teori,

Bagian kajian teori merupakan bagian yang berisi tentang hasil telaah yang dilakukan oleh peneliti terhadap teori dan hasil-hasil penelitian terdahulu yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan.

c)      Metode penelitian,

Berisi segala sesuatu yang dilakukan oleh peneliti mulai dari persiapan, pelaksanaan dan akhir dari sebuah penelitian. Bagian metode penelitian berisi tentang teknik pengambilan data, cara atau teknik pengolahan data, populasi dan sampel, alat, bahan, tempat dan waktu penelitian.

d)     Hasil dan pembahasan penelitian,

Berisi tentang data hasil penelitian yang berhasil dikumpulkan selama penelitian. Data yang diperoleh disampaikan dalam bentuk grafik, tabel , atau diagram.

e)      Kesimpulan dan saran,

Berisi tentang kesimpulan yang dihasilkan merupakan jawaban terhadp hipotesis yang sudah diuji kebenarannya. Saran dari peneliti kepada pihak lain, yaitu pembaca dan bagi peneliti lainnya untuk melakukan penelitian-penelitian selanjutnya[26]

6. AMDAL

A. Pengertian AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)

AMDAL merupakan kajian dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup, dibuat pada tahab perencanaan dan digunakan untuk pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha atau kegiatan. Tujuan AMDAL untuk memastikan bahwa pembangunan suatu rencana usaha dan kegiatan yang akan dilaksanakan bermabfaat dan tidak mengorbankan lingkungan hidup.[27]

Menurut PP no 27 tahun 1999, pengertian AMDAL ini merupakan suatu kajian dari suatu dampak besar dan juga penting dalam melakukan pengambilan keputusan suatu usaha atau pun juga aktivitas yang direncanakan di dalam lingkungan hidup.

B. Jenis Dokumen AMDAL

Jenis-jenis dokumen AMDAL, diantaranya:

1) Kerangka Acuan bagi Penyusunan (KA-ANDAL) yaitu ruang lingkup studi analisis dampak lingkungan yang merupakan hasil pelingkupan

2) Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) merupakan telaah cermat dan mendalam tentang dampak penting suatu rencana kegiatan

3) Rencana Pengelolahan Lingkungan (RKL) yaitu dokumen yang mengandung upaya penanganan dmpak penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan

4) Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) yaitu dokumen yang mengandung upaya pemantauan komponen yang terkena dampak penting dari rencana kegiatan atau usaha.

C. Pihak yang Terlibat dalam AMDAL

Pihak-pihak yang terlibat dalam proses AMDAL adalah komisi penilai AMDAL, pemrakarsa dan masyarakat yang berkepentingan.[28]

7. Jurnalistik

A. Pengertian Jurnalistik

Secara etimologis, jurnalistik berasal dari kata journ. Dalam bahasa Perancis, journ berarti catatan atau laporan harian. Secara sederhana jurnalistik diartikan sebagai kegiatan untuk kegiatan yang berhubungan dengan pencatatan atau pelaporan setiap hari.

Dengan demikian, jurnalistik bukanlah pers, bukan pula media massa. Jurnalistik adalah kegiatan yang memungkinkan pers atau media massa bekerja dan diakui eksistensinya dengan baik.

B. TekniknJurnalistik

Teknik-teknik jurnalistik, diantaranya:

1) Usahakan agar kalimat rata-rata pendek

2) Pilih yang sederhana daripada yang kompleks

3) Pilihkata-kata yang lazim

4) Hindari kata-kata yang tidak perlu

5) Beri kekuatan pada kata kerja sebagaimana anda berbicara

6  istilah yang bisa digambarkan oleh pembaca

7) Hubungkan dengan pengalaman pembaca anda

8)  Gunakan sepenuhnya variasi

9) Menulis untuk menyatakan, bukan untuk mempengaruhi

8. Advokasi

A. Pengertian Advokasi

Advokasi terdiri atas sejumlah tindakan yang dirancang untuk menarik perhatian masyarakat pada suatu isu, dan mengotrol para pengambil kebijakan untuk mencari solusinya. Advokasi juga bisa difahami sebagai bentuk upaya melakukan pemblaan rakyat dengan cara yang sistematis dan terorganisir atas sikap, perilaku dan kebijakan yang tidak berpihak pada keadilan dan kenyataan.

B. Alasan-alasan beradvokasi

Alasan adanya kegiatan advokasi adalah sebagai berikut:

1) Kita dihadapkan dengan persoalan-persoalan kemanusiaan

2) Kerusakan dan kekejaman kebijakan selalu menghiasi kehidupan kita

3) Keserakahan, kebodohan dan kemunafikan semakin tumbuh subur pada lingkungan kita

C. Tujuan Advokasi

Tujuan dari kerja-kerja advokasi adalah mendorong terwujudnya perubahan atas sebuah kondisi yang tidak atau belum ideal sesuai dengan yang diharapkan.

D. Langkah Beradvokasi

Langkah-langkah yang ditempuh pada saat beradvokasi adalah:

1) Menentukan isu strategis

2) Pengumpulan data dan informasi

3) Jika kasus dapat diperjuangkan bersama dengan pihak yang punya kepentingan yang sama maka perlu membentuk sekutu.[29]

4) Bentuk aliansi, aliansi merupakan gabungan organisasi yang berbeda bentuk dan kepentingan.

5) Pesan advokasi yang menarik

6) Lemparkan isu dan kampanye kemasyarakat

7) Lobi atau pendekatan kepada pihak tertentu yang mempunyai wewenang membuat keputusan perubahan atau pembuat aturan-aturan

8) Kontak dengan media massa

9) Aksi bersama atau jalan keluar dari permasalahan yang di advokasi

10) Evaluasi bersama.

E. Dasar-Dasar Advokasi Lingkungan

UUD 1945 pasal 1 secara jelas menyatakan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. UU No. 23 Tahun 1997 yang mengatur soal: Hak massal, Kewajiban pemerintah, Larangan dan Sanksi-sanksi.

 

9. Pembibitan dan Pemupukan

• Pembibitan

A.  Pengeetian Pembibitan

Pembibitan adalah salah satu upaya untuk memperbanyak tanaman, baik secara generatif maupun vegetasi.

