DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR
DAFTAR
ISI
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
B.
Topik Masalah
BAB
II PEMBAHASAN
1.
Konservasi
A.
Pengertian Konservasi
B.
Sejarah Konservasi di Indonesia
C.
Macam Konservasi
D.
Konsep Konservasi
2.
Ekologi
A.
Pengertian Ekologi
B.
Kknsep Ekologi
C.
Tingkatam Ekologi
D.
Peran Ekologi dalam Kehidupan
3.
Paradigma Etika Lingkungan
A.
Pengertian Paradigma
B.
Pengertian Etika Lingkungan
C.
Teori Etika Lingkungan
4.
Lingkungan Hidup
A.
Pengertian Lingkungan Hidup
B.
Unsur Lingkungan Hidup
C.
Uapaya Pelestarian Lingkungan Hidup
5.
Metodologi Penelitian
A.
Pengertian Metodologi Penelitian
B.
Jenis Metode Penelitian
C.
Langkah dalam Metodologi Penelitian
6.
AMDAL
A.
Pengertian AMDAL
B.
Jenis Dokumen AMDAL
C.
Pihak yang Terlibat dalam AMDAL
7.
Jurnalistik
A.
Pengertian Jurnalistik
B.
Teknik Jurnalistik
8.
Advokasi
A.
Pengertian Advokasi
B.
Alasan Betadvokasi
C.
Tujuan Advokasi
D.
Langkah Beradvokasi
9.
Pembibitan dan Pemupuka
Pembibitan
A.
Pengertian Pembibitan
B.
Tujuan Pembibitan
C.
Alat dan Bahan Pembibitan
Pemupukan
A.
Pengertian Pemupukan
B.
Macam Pemupukan
C.
Alat dan Bahan Pembuatan Pupuk Organik
10.
Biopori
A.
Pengertian Biopori
B.
Manfaat Biopori
C.
Alat dan Bahan Pembuatan Biopori
D.
Pembuatan Biopori
11.
Anveg
A.
Pengertian Anveg
B.
Kegunaan Anveg
12.
Pertolongan Pertama pada Gawat Darurat (PPGD)
A.
Pengertian Pertolongan Pertama pada
Gawat Darurat (PPGD)
B.
Tujuan, Pokok, dan Prinsip Dasar Pertolongan Pertama pada Gawat Darurat (PPGD)
13.
Menejemenn Perjalanan Rimba Gunung (MPRG)
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Istilah “konservasi” berasal dari kata dalam bahasa Inggris yaitu “conservation” yang secara genealogis
bersumber dari kata con (together)
dan servare (to keep, to save) yang dimengerti sebagai upaya memelihara milik
kita (to keep, to save what we have), dan menggunakan milik tersebut secara
bijak (wise use). Ide ini dikemukakan
oleh Theodore Roosevelt (1902) yang merupakan orang Amerika pertama yang
mengemukakan konsep konservasi. Konservasi juga dapat dipandang dari segi
ekonomi, sosial dan Ekologi.
Konservasi dari segi ekonomi berarti mencoba memanfaatkan sumberdaya alam untuk
sekarang. Dari segi Ekologi,
konservasi merupakan pemanfaatan sumberdaya alam untuk sekarang dan masa yang
akan datang. Sementara dari segi sosial, konservasi merupakan pemanfaatan
sumberdaya alam yang harus dilakukan secara bijaksana.
Lingkungan adalah
kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi
surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam
lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan
bagaimana menggunakan lingkungan fisik . Lingkungan merupakan segala sesuatu
yang ada di sekitar manusia dan mempengaruhi perkembangan kehidupan manusia.
Oleh
karena itu, kita sebagai mahasiswa yang berorganisasi di bidang kepencinta
alaman sudah seharusnya kita menjaga dan melestarikan semua yang ada di bumi
ini, mulai dari flora, fauna, Medan alam, dan sebagainya. Untuk apa? Untuk
mewariskan kepada generasi penerus bangsa nantinya dan sebagai bentuk rasa
syukur kita kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat yang tek terhingga
dan sebagai timbal balik kita kepada-Nya yaitu dengan menjaga dan
melestarikannya. Kalau bukan kita siapa lagi?
B.
Topik
Pembahasan
1. Konservasi
2. Ekologi
3. Paradigma
Etika Lingkungan
4. Lingkungan Hidup
5. Metodologi Penelitian
6. AMDAL
7. Jurnalistik
8. Advokasi
9. Pembibitan dan Pemupukan
10. Biopori
11. Anveg
12. PPGD
13. MPRG
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Konservasi
Konservasi berasal dari
kata conservation yang terdiri atas
kata con (together) dan servare (keep/save)
yang memiliki pengertian mengenai upaya pemelihara apa yang kita punya (keep/save what you have), namun secara
bijaksana (wise use). Ide ini
dikemukakan oleh Theodore Rooselvelt (1902) yang merupakan orang Amerika
pertama yang mengungkapkan tentang konsep konservasi.
Sedangkan menururt
Rijksen (1981), konervasi merupakan suatu bentuk evolusi kultural dimana pada
saat dulu, upaya konservasi lebih buruk daripada sekarang. Konervasi juga dapat
dipandang dari segi ekonomi dan Ekologi
dimana konservasi dari segi ekonomi berarti mencoba mengalokasikan sumberdaya
alam untuk sekarang, sedangkan dari segi Ekologi,
konservasi merupakan alokasi sumberdaya alam untuk sekarang dan masa yang akan
datang.
Secara sederhana konservasi sumberdaya
alam dapat diartikan sebagai bentuk pengelolaan sumberdaya alam yang
pemanfaatanya dilakukan secara seimbang dan bijaksana[1]
Adapun
menurut ilmu biologi, konservasi adalah:
• Efisiensi penggunaan, produksi,
transmisi, atau distribusi energi yang berakibat pada turunnya konsumsi energi
dengan tetap menghasilkan manfaat yang sama;
• Pelestarian dan pengelolaan
lingkungan dan sumber daya alam secara bijaksana;
• Pelestarian dan perlindungan jangka
panjang terhadap lingkungan, memastikan bahwa habitat alami suatu area dapat
dipertahankan, sementara keanekaragaman genetik dari suatu spesies dapat tetap
ada dengan mempertahankan lingkungan alaminya.
Di
Indonesia, berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun1990 tentang Konservasi
Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya pada Pasal 1 angka 2, disebutkan bahwa
pengertian konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya
alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin
kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas
keanekaragaman dan nilainya.
B.
Sejarah Konservasi di Indonesia
Kegiatan Sumberdaya
alam Hayati dan Ekosistemnya yang ada di Indonesia telah dilakukan oleh nenek
moyang kita, yang dimulai dari jaman kerajaan Nusantara, jaman penjajahan
Belanda, jaman penjajahan Jepang dan jaman kemerdekaan.[2]
1.
Jaman Kerajaan Nusantara
Secara Implisit pada
jaman kerajaan Nusantara tidak banyak arsip tertulis mengenai konservasi
sumberdaya alam, tetapi secara eksplisit tindakan konservasi tercermin dalam
pola perilaku masyarakat dalam berhubungan dengan alam yang merupakan warisan
turun temurun.
Saat itu masyarakat
memepercayai kekuatan alam, mistifikasi benda-benda, juga memiliki prinsip
membangun harmonisasi antara manusia dengan alam. Alam dianggap suci, raja-raja
melakukan ritual dan pemujaan terhadap penguasa alam, dewa-dewa dan roh-roh
leluhur.
Salah satu contoh bahwa
masyarakat pada jaman kerajaan telah melakukan upaya konservasi adalah tertuang
Prasasti Malang (1395) hal ini adalah wujud kebijakan konservasi masa Majapahit.
Bunyi dari Prasasti Malang, bila diartikan adalah sebagai berikut :
Pemberitahuan
Kepada
seluruh satuan tata negara si parasama di sebelah timur Gunung Kawi, baik di
timur atau di barat batang air (Berantas); diberitahukan kepada sekalian Wedana,
Juru, Bujut, terutama kepada Pacatanda di Turen. Bahwa telah kita perkuat
perintah seri paduka Batara Pratama Iswara, yang ditanam di Winubawana dan
begitu pula perintah seri paduka yang ditanam di Kertabuana, berhubungan dengan
kedudukan satuan tata negara si parasame Katiden yang meliputi sebelas desa.
Oleh
karena masyarakat itu berkewajiban mengamat-amati padang alang-alang di lereng
gunung Ledjar, supaya jangan terbakar, maka haruslah ia dibebaskan dari
pembayaran pelbagai titisara. Selanjutnya masyarakat dilarang menebang pohon
kayu dari hutan kekayu dan memungut telur penyu dan getan, karena larangan itu
tidak berlaku padanya. Juga tidak seorang jua pun boleh melakukan di sana
peraturan larangan berupa apa jua. Apabila keputusan raja ini sudah dibacakan
maka Desa Lumpang haruslah menurutnya. Demikianlah diselenggarakan pada bulan
pertama pada tahun Saka 1317”.
Serta
masih banyak lagi kegiatan dari masyarakat pada jaman kerajaan yang pola
perilakunya mencerminkan adanya upaya konservasi.
2.