1.      Pembibitan secara Generatif

Merupakan pembibitan atau perbanyakan tanaman dari hasil perkawinan

2.      Pembibitan secara Vegetatif

Merupakan pembibitan atau perkembangbiakan tanaman yang terjadi tanpa melalui proses perkawinan atau perkembangbiakan secara alami.

Pembibitan vegetatif ada 2, yaitu pembibitan vegetatif alami dan lembibitan vegetatif buatan.

1) Pembibitan vegetatif alami terdiri dari tunas, tunas adventif, membelah diri, spora, rhizoma/akar tinggal, umbi lapis, umbi batang, umbi akar, dan geragih/stolon

2)  Pembibitan vegetatif buatan, antara lain:

a) Teknik Stek

Stek adalah Perbanyakan tanaman dengan cara menanam atau menumbuhkan salah satu bagian dari tanaman. Bagian yang dapat di tumbuhkan untuk perbanyakan tanaman antara lain batang, akar, dan daun. Stek lebih banyak dipilih oleh petani karena bahan yang dibuat untuk membuatnya hanya sedikit dan dapat diperoleh jumlah bibit dalam jumlah yang banyak. Tanaman yang dihasilkan dalam stek biasanya memiliki persamaan dalam umur, tinggi, dan ketahanan terhadap penyakit. Selain itu kita juga bisa memperoleh tanaman yang sempurna dalam waktu yang relatif singkat.

b) Teknik Cangkok

Cangkok merupakan salah satu jenis Perbanyakan tanaman dengan cara menumbuhkan akar sebelum batang di potong dan di tanam. Cara ini untuk meminimalisasi tingkat kegagalan dalam perbanyakan tanaman. Cara ini dipilih untuk menghasilkan tanaman baru yang memiliki sifat persis seperti induknya. Sifat ini seperti ketahanan terhadap hama dan penyakit, rasa buah, dan keindahan bunga. Hal ini karena seperti hasil cangkok bisa dikatakan hampir 100 % serupa dengan induknya, tetapi jika hasilnya menyimpang dari induknya biasanya disebabkan oleh mutasi gen.

c) Teknik Okulasi

Okulasi merupakan jenis teknik perbanyakan tanaman dengan cara menggabungkan dua tanaman yang sejenis. Ada dua jenis okulasi yaitu dengan cara menempel dan cara menyambung. Okulasi menempel yaitu menempelkan tunas pada batang bawah atau batang induk, sedangkan okulasi menyambung yaitu menyambung dua batang pohon. Okulasi ini biasanya menggunakan batang bawah dan atas dari satu spesies atau satu varietas. Penyambungan tanaman dari satu varietas atau satu spesies memang dapat dilakukan untuk meminimalisasi kerusakan.

d) Teknik Sambung / Teknik Grafting

Sambung merupakan salah teknik perbanyakan tanaman yang dilakukan dengan cara menggabungkan antara batang bawah dan batang atas dari dua tanaman yang sejenis, sehingga akan tercapai persenyawaan, dimana kombinasi ini akan terus tumbuh membentuk tanaman baru. Berbeda dengan teknik okulasi yang hanya menggunakan satu mata tunas sebagai calon batang atasnya, teknik sambung ini menggunakan seluruh bagian pucuk tanaman sepanjang 7,5-10 cm.

Tujuan teknik sambung ini adalah untuk menggabungkan dua sifat unggul dari individu yang berbeda. seperti halnya untuk menyokong tumbuhan dibutuhkan jenis tumbuhan yang memiliki akar kuat. Sementara untuk menghasilkan buah atau daun atau bunga yang banyak dibutuhkan tumbuhan yang memiliki produktivitas tinggi. Tumbuhan yang dihasilkan memiliki akar kuat dan produktivitas yang tinggi. Tanaman yang bisa disambung adalah tanaman yang berkambium asalkan dalam satu varietas atau satu spesies. Contoh tanamannya adalah mangga, jambu, apel, dll.[30]

Berikut adalah kelebihan dan kekurangan teknik ini :

NO

KELEBIHAN

KELEMAHAN

1

Masa muda tanaman relatif pendek,

sistem perakaran kurang kuat karena tidak memiliki akar tunggang,

2

Tanaman lebih cepat bereproduk,

Mewarisi sifat jelek induknya di samping sifat baik induknya,

 

3

Dapat diterapkan pada tanaman yang tidak menghasilkan biji,

Biaya pengadaan bibit mahal,

4

Sifat-sifat yang lebih baik pada induknya dapat diturunkan,

Waktu yang dibutuhkan relatif lama,

5

Dapat tumbuh pada tanah yang memiliki lapisan tanah dangkal karena memiliki sistem perakaran yang dangkal.

 

Sulit memperoleh tanaman dalam jumlah yang besar yang berasal dari satu pohon induk.

 

B. Tujuan Pembibitan

Tujuan pembibitan yaitu untuk memperbanyak tumbuhan agar kelak tidak habis atau punah.

C. Alat dan Bahan Pembibitan

1) Benih adalah bahan dasar sangat kecil, biasanya berupa biji

2) Pupuk Organik,

3) Polibek  atau plastik hitam,

4) Air hangat,

5) Air biasa,

6) Kain, dan

6) Media tanam

• Pemupukan

A. Pengertian Pemupukan

Pemupukan merupakan proses untuk memperbaiki unsur-unsur hara pada tanah,baik secara langsung atau tak langsung agar dapat memenuhi kebutuhan bahan makanan pada tanah.

B. Macam Pupuk

Berikut adalah macam-macam pupuk, diantaranya:

1)      Organik,

adalah pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup. Sebagian besar pupuk organik berbentuk cair.Pada saat ini, produk yang dihasilkan dari budi daya atau peternakan yang menggunakan pupuk organik lebih disukai masyarakat. Alasanya, produk tersebut lebih aman bagi kesehatan. Di negara-negara maju, masyarakatnya mulai beralih mengonsumsi produk yang dihasilkan secara organik. Produk yang dihasilkan dari budi daya atau peternakan yang menggunakan pupuk organik memiliki nilai jual yang lebih tinggi.