Jaman Penjajahan Belanda
Selama periode tahun
1714 sampai 1889, ada dua peristiwa yang menjadi tonggak konservasi. Pertama
adalah tahun 1714, saat itu seorang anggota Dewan Hindia Belanda yang bernama
C. Chastelein (1657-1714) yang sangat tinggi moralnya, dengan surat wasiat
tertanggal 13 Maret 1714 memberikan kebebasan kepada sesama umatnya yang
beragama Katholik dan menawarkan kepada mereka dua bidang Persil dekat Depok,
dengan syarat lahan itu tidak boleh dipindah tangankan. Hutan seluas 6 hektar
yang ada diatasnya tidak boleh dijadikan lahan tani.[3]
Peristiwa kedua pada
tahun 1889, Kawasan Hutan Alam Cibodas dikukuhkan sebagai Cagar Alam seluas 280
Ha berdasar usulan Direktur Lands
Plantetuin (KBR Bogor), untuk penelitian flora hutan pegunungan meluas
hingga Gunung Gede-Pangrango pada tahun 1925.Pada saat itu juga terjadi
pertentangan antara kelompok perlindungan alam dengan pemerintah Hindia
Belanda, yaitu Kegiatan ekploitasi terhadap burung-burung di daerah ternate.
Sehingga pada tahun 1897 atas desakan kelompok perlindungan alam, pemerintah
Hindia Belanda Peristiwa kedua pada tahun 1889, Kawasan Hutan Alam Cibodas
dikukuhkan sebagai Cagar Alam seluas 280 Ha berdasar usulan Direktur Lands Plantetuin (KBR Bogor), untuk
penelitian flora hutan pegunungan meluas hingga Gunung Gede-Pangrango pada
tahun 1925.Pada saat itu juga terjadi pertentangan antara kelompok perlindungan
alam dengan pemerintah Hindia Belanda, yaitu Kegiatan ekploitasi terhadap burung-burung
di daerah ternate. Sehingga pada tahun 1897 atas desakan kelompok perlindungan
alam, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan aturan-aturan tentang pembatasan
perdagangan binatang liar (satwa liar).
Banyak produk hukum
yang telah dikeluarkan oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai bentuk upaya
perlindungan terhadap sumberdaya alam di Indonesia, diantaranya adalah :
a) Perlindungan burung cendrawasih dan
burung-burung lain yang menarik (Staatblad
497-Oktober 1909 dan Staatbald
594-Desember 1909)
b) Undang-undang perlindungan bagi mamalia
liar dan burung liar tahun 1910 (Ordonnantie
tot Bescherming van sommige in het levende Zoogdieren en Vogels)
c) Peraturan perlindungan
binatang-binatang liar tahun 1931 (Dierenbeschermings
verordening), penetapan 36 jenis satwa dilindungi.
d) Ordonasi Cagar Alam dan Suaka
Margasatwa tahun 1932 (Natuur Monumenten
en Wildreservaten Ordonantie) yang kemudian diganti menjadi Peraturan
Perlindungan Alam (Statbald 167/1941)
Sampai akhir
pendudukanya di Indonesia, Belanda telah menetapkan lebih dari 70 Cagar Alam di
Indonesia.
3.
Jaman Penajajahan Jepang
Berbeda dengan Belanda,
pemerintah Jepang yang menduduki Indonesia tidak memiliki perhatian yang penuh
terhadap upaya konservasi. Jepang lebih mengurusi hutan jati yang telah ditanam
oleh Belanda sejak berpulu-puluh tahun sebelumnya.[4]Tetapi sampai akhir pendudukan Jepang luas lokasi yang ditetapkan
sebagai cagar alam adalah 3 juta hektar pada 117 lokasi yang tersebar di pulau
Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan pulau lain.
4. Jaman
Kemerdekaan
Upaya perlindungan alam dimulai sejak tahun 1947, penunjukkan Bali
Barat sebagai suaka alam tas prakarsa Raja-raja Bali sendiri. Pada tahun 1950,
Jawatan Kehutanan RI meempatkan seorang pegawai khusus untuk urusan perlindungan
alam saat itu petugas diberi tugas untuk mengusut perburuan badak di Ujung
Kulon. Tahun 1952 dibentuk Lembaga Pengawetan Alam (LPA) bagian Penyelidikan
Alam KBR Bogor. Sedangkan tahun, 1956, Jawatan kehutanan membentuk Bagian
Perlindungan Alam (BPA)[5]
C.
Macam Konservasi
Kawasan konservasi
merupakan kawasan yang sangat penting bagi perlindungan dan pengawetan sumber
daya alam dan budaya secara global. Undang-undang No.5/1990 tentang Konservasi
Sumber Daya Alam (SDA) Hayati dan Ekosistemnya mendefinisikan, kawasan
konservasi terdiri dari:
1. Kawasan Suaka Alam (KSA)
Adalah kawasan dengan
ciri khas tertentu baik di daratan maupun diperairan yang mempunyai fungsi
pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta
ekosistemnya, juga berfungsi sebagai wilayah meliputi cagar alam dan suaka
marga satwa.
2.
Kawasan Pelestarian Alam (KPA)
Adalah kawasan dengan ciri khas tertentu baik di daratan maupun di
air mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan,
keanekaragaman hayati, jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfatan secara
lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Meliputi Taman Nasional,
Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam.
Beberapa pengertian yang berkaitan dengan konservasi sumber daya alam
hayati dan ekosistemnya menurut Undang-undang :
a) Hutan adalah
kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang
didominasi pohon dalam persekutuan alam lingkunganya satu dengan yang lainya
tidak dapat dipisahkan.
b) Hutan konservasi adalah kawasan hutan yang mempunyai ciri khas
tertentu yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan
satwa serta ekosistemnya.
c) Hutan
lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem
penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan
erosi dan memelihara kesuburan tanah.
d) Hutan
produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil
hutan.
e) Kawasan suaka alam merupakan kawasan dengan ciri khas tertentu
baik didarat maupun diperairan yang mempunyai fungsi pokok pengawetan
keanekaragaman hayati juga berfungi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan.
f) Sumberdaya alam adalah unsur-unsur lingkungan alam, baik fisik
maupun hayati yang diperlukan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan dan
meningkatkan kesejahteraanya.
g) Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya adalah
pengelolaan sumberdaya alam hayati yang pemanfaatanya dilakukan secara
bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaanya dengan tetap memelihara dan
meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya.
h) Kawasan
pelestarian alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik didarat maupun
diperairan yang mempunyai fungi perlindungan sistem penyangga kehidupan,
pengawetan keankaragaman jenis tumbuhan dan satwa, sert5a pemanfaatan secara
lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.
i) Cagar
alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan
tumbuhan, satwa serta ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembanganya
berlangsung secara alami.
j) Suaka margasatwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri
khas berupa keanekaragaman dan atau keunikan jenis satwa dimana untuk
kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap habitatnya.
k) Taman
nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli,
dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu
pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi.
l) Taman Hutan Raya (TAHURA) adalah kawasan pelestarian alam yang
bertujuan untuk koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau buatan, jenis
asli dan bukan asli yang dimanfaatkan untuk kepentingan penelitian, ilmu
pengetahuan, pendidikan, menunjang budaya, pariwisata dan rekreasi.
m) Taman
wisata alam adalah kawasan pelstarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk
pariwisata dan rekreasi.
n) Kebun raya : tempat yang mempunyai fungsi utama melakukan upaya
koleksi, pemeliharaan dan perbanyakan berbagai jenis tumbuhan sebagai sarana
perlindungan dan pelestarian alam dan dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan,
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta sarana rekreasi yang sehat.
o) Taman
safari adalah kebun bnatang yang kondisi alamnya sedemikian rupa sehingga
mendekati habitat aslinya.
p) Konservasi In-Situ : upaya konservasi jenis flora dan fauna
yang dilakukan di habitat alamnya, baik di dalam hutan yang terdapat di dalam
kawasan koservasi maupun di luar kawasan konservasi.
q) Konservasi Ex-Situ : upaya konservasi jenis flora dan fauna
yang dilakukan di luar habitat alaminya[6]
D. Prinsip-Prinsip Konservasi
Prinsip
Konservasi, antara lain:
1. Perlindungan sistem penyangga
kehidupan
2. Pengawetan keanekaragaman jenis
tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya
3. Pemanfaatan secara lestari sumber daya
alam hayati dan ekosistemnya.
E. Konsep
Konservasi
Dari penertian maupun history panjang mengenai konservasi diatas, sudah
bia dilihat bahwa pada zaman dahulu, konsep konservasi sudah ada dan sudah
diperkenalkan manusia, meskipun masih bersifat konservatif atau ekslusif
(kerajaan). Konsep tersebut adalah konsep kuno yang merupakan cikal bakal
konsep konservasi modern, yaitu konsep konservasimodern yang menekankan pada
upaya memelihara dan memanfaatkan sumber daya tang tersedia secara bijaksana.[7]
2. Ekologi
A. Pengertian Ekologi
Ekologi ilmu
mengkaji hubungan timbal balik (interaksi) antara makhluk hidup dengan
lingkungannya. Hubungan timbal balik antara makhluk hidup (sebagai komponen
biotik) dengan lingkungannya (sebagai komponen abiotik) dikenal dengan istilah ekosistem.[8]
Ekologi
berdasarkan sudut pandang pengkajianya dibedakan menjadi autekologi dan syntekologi. Autekologi kajiannya lebih berfokus pada individu
organisme atau spesies, sedangkan syntekologi membahas pengkajian golongan atau
kumpulan organisme yang berasosiasi bersama sebagai satu kesatuan. Studi
tentang harimau jawa dan faktor penyebab berkurangnya populasinya adalah contoh
autokologi, sedangkan studi keragaman
hayati di Cagar Alam Nusa Barong adalah contoh syntekolog[9]
B.
Konsep Ekologi
Sistem adalah komponen-komponen yang
secara teratur berinteraksi dan saling tergantung membentuk suatu keseluruhan
yang satu. Ekosistem adalah satuan fungsional dasar dalam ekologi yang meliputi komponen
biotik dan abiotik yang masing-masing saling mempengaruhi.
Komponen abiotik adalah komponen tidak hidup yang diantaranya adalah tanah, air,
udara, iklim serta termasuk di dalamnya adalah bahan-bahan atau senyawa-senyawa
anorganik dan organik. Komponen biotik adalah
komponen makhluk hidup yang meliputi 6 kingdom yaitu tumbuhan, hewan, jamur,
protista (alga atau ganggang, mirip jamur dan mirip hewan), monera (archaebacteria, eubacteria dan cynobanteria) dan virus[10]
Ekosistem mampu memelihara dan mengatur
diri sendiri seperti halnya komponen penyusunnya yaitu organisme dan populasi.
Namun manusia cenderung mengganggu sistem pengendalian alamiah. Ekosistem
merupakan kumpulan dari bermacam-macam dari alam tersebut, contoh hewan,
tumbuhan, lingkungan, dan yang terakhir manusia
C.
Tingkatan Ekologi
a. Populasi
Populasi merupakan
kelompok organisme sejenis yang hidup dan berkembangbiak pada daerah tertentu[11]
b. Komunitas
Komunitas merupakan
kumpulan dari berbagai populasi yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu
sama lain.
c. Ekosistem
Ekosistem merupakan
suatu sistem di alam, di dalamnya terjadi hubungan timbal balik antara
organisme satu dengan organisme lainya, juga dengan keadaan lingkungan[12]
C. Peran Ekologi dalam Kehidupan
Ekologi
memikili banyak peran penting terhadap kehidupan, diantaranya:
1. Mengenal lebih benyak
keanekaragamanb hayati,
2. Mengenal lebih jauh makhluk hidup,
3. Membantu mengetahui dampak
terhadap lingkungan,
4. Membantu memecahkan masalah
pangan, pertanian, energi, kesehatan,
5. Membuat proses industri yang lebih
maju, dan
6. Mengenal kesetimbangan dalam
kehidupan
3.
Paradigma Etika Lingkungan
A. Pengertian Paradigma
Secara
etimologis paradigma berarti model teori ilmu pengetahuan atau kerangka
berpikir. Sedangkan secara terminologis paradigma berarti pandangan mendasar
para ilmuan tentang apa yang menjadi poko kpersoalan yang semestinya dipelajari
oleh suatu cabang ilmu pengetahuan. Jadi,paradigma ilmu pengetahuan adalah
model atau kerangka berpikir beberapa komunitas ilmuan tentang gejala-gejala
dengan pendekatan fragmentarisme yang cenderung terspesialisasi berdasarkan
langkah-langkah ilmiah menurut bidangnya masing-masing.Paradigma adalah kumpulan
tata nilai yang membentuk pola pikir seseorang sebagai titik tolak pandangannya
sehingga akan membentuk citra subjektif seseorang – mengenai realita – dan
akhirnya akan menentukan bagaimana seseorang menanggapi realita itu.Paradigma
dalam disiplin intelektual adalah cara pandang seseorang terhadap diri dan
lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap
(afektif), dan bertingkah laku (konatif).
Paradigma adalah pandangan dasar yang di anut
oleh para ahli pada kurun waktu tertentu, yang di akui kebenarannya, dan di
dukung oleh sebagian besar komunitas, serta berpengaruh terhadap perkembangan
ilmu dan kehidupan. Harvey dan Holly (1981)
mengutip batasan pengertian paradigma yang di kemukakan oleh Kuhn dalam The Structure of Scientific
Revolution (1970) yang mengartikan paradigma sebagai “keseluruhan
kumpulan (konstelasi) kepercayaan-kepercayaan, nilai-nilai, cara- cara(teknik)
mempelajari, menjelaskan,cakupan, dan sarana kajian, dan sebagainya yang di
anut oleh warga suatu komunitas tertentu.[13]
B. Pengertian Etika Lingkungan
Etika lingkungan bersal dari dua kata,
yaitu Etika dan Lingkungan. Etika brasal dari bahasa yunani yaitu “Ethos” yang
berarti adat istiadat atau kebiasaan.
adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang mempengaruhi
kelangsungan kehidupan kesejahteraan manusia
dan makhluk hidup lain baik secara langsung maupun secara tidak.
Jadi Etika lingkungan merupakan
kebijaksanaan moral manusia dalam bergaul dengan lingkunganya. Etika lingkungan
diperlukan agar setiap kegiatan yang menyangkut lingkungan dipertimbangkan
secara cermat sehingga keseimbangan lingkungan tetap terjaga.
C. Teori Etika Lingkungan
Ada tiga teori mengenai
pengertian etika lingkungan, yaitu:
1.
Etika Deontologi adalah suatu tindakan di nilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau
tidak dengan kewajiban.
2.
Etika Teologi adalah baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan atau
akibat suatu tindakan.
3. Etika Keutamaan adalah mengutamakan pengembangan karakter moral
pada diri setiap orang
4.
Lingkungan Hidup
A.
Pengertian Lingkungan Hidup
Pengertian lingkungan adalah segala
sesuatu yang ada di sekitar manusia yang memengaruhi perkembangan kehidupan
manusia baik langsung maupun tidak langsung.Lingkungan bisa dibedakan menjadi
lingkungan biotik dan abiotik.
Menurut UU No. 32 tahun 2009, Lingkungan
Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya keadaan, dan mahluk hidup,
termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan kehidupan dan
kesejahtraan manusia serta mahluk hidup lainya.
B.
Unsur Lingkungan Hidup
1.
Unsur Abiotik
Abiotik adalah istilah
yang biasanya di gunakan untuk menyebut
sesuatu yang tidak hidup, (benda mati). Komponen abiotik merupakan komponen
penyusun ekosistem yang terdiri dari benda-benda mati sebagai penunjang
kehidupan organisme. Seperti : air, udara, cahaya, tanah dan iklim.
2.
Unsur Biotik
Biotik
yaitu komponen yang terdiri makhluk hidup. Berdasarkan peran dan
fungsinya, makhluk hidup di bedakan menjadi tiga macam, yaitu :
a) Produsen
Produsen merupakan
makhluk hidup yang dapat memproduksi makanannya sendiri. Proses tersebut hanya
bisa dilakukan oleh tumbuhan yang
berklorofil dengan cara fotosintesis. Contoh lumut dan tumbuhan hijau.
b) Konsumen
Konsumen yaitu mahluk
hidup yang tidak bisa membuat makananya sendiri dan tergantung pada mahluk
hidup lainya.
c) Dekomposer
Dekomposer yaitu
organisme yang menguraikan bahan organik menjadi bahan anorganik untuk kemudian
digunakan oleh produsen. Contohnya : bakteri pembusuk dan jamur.
3.
Unsur Sosial Budaya
Yaitu
lingkungan sosial dan budaya yang di buat oleh manusia dan merupakan sistem
nilai, gagasan, dan keyakinan dalam berprilaku seagai mahluk sosial.[14]
C. Upaya
Pelestarian Lingkungan Hidup
Kerusakan lingkungan hidup terjadi
sebagai ulah akibat tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab dalam
memanfaatkan sumber daya yang terkandung dialam. Oleh karena itu perlu adanya
upaya pelestarian lingkungan hidup. Adapun upaya-upaya pelestarian lingkungan
hidup, yaitu :
1.
Peraturan Pelestarian Lingkungan Hidup
Pemerintah telah
mengeluarkan peraturan yang berkaitan dengan pengaturan dan pengelolaan
lingkungan hidup, yaitu UU No 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan
Hidup. Undang-Undang tersebut kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam PP No 27
tahun 1999 mengenai Analisis Dampak Lingkunga, PP No 19 tahun 1999 mengenai
Pengendalian Pencemaran Danau atau Perusakan Laut dan PP No 41 Tahun 1999
tebtang Pengendalian Pencemaran Udara.[15]
2.
Pelestarian di Lingkungan Darat
Pelestarian di
lingkungan darat, antara lain:
a) Reboisasi atau Penghijauan yaitu penanaman kembali pada daerah
hutan yang gundul.
b)
Rehabilitasi Lahan yaitu pengembalian tingkat
kesuburan tanah-tanah yang kritis dan tidak produktif.
c) Menjaga daerah resapan air diupayakan senantiasa hijau dengan cara
ditanami oleh berbagai tanaman keras sehingga dapat meresap air dengan banyak,
sehingga dapat menyimpan persediaan air di tanah.
d) Membuat sengkedan (terasering) bagi daerah–daerah pertanian
yang memiliki kemiringan lahan curam yang rentan terhadap erosi.[16]
3.
Pelestarian di Lingkungan Perairan
Pelestarian di
lingkunga perairan, antara lain:
a) Larangan pembuangan limbah rumah tangga
agar tidak kesungai.
b) Penyediaan tempat sampah, didaerah pantai yang dijadikan tempat
wisata.
c) Memberlakukan Surat Izin Pengambilan Air
(SIPA).
d) Netralisasi limbah industri sebelum
dibuang kesungai
e) Menangkap ikan tidak menggunakan
bahan kimia
4.
Pelestarian di Lingkungan Udara
Upaya pelestarian dilingkungan udara
dengan cara mengontrol kadar polusi udara, memberi informasi jika kadar polusi
melebihi ambang batas yang dikenal dengan emisi gas buang.[17]
5. Metodologi
Penelitian
A. Pengertian Metodologi Penelitian
“Metodologi Penelitian” berasal dari
kata “Metode” yang artinya cara yang tepat untuk melakukan sesuatu, dan “Logos” yang artinya ilmu pengetahuan.