2)      Anorganik,

pupuk yang yang hanya mengandung satu unsur hara yang diperlukan tanaman. Pupuk tunggal yang mengandung nitrogen adalah urea, ZA, ASN, dan amonium nitrat. Pupuk tunggal yang mengandung fosfor adalah DS (dubbelsuperfosfat), TSP (trplesuperfosfat), dan SP-36. Pupuk tunggal yang mengandung kalium adalah pupuk KCL dan ZK. Ketiga unsur tersebut (N,P dan K) merupakan unsur hara mikro di antaranya Mikrofid Mn-10 dan Mikrofid Zn-10. Pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur hara. Di pasaran, pupuk majemuk yang paling banyak ditemukan adalah NPK. Pupuk NPK 21-21-21 artinya pupuk tersebut mengandung N, P, dan K masing-masing 21%. Pupuk majemuk adalah Microba Super, Metalik, dan, Mikroplex.[31]

C. Alat dan Bahan Pembuatan Pupuk Organik

1) Obat E4

adalah cairan yang berisi campuran dari beberapa mikroorganisme hidup yang bermanfaat dan berguna bagi proses penguraian dan persediaan unsur hara tanah. Bentuk EM4 adalah berupa cairan yang berwarna kecokelatan dan beraroma segar. EM4 sendiri mengandung bakteri fermentasi, mulai dari genus Lactobacillus, jamur fermentasi, bakteri fotosintetik Actinomycetes, bakteri pelarut fosfat, dan juga ragi.[32]

2) Gula jawa

3) Sampah Organik

4) plastik

 

10. Biopori

A. Pengertian Biopori

Yaitu lubang yang dibuat secara vertikal kedalam tanah sebagai metode resapan air yang ditunjukan untuk mengatasi genangan air dengan cara meningkatkan daya resapan air pada tanah. Biopori adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah sebagai metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi genangan air dengan carameningkatkan daya resap air pada tanah.

Metode ini dicetuskan oleh Dr. Kamir Raziudin Brata,salah satu peneliti dari Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas PertanianInstitut Pertanian Bogor. Peningkatan daya resap air pada tanah dilakukan dengan me\mbuat lubang pada tanah dan menimbunnya dengan sampah organik untuk menghasilkan kompos. Sampah organik yang ditimbunkan pada lubang ini kemudian dapat menghidupi fauna tanah, yang seterusnya mampu menciptakan pori-pori di dalam tanah. Teknologi sederhana ini kemudian disebut dengan nama biopori.

B. Manfaat Biopori

Manfaat yang dapat diambil dari dibuatnya biopori adalah sebagai berikut:

1) Penyerapan air

Biopori mampu meningkatkan daya penyerapan tanah terhadap air, sehingga risiko terjadinya (penggenangan air (waterlogging) semakin kecil. Air yang tersimpan ini dapat menjaga kelembaban tanah bahkan di musim kemarau.

Keunggulan ini dipercaya bermanfaat sebagai pencegah banjir. Dinding lubang biopori akan membentuk lubang-lubang kecil (pori-pori) yang mampu menyerap air. Sehingga dengan lubang berdiameter 10 cm dan kedalaman 100 cm, dengan perhitungan (geometri tabung sederhana akan didapatkan bahwa lubang akan memiliki luas bidang penyerapan sebesar 3.220,13 cm2. Tanpa biopori, area tanah berdiameter 10 cm hanya memiliki luas bidang penyerapan 78 cm persegi. Biopori telah dibuat di berbagai tempat di Jakarta dengan tujuan untuk mengurangi risiko terjadinya genangan air. Selain di Jakarta, biopori juga dibuat di daerah yang tidak memiliki risiko banjir. Biopori tersebut bermanfaat untuk menjaga keberadaan air tanah dan kelestarian mata air.

Biopori menjadi alternatif penyerapan air hujan di kawasan yang memiliki lahan terbuka yang sempit. Di Puncak, Bogor, biopori dibangun untuk mengembalikan fungsi penyerapan air di kawasan tersebut sehingga kondisi hulu sungai Ciliwung menjadi lebih sehat. Sejak dijadikan sebagai perkebunan teh, kawasan villa, dan kawasan wisata, Puncak mengalami penurunan kemampuan penyerapan air hujan sehingga risiko erosi dan peluapan air sungai di musim hujan menjadi lebih besar.

Namun menurut penelitian oleh LIPI, biopori tidak mampu mencegah banjir, namun efektif dalam menangani genangan air.Dengan dimensi pori-pori yang kecil, maka laju penyerapan air dikatakan relatif lebih lambat dibandingkan dengan debit aliran air ketika terjadi banjir bandang. Inventor biopori, Kamir R Brata sendiri pun mengingatkan bahwa fungsi biopori bukan hanya sebagai penyerap air karena hujan dan genangan air tidak terjadi sepanjang tahun, namun sampah organik dapat menumpuk setiap saat dan itulah yang seharusnya menjadi fokus dari biopori. Efektifitas dalam mengatasi genangan air tersebut diyakini juga dapat menangani jentiknyamuk(pembawa penyakit.

2) Penanganan limbah organik

Biopori juga dapat mengubah sampah organik menjadi kompos. Pengomposan sampah organik mengurangi aktivitas (pembakaran sampah yang dapat meningkatkan kandungan gas rumah kaca di atmosfer. Setelah proses pengomposan selesai, kompos ini dapat diambil dari biopori untuk diaplikasikan ke tanaman. Kemudian biopori dapat diisi dengan sampah organik lainnya.nSampah organik yang dapat dikomposkan di dalam biopori diantaranya sampah taman dan kebun (dedaunan dan ranting pohon), sampah dapur (sisa sayuran dan tulang hewan), dan sampah produk dari pulp ((kardus dan kertas). Sama seperti proses pengomposan secara umum, rasio C/N menentukan kualitas kompos yang akan didapatkan. Umumnya, masalah utama pengomposan adalah pada rasio C/N yang tinggi, sehingga dekomposisi berjalan lambat.Untuk mengatasinya, penambahan limbah yang mengandung unsur N tinggi seperti limbah hewani perlu dilakukan. Namun penambahan demikian perlu dicermati karena terlalu banyak limbah hewani akan menyebabkan kompos menjadi berbau pada tahap awal pengomposan.

3) Kesehatan tanah

Biopori juga dapat meningkatkan aktivitas (organisme dan (mikroorganisme tanah sehingga meningkatkan kesehatan tanah dan perakaran tumbuhan sekitar.Organisme dan mikrorganisme tanah memiliki peran penting dalam Ekologi diantaranya sebagai detritivora dan pengikat nitrogen dari atmosfer. Pengikatan nitrogen mampu meningkatkan kadar nitrogen tanah sehingga penggunaan pupuk anorganikurea akan berkurang.

4) Penanggulangan banjir sekitar halaman rumah

Di area rumah, biopori dapat dibuat bahkan di tempat yang tanahnya tertutup semen, seperti di depan garasi mobil. Kawasan hijau di halaman rumah dapat dilengkapi dengan biopori. Penerapan 3R (reduce, reuse, dan recycle) di lingkungan rumah dapat dilakukan dengan biopori.  Ketika masih menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Rachmat Witoelar membuat biopori di rumah dinas Menteri Lingkungan Hidup

C. Alat dan Bahan Membuat Biopori

Alat yang digunakan untuk membuat biopori adalah sebagai berikut:

1) Bor

2) Air

3) Sampah organik

4) Pralon.[33]

D. Pembuatan Biopori

Berikut adalah cara untuk membuat biopori:

1) Sebelum mulai membuat biopori, terlebih dahulu tentukan lokasi yang akan dijadikan tempat pembuatan.

2) Setelah ditentukan tempatnya, siram tanah yang akan dijadikan sebagai tempat pembuatan biopori dengan air agar tanah menjadi lebih lunak dan mudah untuk dilubangi.

3) Lubangi tanah dengan menggunakan bor tanah, usahakan buat yang tegak lurus.

4) Buat lubang dengan kedalaman kurang lebih 1 meter dengan diameter 10-30 cm.

5) Setelah itu, lapisi lubang menggunakan pipa PVC yang ukurannya sama dengan diameter lubang.

6) Kemudian, isi lubang dengan sampah organik seperti daun, rumput, kulit buah-buahan, dan sampah yang berasal dari tanaman lainnya.

7) Setelah itu tutup lubang menggunakan kawat besi, atau bisa juga memakai tutup pipa PVC yang sudah dilubangi terlebih dahulu.

11. Analisis Vegetasi (Anveg)                            

A. Pengertian Analisis Vegetasi (Anveg)

Analisis vegetasi adalah metode yang dilakukan untuk mengetahui seberapa besar sebaran berbagai macam spesies yang ada dalam suatu area. Kegiatan ini umumnya dilakukan melalui pengamatan langsung dan dilakukan pula dengan membuat plot, serta mengamati morfologi dan identifikasi vegetasi yang ada.

Menurut Greigh-Smith (1983), analisis vegetasi adalah cara untuk mempelajari susunan dan atau komposisi vegetasi secara bentuk (struktur) vegetasi dari masyarakat tumbuh-tumbuhan. Bentuk atau struktur vegetasi yang dimaksud ilah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan tutupan tajuk.

Untuk melakukan analisa terhadap suatu vegetasi, diperlukan data-data antara lain jenis, diameter dan tinggi dalam menentukan indeks nilai penting penyusun komunitas hutan. Analisis vegetasi dapat dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif untuk mengetahui sebaran ragam hayati pada suatu ekosistem.

Vegetasi adalah kumpulan dari tumbuhan.

B. Tujuan Analisis Vegetasi (Anveg)

Beberapa ilmuwan melakukan analisis untuk tujuan tertentu. Salah satu tujuannya adalah untuk mengetahui seberapa besar sebaran berbagai macam spesies dalam suatu area.

Jika diamati secara langsung, maka kita dapat melihat vegetasi dominan pada suatu ekosistem. Namun dibutuhkan analisis yang tepat untuk mengetahui dengan jelas persentase dari vegetasi dominan.

 

Analisis vegetasi juga bisa dilakukan untuk tujuan mengetahui hubungan antara vegetasi dengan komunitas lainnya yang terdapat pada satu area tertentu. Melalui penelitian, maka dapat diketahui hubungan apa yang terdapat di antara vegetasi dengan makhluk hidup lain pada suatu ekosistem. Misalnya, seperti pohon, semak, rumput, lumut kerak, dan lain sebagainya.

Hasil akhir dari analisa vegetasi, antara lain diketahuinya kepadatan dan frekuensi serta dominasi dari organisme penyusun komunitas melalui data dalam bentuk grafik.

Analisis vegetasi merupakan suatu metode penting yang dianjurkan untuk mengetahui persebaran spesies pada area tertentu, serta hubungan antara spesies dengan komunitas lainnya.

10. Pertolongan Pertama pada Gawat Darurat (PPGD).

A. Pengertian Pertolongan Pertama pada Gawat Darurat (PPGD)         

Pertolongan pertama pada gawat darurat adalah serangkaian usaha-usaha pertama yang dapat dilakukan pada kondisi gawat darurat dalam menyelamatkan pasien dari kematian.

 

B. Tujuan, Pokok , dan Prinsip Dasar Pertolongan Pertama pada Gawat Darurat (PPGD)    

Tujuan dari PPGD adalah:

- Menyelamatkan nyawa korban

- Meringankan penderitaan korban

- Mencegah cedera/penyakit menjadi lebih parah

- Mempertahankan daya tahan koeban

- Mencarikan pertolongan yang lebih lanjut

Pokok-pokok PPGD

- Jangan panic

- Perhatikan pernafasan korban

- Hentikan pendarahan

- Prehatikan tanda-tanda shock dan patah tulang

- Jangan berikan makan dan minum pada korban yang tidak sadar

- Jangan memindahkan korban secara terburu-buru

Prinsip utama.

Prinsip utama dalam PPGD adalah menyelamatkan pasien dari kematian pada kondisi gawat daurat.