Jadi, metodologi artinya cara melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran
secara seksama untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan “Penelitian” adalah suatu
kegiatan untuk mencari, mencatat, merumuskan,. Dan menganalisis sampai menyusun
laporannya. Lebih luas lagi dapat dikatakan bahwa metodologi penelitian adalah
ilmu yang mempelajari cara-cara melakukan pengamatan dengan pemikiran yang
tepat secara terpadu melalui tahapan-tahapan yang disusun secara ilmiah untuk
mencari, menyusun, serta menganalisis dan menyimpulkan data-data, sehingga
dapat dipergunakan untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran sesuatu
pengetahuanberdasarkan bimbingan Tuhan.[18]
Adapun definisi metode penelitian
menurut para ahli, antara lain:
1) Prof. Dr. Sugiyono, Pengertian metode penelitian
ialah suatu cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan
tertentu.
2) Muhiddin Sirat, Definisi metode riset ialah suatu
cara untuk memilih topik masalah dan penentuan judul suatu riset.
3) Heri Rahyubi, Arti metode penelitian ialah suatu
model cara yang bisa dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar demi tercapainya
suatu proses pembelajaran yang baik.
4)
Muhammad Nasir, Makna metode penelitan ialah cara utama yang digunakan oleh
para peneliti untuk mencapai tujuan dan menentukan jawaban atas masalah yang
diajukan[19]
B. Jenis-jenis Metode Penelitian
1) Metode
Kualitatif
Metode
kualitatif adalah metode riset yang sifatnya memberikan penjelasan dengan
menggunakan analisis. Pada pelaksanaannya, metode ini bersifat subjektif dimana
proses penelitian lebih tiperlihatkan dan cenderung lebih fokus pada landasan
teori.
Ciri metode ini:
menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data, memiliki sifat deskriptif
analitik, bersifat induktif, mengutamakan makna, penekanannya pada proses bukan
hasilnya, dsb.
2) Metode Kuantitatif
Metode
kuantitatif adalah bentuk penelitian yang dilakukan secara sistematis,
terstruktur, serta terperinci. Pada pelaksanaaannya, metode riset ini fokus
pada penggunaan angka, tabel, grafik, dan diagram untuk menampilkan hasil data/
informasi yang diperoleh.
Ciri dari metode
ini adalah metode ini memperhatikan pada pengumpulan dan analisis data dalam
bentuk numerik dan sudah dapat dipastikan, serta bersifat objektif, penelitian
kuantitatif sering bertolak pada teori, penelitian kuantitatif dimulai dengan teori
dan hipoteses, penelitian ini untuk menjelaskan sebab-akibat antar variabel
yang diteliti dsb.
3) Metode Surveiuntuk menjelaskan
Metode survei
adalah suatu metode yang digunakan untuk mendapatkan hasil riset dalam bentuk
opini atau pendapat dari orang lain yang berinteraksi langsung dengan objek
yang diamati. Tujuan utama dari metode ini adalah untuk mendapatkan gambaran
umum melalui sampel beberapa orang.
4) Metode Ekspos Facto
Metode Ekspos
Facto adalah metode riset untuk meneliti hubungan sebab-akibat dari suatu
peristiwa. Dari keterkaitan sebab-akibat tersebut akan ditemukan kemungkinan
baru yang bisa dijadikan indikator dalam proses riset.
5) Metode Deskriptif
Metode deskriptif adalah
metode riset yang bertujuan untuk menjelaskan suatu peristiwa yang sedang
berlangsung pada masa sekarang dan juga pada masa lampau. Metode riset ini
dapat dibagi menjadi dua, yaitu Longitudinal (sepanjang waktu) dan Cross
Sectional (waktu tertentu).[20]
Jenis
Penelitian ada banyak, diantaranya:
1)
Eksperimen
Penelitian eksperimental
merupakan bentuk penelitian percobaan yang berusaha untuk mengisolasi dan
melakukan kontrol setiap kondisi-kondisi yang relevan dengan situasi yang
diteliti kemudian melakukan pengamatan terhadap efek atau pengaruh ketika
kondisi-kondisi tersebut dimanipulasi. Dengan kata lain, perubahan atau
manipulasi dilakukan terhadap variabel bebas dan pengaruhnya diamati pada
variabel terikat. Menurut Emzir (2008:96-103) desain penelitian ekperimen
dibagi menjadi empat bentuk yakni, pre-experimental
design, true experimental design,
quasy experimental design dan factorial design. Contoh:
Pengaruh Penerapan Strategi Pembelajaran TANDUR
Berbantuan Web Interaktif Terhadap Hasil Belajar Teknologi Informasi dan
Komunikasi Siswa Kelas VII SMPN 3 Malang. (Kuasi Eksperimen terhadap Siswa
Kelas VII SMP Negeri 3 Malang Tahun Ajaran 2010/2011). (Sumber: perpustakaan Universitas Negeri Malang, skripsi tidak
diterbitkan).
2) Deskriptif
Penelitian
deskriptif adalah suatu metode
penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang
ada, yang berlangsung saat ini atau saat yang lampau. Penelitian ini tidak
mengadakan manipulasi atau pengubahan pada variabel-variabel bebas, tetapi
menggambarkan suatu kondisi apa adanya. Penggambaran kondisi bisa individual
atau menggunakan angka-angka. (Sukmadinata, 2006:5) Penelitian deskriptif, bisa mendeskripsikan suatu
keadaan saja, tetapi bisa juga mendeskripsikan keadaan dalam tahapan-tahapan
perkembangannya, penelitian demikian disebut penelitan perkembangan (Developmental Studies). Dalam penelitian
perkembangan ini ada yang bersifat longitudinal
atau sepanjang waktu dan ada yang bersifat cross sectional atau dalam potongan waktu.
Contoh:
Manajemen Pengembagan Kinerja Guru SMK se-Kabupaten
Kuningan: Studi Tentang Kepemimpinan
Entrepeuneur Dan Sistem kompensasi Kreativitas dan Kinerja Inovatif. (Sumber: perpustakaan Universitas Negeri
Malang, skripsi tidak diterbitkan).
3) Korelasional
Penelitian
korelasi adalah suatu penelitian yang melibatkan tindakan pengumpulan data guna
menentukan, apakah ada hubungan dan tingkat hubungan antara dua variabel atau
lebih. Adanya hubungan dan tingkat variabel yang penting, karena dengan
mengetahui tingkat hubungan yang ada, peneliti akan dapat mengembangkannya
sesuai dengan tujuan penelitian. (Sukardi, 2003:166) Penelitian korelasi merupakan bentuk penelitian untuk
memeriksa hubungan diantara dua konsep. Secara umum ada dua jenis pernyataan
yang menyatakan hubungan, yaitu: (1) gabungan antara dua konsep, ada semacam
pengaruh dari suatu konsep terhadap konsep yang lain; (2) hubungan kausal, ada
hubungan sebab akibat. Pada hubungan kausal, penyebab diferensikan sebagai
varibel bebas dan akibat direferensikan sebagai variabel terikat. Pada
penelitian korelasi tidak ada kontrol atau manipulasi terhadap variabel.
Contoh:
Hubungan Antara Penerimaan Diri dengan Kompetensi
Interpersonal Pada Remaja (Studi korelasi pada remaja tunanetra yang mengalami
ketunanetraan tidak sejak dari lahir di PSBN Wyata Guna Bandung). (Sumber: repository.upi.edu).[21]
4) Komparatif
Penelitian
kausal komparatif atau penelitian ex post
facto adalah penyelidikan empiris yang sistematis dimana ilmuan tidak
mengendalikan variabel bebas secara langsung karena eksistensi variabel
tersebut telah terjadi. Pendekatan dasar klausa komparatif melibatkan kegiatan
peneliti yang diawali dari mengidentifikasi pengaruh variabel satu terhadap
variabel lainnya kemudian dia berusaha mencari kemungkinan variabel
penyebabnya. Penelitian komparatif membandingkan situasi masa lalu dan saat ini
atau situasi-situasi paralel yang berbeda, khusunya apabila peneliti tidak
memiliki kontrol terhadap situasi yang diteliti. Penelitian ini bisa memiliki
perspektif makro (misal: internasional,nasional) dan mikro (misal: komunitas,
individu).
Contoh:
Studi Komparatif Penerapan Model Contextual Teaching
and Learning (CTL) dengan Model Problem Based Learning (PBL) dalam Upaya
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Menganalisis Rangkaian
Listrik dan Elektronika Di SMKN 12 Bandung. (Sumber: repository.upi.edu).
5) Evaluasi
Penelitian
evaluasi merupakan bentuk penelitian yang bertujuan untuk memriksa proses
perjalanan suatu program sekaligus
menguraikan fakta-fakta yang bersifat kompleks dan terlibat di dalam program.
Misalnya adalah keefektifan, efisiensi
dan kemenarikan suatu program (Mukhadis, 2013:61). Contoh:
Evaluasi Proses Pembelajaran TIK SMA Negeri di Kota
Malang Berdasarkan Pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik
Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses. (Deskriptif tentang
kondisi proses pembelajaran mata pelajaran TIK SMA di Kota Malang Tahun Ajaran
2010/2011 dengan jumlah populasi 10 SMA Negeri dan sampel penelitian sebanyak 5
SMA Negeri).[22]
6) Simulasi
Penelitian simulasi
merupakan bentuk penelitian yang bertujuan untuk mencari gambaran melalui
sebuah sistem berskala kecil atau sederhana (model) dimana di dalam model
tersebut akan dilakukan manipulasi atau kontrol untuk melihat pengaruhnya.
Penelitian ini mirip dengan penelitian eksperimental, perbedaannya adalah di
dalam penelitian ini membutuhkan lingkungan yang benar-benar serupa dengan
keadaan atau sistem yang asli.
Contoh:
Penggunaan Simulasi Monte Carlo Untuk Menentukan Nilai Outcome Pada Pengambilan
Keputusan (Studi Kasus Pengambilan Keputusan pada Toko NAFC Collection).
7)
Survey
Survey research designs are procedures in quantitative
research in which investigators administer a survey to a sample or to the
entire population of people to describe the attitudes, opinions, behaviors, or
characteristics of the population. (Creswell, 2012: 376)[23]
Penelitian
survey digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang populasi yang
besar dengan menggunakan sampel yang relatif kecil. Populasi tersebut bisa
berkenaan dengan orang, instansi, lembaga, organisasi dan unit-unit
kemasyarakatan dan lain-lain, tetapi sumber utamanya adalah orang. Desain
survey tergantung pada penggunaan jenis kuisoner. Survey memerlukan populasi
yang besar jika peneliti menginginkan hasilnya mencerminkan kondisi nyata,
semakin besar sample survey semakin memberikan hasil akurat. Penelitian survei
memiliki tiga tujuan utama yaitu menggambarkan keadaan saat itu,
mengidentifikasi secara terukur keadaan sekarang untuk membandinkan, menentukan
hubungan kejadian yang spesifik.
Contoh:
Stress and Burnout in Rural and Urban Secondary School
Teachers. Journal of Educational Research.
1999. 92, pg. 287–293. (dalam Creswell, 2012:378)
8) Studi Kasus
Sebuah studi
kasus adalah eksplorasi mendalam dari sistem terikat (misalnya, kegiatan,
acara, proses, atau individu) berdasarkan pengumpulan data yang luas. Studi
kasus melibatkan investigasi kasus, yang dapat didefinisikan sebagai suatu
entitas atau objek studi yang dibatasi, atau terpisah untuk penelitian dalam
hal waktu, tempat, atau batas-batas fisik. Penting untuk memahami bahwa kasus
dapat berupa individu, program, kegiatan, sekolah, ruang kelas, atau kelompok.
Setelah kasus didefinisikan dengan jelas, peneliti menyelidiki mereka secara
mendalam, biasanya menggunakan beberapa metode pengumpulan data, seperti wawancara,
observasi lapangan, dan dokumentasi.
Studi kasus
kolektif; (a) melibatkan beberapa kasus, (b) dapat terjadi selama bertahun
situs, dan (c) menggunakan banyak individu. Kerangka konseptual untuk studi
kasus adalah bahwa dengan mengumpulkan informasi mendalam tentang kasus,
peneliti akan mencapai pemahaman mendalam tentang kasus ini, apakah kasus itu
adalah seorang individu, kelompok, kelas, atau sekolah.
Contoh:
Butera, G. 2005. Collaboration in the context of
Appalachia: The case of Cassie. The Journal
of Special Education, 39(2): 106–116. Butera (2005) menggunakan studi kasus
dan data yang dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumen untuk
menggambarkan kolaborasi tim dengan anak 4 tahun di West Virginia. (Stoner,
2010: 21).[24]
9) Teori Dasar (Grounded Theory)
Grounded Theory merupakan pendekatan yang memungkinkan peneliti untuk mengembangkan atau
menemukan teori yang didasarkan pada studi fenomena. Dengan menggunakan grounded theory, peneliti sengaja (a)
memilih peserta yang mengalami fenomena yang sedang dipelajari, (b)
menganalisis data (yaitu, wawancara, dokumen, dan catatan), dan (c) mendekati
fenomena yang diteliti tanpa prasangka pengertian. Kerangka konseptual ini
memungkinkan suara peserta muncul , mensyaratkan bahwa peneliti mengidentifikasi
tema utama atau konsep dari data peserta , dan memberikan jalan untuk
mengembangkan teori dari perspektif peserta .
Most grounded theory researchers will begin with
research questions but they do not start with a hypothesis, nor do they begin
their investigation with a thorough review of the literature relating to their
topic. They build up theory from their data and they do not wait until all data
are collected before they begin the analysis stage. (Bell, 2005: 19) Contoh:
Bays, D. A.,
& Crockett, J. B. 2007. Investigating Instructional Leadership For Special
Education. Exceptionality, 15(3):
143–161. Pendekatan groundedtheory
digunakan oleh Bays dan Crockett (2007) untuk menyelidiki kepemimpinan
instruksional untuk pendidikan khusus di sekolah dasar. (Stoner, 2010: 22)
10)
Etnografi
Ethnographic researchers attempt to develop an
understanding of how a culture works and many methods and techniques are used
in this such us: participant observation, interview, mapping and charting,
interaction analysis, study of historical records and current public documents,
the use of demographic data. (Bell, 2005:16). Etnografi adalah analisis mendalam dari kelompok sosial.
Data biasanya dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumen. Jenis
penelitian ini berfokus pada membangun catatan perilaku dan kepercayaan dari
kelompok dari waktu ke waktu. Etnografi mengharuskan peneliti berpartisipasi,
baik sebagai pengamat atau peserta aktif, waktu interaksi yang cukup lama
dengan kelompok yang diteliti. Kerangka konseptual etnografi adalah bahwa
keterlibatan langsung ke dalam budaya kelompok akan memungkinkan peneliti untuk
melihat dunia dari perspektif kelompok, dan melihat yang akan memberikan
pemahaman tentang perilaku dan keyakinan kelompok.[25]
Contoh:
Harry, Klingner, & Hart. 2005. African American
families under fire: Ethnographic views of family strengths. Remedial and Special Education, 26(2):
101–112. Harry, Klingner, dan Hart (2005) menerbitkan sebuah
studi etnografi siswa Amerika keturunan Afrika dalam pendidikan khusus di
sebuah distrik sekolah beragam budaya perkotaan. (Stoner, 2010: 22)
11) Kultural
Penelitian kultural (budaya)
merupakan penelitian yang dilakukan atas objek berupa unsur atau gejala budaya
dengan menggunakan perangkat metodologis yang tercakup di dalam ilmu
pengetahuan budaya. Unsur atau gejala budaya adalah unsur atau gejala yang
terdapat di dalam suatu masyarakat yang berkaitan dengan perangkat nilai-nilai,
pemikiran, dan hasil budi daya dalam bentukinteraksi antara masyarakat dengan lingkungannya
atau segi hasil pemikiran atau kreasi anggotanya yang terungkap dalam wujud
tulisan atau benda-benda. Contoh:
Identifikasi
Ajen Budaya Sunda Dina Wawacan Jaka Bayawak. (Sumber: repository.upi.edu).
12) Historis
Penelitian
historikal merupakan bentuk penelitian yang memiliki tujuan untuk menggambarkan
fakta dan menarik kesimpulan atas kejadian masa lalu. Data primer dari
penelitian ini adalah data yang bersifat historis, misalnya para arkeolog
menggunakan sumber data berupa dokumentasi tentang masa lalu. Penelitian
historikal dapat digunakan untuk menemukan solusi sementara berdasarkan
kejadian masa lalu dan menggambarkan tren masa kini atau masa depan.
Kothari (2004)
mengategorikan jenis penelitian histori ke dalam dua pendekatan, yaitu pendekatan
perspektif –mempelajari kegiatan/agenda masa lampau sampai sekarang- dan
pendekatan retroperpektif –mempelajari kegiatan/agenda saat ini kemudian
dihubungkan dengan hal serupa di masa lalu. Contoh:
Seni Tradisi Gembyung di Kampung Ganceuy Kabupaten Subang
1975-1999 (Suatu Kajian Historis Terhadap Sosial Budaya Masyarakat). (Sumber: repository.upi.edu).
13)
Etnologi
Penelitian
etnologi merupakan penelitian yang fokus kepada perilaku manusia. Peneliti
lebih condong menggunakan interpretasi langsung dari perilaku subjek yang
diteliti daripada melakukan interpretasi dari segi teoritik. Peneliti harus berusaha untuk tidak
nampak sebagai peneliti, karena bila tidak demikian interpretasi atas data yang
didapat dari responden akan terpengaruh.
Contoh:
Eufemisme Dalam Bahasa Simalungun (Suatu Kajian
Sosiolinguistik) (Sumber:
repository.usu.ac.id)
14) Penelitian Praktis
(Penelitian Tindakan/Action Reasearch)
Action research designs often utilize
both quantitative and qualitative data, but they focus more on procedures
useful in addressing practical problems in schools and the classrooms. Action
research designs are systematic procedures used by teachers (or other
individuals in an educational setting) to gather quantitative and qualitative
data to address improvements in their educational setting, their teaching, and
the learning of their students (Creswell, 2012:577).
Penelitian tindakan merupakan bentuk penelitian yang
berisi berbagai macam prosedur untuk menguraikan kasus-kasus yang bersifat
mikro atau khusus. Simpulan dari penelitian tindakan langsung diberlakukan
hanya untuk kasus yang diteliti dan tidak bisa digeneralisasikan. Penelitian
tindakan lebih condok ke metode kualitatif yang sangat bergantung pada data
penagamatan yang bersifat behavioralistik.
Contoh:
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa
Tentang Pemecahan Masalah Yang Melibatkan Uang Melalui Metode Simulasi
(Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas III B SDN Cicadas 03 Gunung Putri
Bogor). (Sumber: repository.upi.edu)
C.
Langkah dalam Metodologi
Penelitian
Langkah-langkah dalam metodologi
penelitian, diantaranya:
1. Perumusan Masalah
Perumusan masalah adalah langkah awal
dalam melakukan kerja ilmiah. Masalah adalah kseuliatan yang dihadapi ,
sehingga memerlukan penyelesaian atau memecahkannya.
2. Perencanaan Penelitian
Sebelum dilakukan penelitian terlebih
dahulu harus dipersiapkan rancangan penelitiannya. Rancangan penelitian ini
berisi tentang rencana atau hal-hal yang harus dilakukan sebelum, selama dan
setelah penelitian selesai. Metode penelitian, alat dan bahan yang diperlukan
dalam penelitian juga harus disiapkan dalam rancangan penelitian.