 

C. Langkah Dasar dalam Pertolongan pertama pada Gawat Darurat (PPGD)

Langkah-langkah PPGD dikenal dengan singkatan A-B-C-D (Airway, Breathing, Circulation, Disability)

A= Airway, bebaskan jalan nafas

B= Breathing, beri nafas tambahan oksigen

C= Circulation, hentikan pendarahan beri infus

D= Disability, cegah TIK naik

Algoritma dasar PPGD

1) Ada pasien tidak sadar

2) Pastikan kondisi tempat pertolongan aman bagi pasien dan penolong, beritahukan kepada lingungan sekitar bahwa anda akan melakukan pertolongan.

3) Cek kesadaran pasien

4);Lakukan dengan metode AVPU

A : Alert = Korban sadar, jika tidak lanjut ke poin V

V : Verbal = cobalah memanggil korban dengan bicara keras dan disertakan dengan menggoyang dan menyentuh korban. Jika masih belum merespon lanjut ke poin P

P : Pain = beri rangsang nyeri dengan cara menekan bagian putih kuku tangan atau menekan bagian tengan tulang dada (Sternum).

U : Unresponsive = jika setelah diberi rangsang pasien tidak bereaksi maka pasien dalam keadaan tidak sadar.

5) Call for Help, mintalah bantuan kepada masyarakat untuk menelepon ambulans

6) Bebaskan korban dari pakaian di daerah dada ( buka kancing baju bagian atas korban)

7) Posisikan diri disebelah korban, usahakan posisi kaki yang mendekati kepala atau sejajar dengan bahu pasien.

8) Cek apakah ada tanda-tanda berikut

                        - Luka-luka dari bagian dagu ke atas (supra calvicula)

                        - Pasien mengalami tumbukan diberbagai tempat

9) Tanda-tanda cedera pada bagian leher sangat berbahaya karena pada bagian ini terdapat syaraf-syaraf yang mengatur fungsi vital manusia.

- Jika tidak ada tanda-tanda tersebut maka lakukanlah Head Tilt and Chin Lift Chin Lift dilakukan dengan cara menggunakan dua jari lalu mengangkat tulang dagu ke atas. Ini disertai dengan melakukan Head Tilt yaitu menahan kepala dan mempertahankan posisinya. Hal ini dilakukan untuk membenarkan jalan afas korban.

- Jika ada tanda-tanda cedera, maka beralihlah ke bagian atas pasien, jepit kepala pasien dengan paha, usahakan agar kepalanya tidak bergerak-gerak lagi dan lakukanlah Jaw Thrust. Gerakan ini dilakukan untuk menghindari adanya cidera lebih lanjut pada leher korban.

10) Sambil melakukan a atau b lakukanlah pemeriksaan kondisi Airway (jalan nafas) dan Breathing (pernafasan) korban

11) Metode pengecekan menggunakan metode Look, Listen, and Feel

Look : Lihat apakah gerakan dada tersebut simetris

Listen : Dengarkan apakan suara nafas korban normal atau abnormal

Jenis-jenis suara nafas karena hambatan sebagian jalan nafas :

- Snoring : suara seperti mendengkur jika ada suara ini maka lakukanlah pengecekan langsung dengan cara cross finger untuk membuka mulut.

- Gargling : suara seperti berkumur, kondisi ini terjadi karena ada kebuntuan yang disebabkan oeh cairan, maka lakukan cross finger lalu lakukan finger- sweep (gunakan 2 jari yang telah dibalut dengan kain unuk “menyapu” rongga mulut dari cairan-cairan).

- Crowing : suara dengan nada tinggi, biasanya terjadi karena pembengkakan (edema) pada trakea, untuk pertolongan pertama tetap lalukan maneuver head tilt and chin lift atau jaw thrust saja.

Jika suara nafas tidak terdengar karena ada hambatan total pada jalannya nafas maka dapat dilakukan :

- Black bow sebanyak 5 kali, yaitu dengan memukul menggunakan telapak tangan pada daerah punggung korban

- Chest Thrust,  yang biasanya dilakukan pada ibu hamil, bayi dan penderita obesitas.

- Feel: Rasakan dengan pipi apakah ada hawa nafas dari korban

12) Jika ternyata pasien masih bernafas, hitunglah frekuensi pernafasan korban dalam 1 menit ( normalnya 12-20 kali per menit)

13);Jika frekuensi nafas normal, pantau terus kondisi dengan tetap melakukan Look, Listen and Feel.

14) Jika korban henti nafas, maka berikan nafas buatan. Setelah itu cek nadi carotis yang terletak dileher selama 10 detik..

15) Jika tidak ada denyut nadi lakukanlah pijat jantung, dengan diikuti nafas buatan, ulang sampai 6 kali yang diakhiri dengan pijat jantung.

16) Cek kembali nandi korban selama 10 detik, jika terrasa maka lalulan teknik look, listen, feel. Jika tidak lakukan poin 17

17) Pijat jantung dan nafas buatan diberhentikan apabila:

• Penolong sudah kelelehan,mdan sudah tidak kuat lagi.

• Pasien sidah menujukan tanda kematian ( kaku mayat )

• Bantuan sudah datang

• Terasa denyut nadi karotis

18) Setelah berhasil mengamankan kondisi korban, periksalah adakah tanda-tanda ada yang shok,

• Denyut nadi 100 x permenit

• Telapak tangan di basuh dan pucat

• Capilarry Refill Tim

19) Jika korban shock, lakukan shock position pada pasien yaitu dengan cara kaki koeban diangangkat setinggi 45 derajat.

20) Pertahankan posisi tersebut sampai bantuan datang dan tanda-rtanda shock menghilang.

21) Jika ada pendarahan pada korban, coba menghentikan pendarahan dengan cara menekan dan pendarahannya, dengan cara menekan area yang terdapat luka.

Setelah kondisi korban stabil tetap pantau kondisi korban dengan metode Look, Listen and Feel, karena sewaktu-waktu kondisi korban dapat memburuk.

 

Beberapa Penyakit yang sering ditemui dalam perjalanan di alam bebas antara lain :

- Mountain Sickness

Adalah Tekanan fisik akibat kesulitan menyesuaikan diri dengan tekanan oksigen rendah pada dataran tinggi. Sebagian besar kasus penyakit ketinggian bersifat ringan, tetapi beberapa mungkin mengancam nyawa.

- Hypotermia

Adalah suatu kondisi dimana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu kesulitan mengatasi tekanan suhu dingin.