3. Pelaksanaan Penelitian
Langkah langkah pelaksanaan penelitian
adalah sebagai berikut :
a)Persiapan
Penelitian biasanya diwujudkan dalam
pembuatan rancangan penelitian. Alat, bahan, tempat, waktu dan teknik
pengumpulan data juga harus dipersiapkan dengan baik.
b) Pelaksanaan
c) Pengumpulan/pengambilan data
• Data kualitatif merupakan data yang
diperoleh dari hasil pengamatan dengan menggunakan alat indra, seperti indra
penglihatan (mata), indra penciuman (hidung), indra pengecap (lidah), indra
pendengaran (telinga), dan indra peraba (kulit).
• Data kualitatif merupakan data yang
diperoleh dari hasil pengukuran sehingga akan diperoleh data berupa
angka-angka.
d) Pengolahan data
4. Menarik kesimpulan
Setelah pengolahan data melalui analisis
selesai dilakukan maka kita dapat mengetahui apakah hipotesis yang kita buat
sesuai dengan hasil penelitian atau mungkin juga tidak sesuai. Selanjutnya kita
dapat mengambil kesimpilan dari penelitian yang telah kita lakukan. Kesimpulan
yang kita peroleh dari hasil penelitian dapat mendukung hipotesis yang kita
buat, tetapi kesimpulan yang kita ambil harus dapat menjawab permasalahan yang
melatarbelakangi penelitian.
5. Pelaporan penelitian
Sistematika penyusunan laporan
penelitian meliputi :
a)
Pendahuluan,
Bagian
pendahuluan merupakan bagian awal dari laporan hasil penelitian dan berisi
tentang latar belakang dilaksanakannya penelitian, rumusan masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian dan hipotesis.
b)
Telaah
kepustakaan/kajian teori,
Bagian
kajian teori merupakan bagian yang berisi tentang hasil telaah yang dilakukan
oleh peneliti terhadap teori dan hasil-hasil penelitian terdahulu yang
berhubungan dengan penelitian yang dilakukan.
c)
Metode
penelitian,
Berisi
segala sesuatu yang dilakukan oleh peneliti mulai dari persiapan, pelaksanaan
dan akhir dari sebuah penelitian. Bagian metode penelitian berisi tentang
teknik pengambilan data, cara atau teknik pengolahan data, populasi dan sampel,
alat, bahan, tempat dan waktu penelitian.
d)
Hasil dan
pembahasan penelitian,
Berisi
tentang data hasil penelitian yang berhasil dikumpulkan selama penelitian. Data
yang diperoleh disampaikan dalam bentuk grafik, tabel , atau diagram.
e)
Kesimpulan dan
saran,
Berisi tentang kesimpulan yang
dihasilkan merupakan jawaban terhadp hipotesis yang sudah diuji kebenarannya.
Saran dari peneliti kepada pihak lain, yaitu pembaca dan bagi peneliti lainnya
untuk melakukan penelitian-penelitian selanjutnya[26]
6.
AMDAL
A.
Pengertian AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)
AMDAL merupakan kajian dampak besar dan
penting terhadap lingkungan hidup, dibuat pada tahab perencanaan dan digunakan
untuk pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha atau kegiatan. Tujuan
AMDAL untuk memastikan bahwa pembangunan suatu rencana usaha dan kegiatan yang
akan dilaksanakan bermabfaat dan tidak mengorbankan lingkungan hidup.[27]
Menurut PP no 27 tahun 1999, pengertian AMDAL ini
merupakan suatu kajian dari suatu dampak besar dan juga penting dalam melakukan
pengambilan keputusan suatu usaha atau pun juga aktivitas yang direncanakan di
dalam lingkungan hidup.
B. Jenis Dokumen AMDAL
Jenis-jenis dokumen AMDAL, diantaranya:
1)
Kerangka Acuan bagi Penyusunan (KA-ANDAL) yaitu ruang lingkup studi
analisis dampak lingkungan yang merupakan hasil pelingkupan
2)
Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) merupakan telaah cermat dan mendalam
tentang dampak penting suatu rencana kegiatan
3)
Rencana Pengelolahan Lingkungan (RKL) yaitu dokumen yang mengandung upaya
penanganan dmpak penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan
4)
Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) yaitu dokumen yang mengandung upaya
pemantauan komponen yang terkena dampak penting dari rencana kegiatan atau
usaha.
C. Pihak yang Terlibat dalam AMDAL
Pihak-pihak yang terlibat dalam proses
AMDAL adalah komisi penilai AMDAL, pemrakarsa dan masyarakat yang
berkepentingan.[28]
7.
Jurnalistik
A. Pengertian Jurnalistik
Secara etimologis, jurnalistik berasal
dari kata journ. Dalam bahasa Perancis, journ berarti catatan atau laporan
harian. Secara sederhana jurnalistik diartikan sebagai kegiatan untuk kegiatan
yang berhubungan dengan pencatatan atau pelaporan setiap hari.
Dengan demikian, jurnalistik bukanlah
pers, bukan pula media massa. Jurnalistik adalah kegiatan yang memungkinkan
pers atau media massa bekerja dan diakui eksistensinya dengan baik.
B. TekniknJurnalistik
Teknik-teknik
jurnalistik, diantaranya:
1) Usahakan agar kalimat rata-rata
pendek
2) Pilih yang sederhana daripada yang
kompleks
3)
Pilihkata-kata yang lazim
4) Hindari
kata-kata yang tidak perlu
5) Beri kekuatan
pada kata kerja sebagaimana anda berbicara
6 istilah yang bisa digambarkan oleh pembaca
7) Hubungkan
dengan pengalaman pembaca anda
8) Gunakan sepenuhnya
variasi
9) Menulis
untuk menyatakan, bukan untuk mempengaruhi
8. Advokasi
A. Pengertian Advokasi
Advokasi terdiri atas sejumlah tindakan
yang dirancang untuk menarik perhatian masyarakat pada suatu isu, dan mengotrol
para pengambil kebijakan untuk mencari solusinya. Advokasi juga bisa difahami
sebagai bentuk upaya melakukan pemblaan rakyat dengan cara yang sistematis dan
terorganisir atas sikap, perilaku dan kebijakan yang tidak berpihak pada keadilan
dan kenyataan.
B. Alasan-alasan beradvokasi
Alasan adanya kegiatan
advokasi adalah sebagai berikut:
1) Kita dihadapkan dengan
persoalan-persoalan kemanusiaan
2) Kerusakan dan kekejaman kebijakan
selalu menghiasi kehidupan kita
3) Keserakahan, kebodohan dan
kemunafikan semakin tumbuh subur pada lingkungan kita
C. Tujuan Advokasi
Tujuan dari kerja-kerja advokasi adalah
mendorong terwujudnya perubahan atas sebuah kondisi yang tidak atau belum ideal
sesuai dengan yang diharapkan.
D. Langkah Beradvokasi
Langkah-langkah yang
ditempuh pada saat beradvokasi adalah:
1) Menentukan isu strategis
2) Pengumpulan data dan informasi
3) Jika kasus dapat diperjuangkan bersama dengan pihak yang punya
kepentingan yang sama maka perlu membentuk sekutu.[29]
4) Bentuk aliansi, aliansi
merupakan gabungan organisasi yang berbeda bentuk dan kepentingan.
5) Pesan advokasi yang menarik
6) Lemparkan isu dan kampanye
kemasyarakat
7) Lobi atau pendekatan kepada pihak
tertentu yang mempunyai wewenang membuat keputusan perubahan atau pembuat
aturan-aturan
8) Kontak dengan media massa
9) Aksi bersama atau jalan keluar dari
permasalahan yang di advokasi
10) Evaluasi bersama.
E. Dasar-Dasar Advokasi Lingkungan
UUD 1945 pasal 1 secara jelas menyatakan
bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. UU No. 23 Tahun 1997 yang mengatur soal: Hak massal, Kewajiban
pemerintah, Larangan
dan Sanksi-sanksi.
9.
Pembibitan dan Pemupukan
•
Pembibitan
A. Pengeetian Pembibitan
Pembibitan adalah salah
satu upaya untuk memperbanyak tanaman, baik secara generatif maupun vegetasi.
1.
Pembibitan
secara Generatif
Merupakan pembibitan
atau perbanyakan tanaman dari hasil perkawinan
2. Pembibitan secara Vegetatif
Merupakan pembibitan atau
perkembangbiakan tanaman yang terjadi tanpa melalui proses perkawinan atau perkembangbiakan
secara alami.
Pembibitan vegetatif ada 2, yaitu pembibitan vegetatif alami dan
lembibitan vegetatif buatan.
1) Pembibitan vegetatif alami terdiri dari tunas, tunas adventif,
membelah diri, spora, rhizoma/akar tinggal, umbi lapis, umbi batang, umbi akar,
dan geragih/stolon
2) Pembibitan vegetatif buatan, antara lain:
a)
Teknik Stek
Stek
adalah Perbanyakan tanaman dengan cara menanam atau menumbuhkan salah satu
bagian dari tanaman. Bagian yang dapat di tumbuhkan untuk perbanyakan tanaman
antara lain batang, akar, dan daun. Stek lebih banyak dipilih oleh petani
karena bahan yang dibuat untuk membuatnya hanya sedikit dan dapat diperoleh
jumlah bibit dalam jumlah yang banyak. Tanaman yang dihasilkan dalam stek
biasanya memiliki persamaan dalam umur, tinggi, dan ketahanan terhadap
penyakit. Selain itu kita juga bisa memperoleh tanaman yang sempurna dalam
waktu yang relatif singkat.
b) Teknik
Cangkok
Cangkok
merupakan salah satu jenis Perbanyakan tanaman dengan cara menumbuhkan akar
sebelum batang di potong dan di tanam. Cara ini untuk meminimalisasi tingkat
kegagalan dalam perbanyakan tanaman. Cara ini dipilih untuk menghasilkan
tanaman baru yang memiliki sifat persis seperti induknya. Sifat ini seperti
ketahanan terhadap hama dan penyakit, rasa buah, dan keindahan bunga. Hal ini
karena seperti hasil cangkok bisa dikatakan hampir 100 % serupa dengan
induknya, tetapi jika hasilnya menyimpang dari induknya biasanya disebabkan
oleh mutasi gen.
c)
Teknik Okulasi
Okulasi
merupakan jenis teknik perbanyakan tanaman dengan cara menggabungkan dua
tanaman yang sejenis. Ada dua jenis okulasi yaitu dengan cara menempel dan cara
menyambung. Okulasi menempel yaitu menempelkan tunas pada batang bawah atau
batang induk, sedangkan okulasi menyambung yaitu menyambung dua batang pohon.
Okulasi ini biasanya menggunakan batang bawah dan atas dari satu spesies atau
satu varietas. Penyambungan tanaman dari satu varietas atau satu spesies memang
dapat dilakukan untuk meminimalisasi kerusakan.
d) Teknik Sambung / Teknik Grafting
Sambung merupakan salah teknik
perbanyakan tanaman yang dilakukan dengan cara menggabungkan antara batang
bawah dan batang atas dari dua tanaman yang sejenis, sehingga akan tercapai
persenyawaan, dimana kombinasi ini akan terus tumbuh membentuk tanaman baru.
Berbeda dengan teknik okulasi yang hanya menggunakan satu mata tunas sebagai
calon batang atasnya, teknik sambung ini menggunakan seluruh bagian pucuk
tanaman sepanjang 7,5-10 cm.
Tujuan teknik sambung ini adalah untuk menggabungkan dua
sifat unggul dari individu yang berbeda. seperti halnya untuk menyokong
tumbuhan dibutuhkan jenis tumbuhan yang memiliki akar kuat. Sementara
untuk menghasilkan buah atau daun atau bunga yang banyak dibutuhkan tumbuhan
yang memiliki produktivitas tinggi. Tumbuhan yang dihasilkan memiliki akar kuat
dan produktivitas yang tinggi. Tanaman yang bisa disambung adalah tanaman yang
berkambium asalkan dalam satu varietas atau satu spesies. Contoh tanamannya
adalah mangga, jambu, apel, dll.[30]
Berikut
adalah kelebihan dan kekurangan teknik ini :
|
NO |
KELEBIHAN |
KELEMAHAN |
|
1 |
Masa muda tanaman relatif pendek, |
sistem perakaran kurang kuat karena tidak memiliki akar tunggang, |
|
2 |
Tanaman lebih cepat bereproduk, |
Mewarisi sifat jelek
induknya di samping sifat baik induknya, |
|
3 |
Dapat diterapkan pada
tanaman yang tidak menghasilkan biji, |
Biaya pengadaan bibit mahal, |
|
4 |
Sifat-sifat yang lebih baik pada induknya dapat diturunkan, |
Waktu yang dibutuhkan relatif lama, |
|
5 |
Dapat tumbuh pada
tanah yang memiliki lapisan tanah dangkal karena memiliki sistem perakaran
yang dangkal. |
Sulit memperoleh tanaman dalam jumlah yang besar yang berasal dari
satu pohon induk. |
B. Tujuan Pembibitan
Tujuan pembibitan yaitu
untuk memperbanyak tumbuhan agar kelak tidak habis atau punah.
C. Alat dan Bahan Pembibitan
1)
Benih adalah bahan dasar sangat kecil, biasanya berupa biji
2)
Pupuk Organik,
3)
Polibek atau plastik hitam,
4)
Air hangat,
5)
Air biasa,
6)
Kain, dan
6)
Media tanam
•
Pemupukan
A. Pengertian Pemupukan
Pemupukan merupakan
proses untuk memperbaiki unsur-unsur hara pada tanah,baik secara langsung
atau tak langsung agar dapat memenuhi kebutuhan bahan makanan pada tanah.
B.
Macam Pupuk
Berikut adalah
macam-macam pupuk, diantaranya:
1) Organik,
adalah pupuk yang tersusun dari materi
makhluk hidup. Sebagian besar pupuk organik berbentuk cair.Pada saat ini,
produk yang dihasilkan dari budi daya atau peternakan yang menggunakan pupuk
organik lebih disukai masyarakat. Alasanya, produk tersebut lebih aman bagi
kesehatan. Di negara-negara maju, masyarakatnya mulai beralih mengonsumsi
produk yang dihasilkan secara organik. Produk yang dihasilkan dari budi daya
atau peternakan yang menggunakan pupuk organik memiliki nilai jual yang lebih
tinggi.
2)
Anorganik,
pupuk yang yang hanya mengandung satu unsur hara yang diperlukan
tanaman. Pupuk tunggal yang mengandung nitrogen adalah urea, ZA, ASN, dan
amonium nitrat. Pupuk tunggal yang mengandung fosfor adalah DS (dubbelsuperfosfat), TSP (trplesuperfosfat), dan SP-36. Pupuk
tunggal yang mengandung kalium adalah pupuk KCL dan ZK. Ketiga unsur tersebut
(N,P dan K) merupakan unsur hara mikro di antaranya Mikrofid Mn-10 dan Mikrofid
Zn-10. Pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur hara. Di
pasaran, pupuk majemuk yang paling banyak ditemukan adalah NPK. Pupuk NPK
21-21-21 artinya pupuk tersebut mengandung N, P, dan K masing-masing 21%. Pupuk
majemuk adalah Microba Super, Metalik, dan, Mikroplex.[31]
C. Alat dan Bahan Pembuatan Pupuk Organik
1) Obat E4
adalah cairan yang berisi campuran dari
beberapa mikroorganisme hidup yang bermanfaat dan berguna bagi proses
penguraian dan persediaan unsur hara tanah. Bentuk EM4 adalah berupa cairan
yang berwarna kecokelatan dan beraroma segar. EM4 sendiri mengandung bakteri
fermentasi, mulai dari genus Lactobacillus, jamur fermentasi, bakteri
fotosintetik Actinomycetes, bakteri pelarut fosfat, dan juga ragi.[32]
2) Gula jawa
3) Sampah Organik
4) plastik
10.
Biopori
A. Pengertian Biopori
Yaitu lubang yang dibuat secara vertikal
kedalam tanah sebagai metode resapan air yang ditunjukan untuk mengatasi
genangan air dengan cara meningkatkan daya resapan air pada tanah. Biopori adalah lubang silindris yang
dibuat secara vertikal ke dalam tanah sebagai metode resapan air yang ditujukan
untuk mengatasi genangan air dengan carameningkatkan daya resap air pada tanah.
Metode ini dicetuskan oleh Dr. Kamir
Raziudin Brata,salah satu peneliti dari Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya
Lahan, Fakultas PertanianInstitut Pertanian Bogor. Peningkatan daya resap air pada tanah dilakukan dengan me\mbuat
lubang pada tanah dan menimbunnya dengan sampah organik untuk menghasilkan
kompos. Sampah organik yang ditimbunkan pada lubang ini kemudian dapat
menghidupi fauna tanah, yang seterusnya mampu menciptakan pori-pori di dalam
tanah. Teknologi sederhana ini kemudian disebut dengan nama biopori.
B. Manfaat Biopori
Manfaat
yang dapat diambil dari dibuatnya biopori adalah sebagai berikut:
1) Penyerapan air
Biopori mampu meningkatkan daya penyerapan
tanah terhadap air,
sehingga risiko terjadinya (penggenangan air (waterlogging) semakin
kecil. Air yang tersimpan ini dapat menjaga kelembaban tanah bahkan di musim kemarau.
Keunggulan ini dipercaya bermanfaat
sebagai pencegah banjir. Dinding lubang biopori akan membentuk lubang-lubang
kecil (pori-pori) yang mampu menyerap air. Sehingga dengan lubang berdiameter
10 cm dan kedalaman 100 cm, dengan perhitungan (geometri tabung sederhana akan didapatkan bahwa lubang akan memiliki luas bidang
penyerapan sebesar 3.220,13 cm2. Tanpa biopori, area tanah
berdiameter 10 cm hanya memiliki luas bidang penyerapan 78 cm persegi. Biopori
telah dibuat di berbagai tempat di Jakarta dengan tujuan untuk mengurangi
risiko terjadinya genangan air. Selain di Jakarta, biopori juga dibuat di
daerah yang tidak memiliki risiko banjir. Biopori tersebut bermanfaat untuk
menjaga keberadaan air tanah dan kelestarian mata air.
Biopori menjadi alternatif penyerapan air hujan
di kawasan yang memiliki lahan terbuka yang sempit. Di Puncak,
Bogor, biopori dibangun untuk mengembalikan
fungsi penyerapan air di kawasan tersebut sehingga kondisi hulu sungai Ciliwung menjadi lebih sehat. Sejak dijadikan sebagai perkebunan teh, kawasan
villa, dan kawasan wisata, Puncak mengalami penurunan kemampuan penyerapan air
hujan sehingga risiko erosi dan peluapan air sungai di musim hujan menjadi lebih besar.
Namun menurut
penelitian oleh LIPI, biopori tidak mampu mencegah banjir, namun efektif dalam
menangani genangan air.Dengan dimensi pori-pori yang kecil, maka laju
penyerapan air dikatakan relatif lebih lambat dibandingkan dengan debit aliran
air ketika terjadi banjir bandang. Inventor biopori, Kamir R Brata sendiri pun
mengingatkan bahwa fungsi biopori bukan hanya sebagai penyerap air karena hujan dan genangan air tidak terjadi sepanjang tahun, namun sampah
organik dapat menumpuk setiap saat dan itulah yang seharusnya menjadi fokus
dari biopori. Efektifitas dalam mengatasi genangan air tersebut diyakini juga dapat
menangani jentiknyamuk(pembawa penyakit.