- Kelainan Panas

Adalah Peningkatan sementara suhu tubuh rata-rata menjadi 37°C (98,6°F).

-          Heat Cramps

Adalah kejang otot hebat akibat keringat berlebihan yang terjadi saat melakukan aktivitas pada cuaca yang sangat panas.

Heat Cramps disebabkan oleh hilangnya banyak cairan dan garam (termasuk natrium, kalium, dan magnesium) akibat keringat yang berlebihan yang sering terjadi ketika melakukan aktivitas fisik yang berat. Jika tidak segera diatasi dapat menyebabkan Heat exhaustion.

Gejala :

• Kram yang tiba tiba mulai timbul ditangan, betis atau kaki

• Otot menjadi keras, tegang dan sulit untuk dikendurkan, terasa sangat nyeri.

Penanganannya :

- Melakukan istirahat dan relaksasi    

- Memberi makanan atau minuman yang mengandung garam.

- Heat Exhaustion

Keadaan yang terjadi akibat terpapar panas selama berjam jam, dimana hilangnya banyak cairan karena berkeringat. Dapat menyebabkan kelelahan, tekanan darah rendah, dan kadang pingsan, jika tidak segera diatasi dapat menyebabkan Heat Stroke.

Gejala :

• Kelelahan

• Kecemasan yang meningkat, dan badan basah kuyup karena keringat.

• Jika posisi berdiri, penderita akan merasa pusing karena darah terkumpul di pembuluh darah tungkai yang melebar akibat panas.

• Denyut jantung menjadi lambat dan lemah

• Kulit menjadi dingin, pucat dan lembab

• Penderita menjadi linglung atau binggung terkadang sampai pingsan

Penanganannya:

- Istirahat ditempat yang teduh

- Berikan minuman yang mengandung elektrolit

 

-          Heat Stroke

Heat stroke adalah kondisi mengancam jiwa dimana suhu tubuh mencapai lebih dari 40°C atau lebih. Heat stroke dapat disebabkan karena kenaikan suhu lingkungan, atau aktivitas yang dapat meningkatkan suhu tubuh

Tanda dan Gejala

• Kenaikan suhu, sampai 40°C atau lebih

• Tidak berkeringat. Jika heat stroke disebabkan oleh karena suhu lingkungan yang sangat panas, maka kulit cenderung terasa panas dan kering

• Kemerahan pada kulit

• Nafas menjadi cepat dan terasa berat

• Denyut jantung semakin cepat

• Sakit kepala seperti ditusuk-tusuk

• Gejala saraf lain, misalnya kejang, tidak sadar, halusinasi

• Otot bisa terasa kram, lalu selanjutnya terasa lumpuh

Penanganannya:

- Lepaskan pakaian

- Turunkan suhu inti (internal) sampal dengan 39°C

- Gunakan pakaian dingin dan handuk

- Taruh es pada kulit sambil menyemprot dengan air biasa.

- Gunakan Selimut Pendingin

- Masase pasien untuk meningkatkan sirkulasi

- Posisikan kipas angin listrik sehiugga menghembus pada pasien

- Pantau secara konstan suhu, dan tanda tanda vital

- Berikan oksigen dan pasang infus bila ada

- Segera bawa ke unit pelayanan kesehatan terdekat

 

13. Menejemen Perjalanan Rimba Gunung (MPRG)

Menejemen Perjalanan Rimba gunung adalah suatu kegiatan mengatur perjalanan rimba gunung mulai dari perencanaan, persiapan, pelaksanaan, sampai evaluasi yang tujuannya agar suatu kegiatan mounteneering dapat berjalan dengan lancar dan tertata rapi.

Petualangan alam bebas adalah kegiatan yang termasuk dalam kegiatan beresiko tinggi (high risk activity), sehingga untuk menghindari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan maka sebuah kegiatan alam bebas harus dipersiapkan secara matang oleh para pelakunya. Oleh karena itu perlu sebuah manajemen perjalanan yang tertata agar kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan lancar.

Secara garis besar sebuah kegiatan terbagi menjadi 3 fase:

1) Pra kegiatan

2) Pelaksanaan kegiatan

3) Pasca kegiatan

 

1) Pra kegiatan

a) Perencanaan kegiatan

• Maksud dan tujuan kegiatan

Ini adalah awal dari rangkaian kegiatan yaitu menentukan maksud perjalanan, tujuan lokasi, dan target yang akan dicapai. Contohnya yaitu kita akan mengadakan ekspedisi penelitian budaya ke pedalaman suku baduy, target yang akan dicapai antara lain pendataan sosial ekonomi, penelitian kepercayaan suku baduy, dll.

 

• Perencanaan waktu dan tempat

Kegiatan dilakukan kapan dan dimana tempat yang akan dibuat untuk kegiatan

• Pengumpulan data lokasi kegiatan

Seperti letak geografis dan administratif, kondisi wilayah (medan, masyarakat dan lingkungannya), budaya masyarakat lokal, akses ke lokasi, dan info-info penting lainnya tentang daerah tersebut.

 

• Perencanaan pendanaan

• Perencanaan kegiatan perjalanan

• Perencanaan logistik perlengkapan dan perbekalan

• Pembentukan tim

 

b) Persiapan perjalanan

Dilakukan sesuai dengan kebutuhan kegiatan tersebut. Meliputi ketua pelaksanan, sekretaris, bendahara, pendanaan, perlengkapan, perizinan dan transportasi, dokumentasi serta operasional lapangan yang mengurusi masalah teknis selama kegiatan

 

• Perijinan dan administrasi

• Pendanaan

• Pembuatan agenda kegiatan

• Pendalaman materi

Pendalaman materi disesuaikan dengan maksud dan tujuan kegiatan. Misalnya apabila akan melaksanakan perjalanan mendaki gunung es maka materi yang diberikan adalah yang berkaitan dengan pendakian gunung es seperti teknik pemanjatan gunung es, mountain sickness, dll.

• Persiapan fisik

Fisik sangat menentukan kelancaran kegiatan alam bebas, oleh sebab itu perlu adanya latihan fisik guna mempersiapkan kondisi fisik sebbelum kegiatan. Latihan atau training adlah suatu proses yang berlangsung secara sistematis, dilakukan secara berulang-ulang dengan kian bertambah jumlah beban latihannya dengan bentuk latihan yang spesifik.

• Persiapan perlengkapan

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mempersiapkan perlengkapan perjalanan yaitu kesesuaiannya dengan lokasi kegiatan, sesedikit mungkin barang dengan kegunaan sebanyak mungkin. Adapun spesifikasi perlengkapan yaitu perlengkapan pribadi dan perlengkapan kelompok.

• Perbekalan makanan

Hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan perbekalan:

– sesuaikan perbekalan dengan lamanya perjalanan, aktifitas yang akan dilakukan, serta kondisi medan

– mengandung kalori dan gizi yang cukup, serta tidak asing bagi lidah dan penciuman

– sebaiknya siap saji, irit air dan bahan bakar

Setelah perencanaan perbekalan dengan informasi lengkap, perkirakan kondisi medan dan aktifitas yang akan dilakukan, yaitu dengan melakukan hal-hal berikut:

– perhitungkan kalori yang dibutuhkan

Susun daftar makanan yang memenuhi rencana diatas, kemudian kelompokkan menurut komposisi dominan, kemudian hitung masing-masing kalori totalnya pada keadaan siap dimakan

– apabila ada kekurangan, tambahkan dengan suplemen berupa vitamin

• Survey kelayakan lokasi kegiatan

Setelah data tentang lokasi kegiatan telah terkumpul, perlu diadkan survey uji kelayakan lokasi kegiatan agar segala kemungkinan kendala bisa diantisipasi

• Try out

Untuk menilai kesiapan tim baik materi, fisik, Dan kemampuan lainnya, maka tim yang akan melakukan kegiatan perlu mengikuti try out. Hasil try out ini menjadi acuan kelayakan tim untuk melanjutkan kegiatan selanjutnya.

c) Publikasi kegiatan

Manfaat publikasi antara lain:

- Menunjang pencarian dana dalam kegiatan

- Sumber dana kegiatan biasanya berasal dari dana organisasi dan sponsor. Sebuah perusahaan atau instansi bersedia mengeluarkan dana sponsor apabila kita memiliki ruang pumblikasi yang menguntungkan untuk mereka.

- Sebagai citra organisasi

Pubikasi kegiatan yang baik akan berimbas pada meningktnya citra organisasi yang melakukan kegiatan tersebut.

- Sebagai informasi bagi masyarakat

- Untuk dokumentasi

2) Pelaksanaan kegiatan

a) Pembagian tugas dan kerjasama tim

Pembagian tugas disesuaikan dengan kebutuhan kegiatan lapangan. Ketua pelaksana beserta panitia sebagai penanggungjawab seluruh kegiatan dan mempersiapkan semua kebutuhan pra kegiatan, sedangkan operasional lapangan mengkoordinir tim lapangan. Pembagian tugas tim lapangan ditentukan sesuai dengan kebutuhan.

b) Manajemen perlengkapan dan perbekalan

Perlengkapan dan perbekalan adalah bagian paling penting dalam kegiatan, oleh sebab itu perlu pengaturan dalam penggunaannya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengaturan  dan perbekalan antara lain:

- data semua perlengkapan dan perbekalan

- rencanakan penggunaan peralatan perharinya

- jaga dan rawat peralatan tersebut

- bawa alat dalam jumlah sesedikit mungkin dengan manfaat yang sebanyak  mungkin

c) Sistem komando, komunikasi, dan rescue

Untuk kelancara kegiatan lapangan maka perlu sistem komando dan komunikasi yang bagus sehingga segala sesuatu seperti informasi mendadak, pengiriman berita dan data kecelakaan dapat direspon dengan cepat

d) Dokumentasi kegiatan

Mendokumentasikan kegiatan dalam bentuk foto, video, jurnal, dll sangat diperlukan. Selain sebagai bahan untuk laporan kegiatan, dokumen tersebut juga menjadi bahan untuk publikasi kegiatan tersebut.

 

3) Pasca kegiatan

a) Laporan kegiatan

Laporan kegiatan adalah bentuk hasil kegiatan yang dapat digunakan menjadi acuan dan tolak ukur kegiatan selanjutnya

b) Evaluasi kegiatan

Evaluasi kegiatan bertujuan agar segala kekurangan selama kegiatan bisa diminimalisir untuk kegiatan selanjutnya.[34]

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

1. Konservasi berasal dari kata conservation yang terdiri atas kata con (together) dan servare (keep/save) yang memiliki pengertian mengenai upaya pemelihara apa yang kita punya (keep/save what you have), namun secara bijaksana (wise use). Ide ini dikemukakan oleh Theodore Rooselvelt (1902) yang merupakan orang Amerika pertama yang mengungkapkan tentang konsep konservasi.

2. Ekologi didefinisikan sebagai pengkajian hubungan organisme-organisme atau kelompok-kelompok organisme terhadap lingkunganya, atau ilmu tentang hubungan timbal balik antara organisme-organisme hidup dengan lingkunganya.. Tingkatan Ekologi yaitu Populasi,ekosistem dan komunitas

3. Paradigma Etika lingkungan merupakan kebijaksanaan moral manusia dalam bergaul dengan lingkunganya. Ada tiga teori mengenai pengertian etika lingkungan, yaitu: Etika Deontologi, Etika Teologi, Etika keutamaan.

4. Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya keadaan, dan mahluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan kehidupan dan kesejahtraan manusia serta mahluk hidup lainya.

5. Metodologi penelitian adalah ilmu yang mempelajari cara-cara melakukan pengamatan dengan pemikiran yang tepat secara terpadu melalui tahapan-tahapan yang disusun secara ilmiah untuk mencari, menyusun, serta menganalisis dan menyimpulkan data-data, sehingga dapat dipergunakan untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran sesuatu pengetahuanberdasarkan bimbingan Tuhan.

6. AMDAL merupakan kajian dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup, dibuat pada tahab perencanaan dan digunakan untuk pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha atau kegiatan.

7. Jurnalistik adalah sesuatu kegiatan dari mencari, mengolah, sampai mempublikasikan suatu informasi yang tujuannya dipublikasikan kepada semua orang.

8. Advokasi adalah aksi strategis yang di tunjukan untuk menciptakan kebijakan umum yang bermanfaat bagi masyarakat atau mencegah munculnya kebijakan yang di perkirakan merugikan masyarakat.

9. Pembibitan adalah salah satu upaya untuk memperbanyak tanaman, baik secara generatif maupun vegetasi.

10. Biopori adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah sebagai metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi genangan air dengan carameningkatkan daya resap air pada tanah.

11. Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Untuk suatu kondisi hutan yang luas, maka kegiatan analisa vegetasi erat kaitannya dengan sampling, artinya kita cukup menempatkan beberapa petak contoh untuk mewakili habitat tersebut.

12. Pertolongan pertama pada gawat darurat adalah serangkaian usaha-usaha pertama yang dapat dilakukan pada kondisi gawat darurat dalam menyelamatkan pasien dari kematian.

13. Menejemen Perjalanan Rimba gunung adalah suatu kegiatan mengatur perjalanan rimba gunung mulai dari perencanaan, persiapan, pelaksanaan, sampai evaluasi yang tujuannya agar suatu kegiatan mounteneering dapat berjalan dengan lancar dan tertata rapi.

 


DAFTAR PUSTAKA

Liana. 2015. Pengantar Ekologi, Semarang: Karya Abadi Jaya.

Silalahi, Daud. 2010. AMDAL. Bandung: Karya Abadi Jaya.

Mawapala. 2015. Diktat Mawapala. Semarang: Mawapala.

Mawapala. 2016. Diktat Pendapa XXV. Semarang. Mawapala UIN Walisongo.

Mapadoks Pertolongan Pertama Gawat Darurat. Semarang. Mapadoks Universitas Sultan Agung

Giri Prasetyo, Wahyu. 2014. Ekologi. Meru Betiri Service Camp XVI.

Merdiono, Dheny, S.Hut.,Sc. 2014. Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, ,Meru Betiri Service Camp XVI.

Parrata, Ayub S. 2004. Pupuk Organik Cair Aplikasi dan Manfaatnya. Tangerang: Agromedia Pustaka.

Drs. Sumadiria, A.S Haris, M.Si, 2015. Jurnalistik Indonesia Menulis Berita dan Feature, Bandung, Simbiosa Rekatama Media.

Creswell JW.2016., Kuantitatif dan Campuran). Research Design (Pendekatan Metode Kualitatif. Yogyakarta. Pustaka pelajar.

Drs. Jko Christanto. M. Sc. Ruang Lingkup Sumber Daya Alam dan Lingkungan. PWKL4220/MODUL1

Indrawan mochamad,2007,Biologi Konservasi,jakarta:Yayasan Obor Indonesia

Teori Metodologi Penelitian.pdf

Makalah Pupuk Dari Sampah, Mawapala UIN Walisongo Semarang

http:hijau ovement.blogspot.com,.

http:pengertian sampah.com,

http://blogspot.com. definisi pembibitan tanaman.

http://penjual-mimpi.blogspot.co.id/2014/09/jenis-jenis-metode-penelitian-beserta.html,

https://boymarpaung.wordpress.com/2009/04/20/apa-dan-bagaimana-mempelajari-analisa-vegetasi/

 



[1] Merdiono, Dheny, S.Hut.,Sc. Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, ,(Meru Betiri Service Camp XVI, 2014), hlm.2

 

[2] Ibid, hlm:3.

[3] Ibid. hlm 3

[4] Ibid. hlm.3

 

[5] Ibid. hlm 5

[6] Ibid.10

[7] Drs. Jko Christanto. M. sc. Modul 1 Ruang Lingkup Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Hlm 5

[8] Dedi M. Rochman. Intisari Biologi SMA, (Pustaka Setia, 2000), hlm 95.

[9] Giri Prasetyo, Wahyu. Ekologi,(Meru Betiri Service Camp XVI, 2014), hlm.9

[10] Ibid. hlm 10

[11] Lianah.Pengantar Ekologi(Semarang:CV.Karya Abadi Jaya, 2015),hlm.75

[12] Ibid. hlm 75

[13] Indrawan Mochamad,2007,Biologi Konservasi, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

[14] Diktat MAWAPALA 2019 PENDAPA XXVIII,hal.68

[15] Ibid hlm 69

[16] Ibid hlm 69

[17] Ibid hlm 69

 

[18] Teori Metodologi Penelitian.pdf

[19] ://www.maxmanroe.com/vid/umum/metode-penelitian.html.

[20] https://www.maxmanroe.com/vid/umum/metode-penelitian.html.

[21] http://penjual-mimpi.blogspot.co.id/2014/09/jenis-jenis-metode-penelitian-beserta.html,

[22] perpustakaan Universitas Negeri Malang, skripsi tidak diterbitkan http://penjual-mimpi.blogspot.co.id/2014/09/jenis-jenis-metode-penelitian-beserta.html,

[23] Creswell JW. Research Design (Pendekatan Metode KUalitatif, Kuantitatif dan Campuran)

[24] http://penjual-mimpi.blogspot.co.id/2014/09/jenis-jenis-metode-penelitian-beserta.html

[25] http://penjual-mimpi.blogspot.co.id/2014/09/jenis-jenis-metode-penelitian-beserta.html

[26] https://www.google.com/amp/s/andymontero.wordpress.com/2016/01/24/pengertian-jenis-dan-langkah-langkah-metode-penelitian/amp/,

[27] SILALAHI DAUD. AMDAL, (Bandung:PT.Suara Harapan Bangsa, 2010),hal.29

[28] Diktat MAWAPALA 2019 PENDAPA XXVIII,hal.75-77

 

[29] Ibid. hlm 20-21

[30] http://cybex.pertanian.go.id/mobile/artikel/89228/Teknik-Perbanyakan-Vegetatif--Untuk-Menghasilkan-Bibit-Yang-Berkualitas-Unggul/,

[31] Parrata, Ayub S., Pupuk Organik Cair Aplikasi dan Manfaatnya, hlm 51

[32] https://8villages.com/full/petani/article/id/5e815f1f06a2c948309758ad,

[33] http:hijau ovement.blogspot.com.

[34] https://www.google.com/amp/s/plantagama.wordpress.com/2012/05/19/116/amp/,