2) Penanganan limbah organik
Biopori juga dapat mengubah sampah organik menjadi kompos. Pengomposan sampah
organik mengurangi aktivitas (pembakaran sampah yang dapat
meningkatkan kandungan gas rumah kaca di atmosfer. Setelah
proses pengomposan selesai, kompos ini dapat diambil dari biopori untuk
diaplikasikan ke tanaman. Kemudian biopori dapat diisi dengan sampah organik
lainnya.nSampah organik yang dapat dikomposkan di dalam biopori diantaranya
sampah taman dan kebun (dedaunan dan ranting pohon), sampah dapur (sisa sayuran
dan tulang hewan), dan sampah produk dari pulp ((kardus dan kertas). Sama seperti
proses pengomposan secara umum, rasio C/N menentukan kualitas
kompos yang akan didapatkan. Umumnya, masalah utama pengomposan adalah pada
rasio C/N yang tinggi, sehingga dekomposisi berjalan lambat.Untuk mengatasinya,
penambahan limbah yang mengandung unsur N tinggi seperti limbah hewani perlu
dilakukan. Namun penambahan demikian perlu dicermati karena terlalu banyak
limbah hewani akan menyebabkan kompos menjadi berbau pada tahap awal
pengomposan.
3) Kesehatan tanah
Biopori
juga dapat meningkatkan aktivitas (organisme dan (mikroorganisme tanah sehingga meningkatkan kesehatan tanah dan perakaran tumbuhan
sekitar.Organisme dan mikrorganisme tanah memiliki peran penting dalam Ekologi diantaranya sebagai detritivora dan pengikat nitrogen dari atmosfer.
Pengikatan nitrogen mampu meningkatkan kadar nitrogen tanah sehingga penggunaan
pupuk anorganikurea akan berkurang.
4) Penanggulangan banjir sekitar halaman rumah
Di area rumah, biopori dapat dibuat bahkan di tempat yang tanahnya
tertutup semen, seperti di depan garasi mobil. Kawasan hijau di halaman rumah
dapat dilengkapi dengan biopori. Penerapan 3R (reduce, reuse, dan recycle) di lingkungan rumah dapat
dilakukan dengan biopori. Ketika masih
menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Rachmat Witoelar membuat biopori di
rumah dinas Menteri
Lingkungan Hidup
C. Alat dan Bahan Membuat Biopori
Alat yang digunakan
untuk membuat biopori adalah sebagai berikut:
1) Bor
2) Air
3) Sampah organik
4) Pralon.[33]
D. Pembuatan Biopori
Berikut adalah cara untuk membuat
biopori:
1) Sebelum mulai membuat biopori, terlebih dahulu
tentukan lokasi yang akan dijadikan tempat pembuatan.
2) Setelah ditentukan tempatnya, siram tanah yang
akan dijadikan sebagai tempat pembuatan biopori dengan air agar tanah menjadi
lebih lunak dan mudah untuk dilubangi.
3) Lubangi tanah dengan menggunakan bor tanah,
usahakan buat yang tegak lurus.
4) Buat lubang dengan kedalaman kurang lebih 1 meter
dengan diameter 10-30 cm.
5) Setelah itu, lapisi lubang menggunakan pipa PVC
yang ukurannya sama dengan diameter lubang.
6) Kemudian, isi lubang dengan sampah organik
seperti daun, rumput, kulit buah-buahan, dan sampah yang berasal dari tanaman
lainnya.
7)
Setelah itu tutup lubang menggunakan kawat besi, atau bisa juga memakai tutup
pipa PVC yang sudah dilubangi terlebih dahulu.
11.
Analisis Vegetasi (Anveg)
A. Pengertian Analisis Vegetasi (Anveg)
Analisis vegetasi adalah metode
yang dilakukan untuk mengetahui seberapa besar sebaran berbagai macam spesies
yang ada dalam suatu area. Kegiatan ini umumnya dilakukan melalui pengamatan
langsung dan dilakukan pula dengan membuat plot, serta mengamati morfologi dan
identifikasi vegetasi yang ada.
Menurut Greigh-Smith (1983),
analisis vegetasi adalah cara untuk mempelajari susunan dan atau komposisi
vegetasi secara bentuk (struktur) vegetasi dari masyarakat tumbuh-tumbuhan.
Bentuk atau struktur vegetasi yang dimaksud ilah bentuk pertumbuhan,
stratifikasi dan tutupan tajuk.
Untuk melakukan analisa terhadap
suatu vegetasi, diperlukan data-data antara lain jenis, diameter dan tinggi dalam
menentukan indeks nilai penting penyusun komunitas hutan. Analisis vegetasi
dapat dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif untuk mengetahui sebaran
ragam hayati pada suatu ekosistem.
Vegetasi adalah kumpulan dari
tumbuhan.
B. Tujuan Analisis Vegetasi (Anveg)
Beberapa ilmuwan
melakukan analisis untuk tujuan tertentu. Salah satu tujuannya adalah untuk
mengetahui seberapa besar sebaran berbagai macam spesies dalam suatu area.
Jika diamati secara langsung, maka kita dapat melihat
vegetasi dominan pada suatu ekosistem. Namun dibutuhkan analisis yang tepat
untuk mengetahui dengan jelas persentase dari vegetasi dominan.
Analisis
vegetasi juga bisa dilakukan untuk tujuan mengetahui hubungan antara vegetasi
dengan komunitas lainnya yang terdapat pada satu area tertentu. Melalui
penelitian, maka dapat diketahui hubungan apa yang terdapat di antara vegetasi
dengan makhluk hidup lain pada suatu ekosistem. Misalnya, seperti pohon, semak,
rumput, lumut kerak, dan lain sebagainya.
Hasil akhir dari
analisa vegetasi, antara lain diketahuinya kepadatan dan frekuensi serta
dominasi dari organisme penyusun komunitas melalui data dalam bentuk grafik.
Analisis vegetasi merupakan
suatu metode penting yang dianjurkan untuk mengetahui persebaran spesies pada
area tertentu, serta hubungan antara spesies dengan komunitas lainnya.
10. Pertolongan Pertama pada Gawat
Darurat (PPGD).
A.
Pengertian Pertolongan Pertama pada Gawat Darurat (PPGD)
Pertolongan
pertama pada gawat darurat adalah serangkaian usaha-usaha pertama yang dapat dilakukan
pada kondisi gawat darurat dalam menyelamatkan pasien dari kematian.
B. Tujuan, Pokok , dan Prinsip Dasar Pertolongan
Pertama pada Gawat Darurat (PPGD)
Tujuan
dari PPGD adalah:
- Menyelamatkan nyawa korban
- Meringankan penderitaan korban
- Mencegah cedera/penyakit menjadi lebih parah
- Mempertahankan daya tahan koeban
- Mencarikan pertolongan yang lebih lanjut
Pokok-pokok
PPGD
- Jangan panic
- Perhatikan pernafasan korban
- Hentikan pendarahan
- Prehatikan tanda-tanda shock dan patah tulang
- Jangan berikan makan dan minum pada korban yang
tidak sadar
- Jangan memindahkan korban secara terburu-buru
Prinsip
utama.
Prinsip utama dalam
PPGD adalah menyelamatkan pasien dari kematian pada kondisi gawat daurat.
C.
Langkah Dasar dalam Pertolongan pertama pada Gawat Darurat (PPGD)
Langkah-langkah PPGD dikenal dengan
singkatan A-B-C-D (Airway, Breathing, Circulation,
Disability)
A=
Airway, bebaskan jalan nafas
B=
Breathing, beri nafas tambahan oksigen
C=
Circulation, hentikan pendarahan beri infus
D=
Disability, cegah TIK naik
Algoritma
dasar PPGD
1) Ada pasien tidak sadar
2) Pastikan kondisi tempat pertolongan aman bagi
pasien dan penolong, beritahukan kepada lingungan sekitar bahwa anda akan
melakukan pertolongan.
3) Cek kesadaran pasien
4);Lakukan dengan metode AVPU
A
: Alert = Korban sadar, jika tidak
lanjut ke poin V
V
: Verbal = cobalah memanggil korban
dengan bicara keras dan disertakan dengan menggoyang dan menyentuh korban. Jika
masih belum merespon lanjut ke poin P
P
: Pain = beri rangsang nyeri dengan
cara menekan bagian putih kuku tangan atau menekan bagian tengan tulang dada (Sternum).
U
: Unresponsive = jika setelah diberi
rangsang pasien tidak bereaksi maka pasien dalam keadaan tidak sadar.
5) Call
for Help, mintalah bantuan kepada masyarakat untuk menelepon
ambulans
6) Bebaskan korban dari pakaian di daerah dada (
buka kancing baju bagian atas korban)
7) Posisikan diri disebelah korban, usahakan posisi
kaki yang mendekati kepala atau sejajar dengan bahu pasien.
8) Cek apakah ada tanda-tanda berikut
-
Luka-luka dari bagian dagu ke atas (supra
calvicula)
-
Pasien mengalami tumbukan diberbagai tempat
9) Tanda-tanda cedera pada bagian leher sangat
berbahaya karena pada bagian ini terdapat syaraf-syaraf yang mengatur fungsi
vital manusia.
-
Jika tidak ada tanda-tanda tersebut maka lakukanlah Head Tilt and Chin Lift Chin
Lift dilakukan dengan cara menggunakan dua jari lalu mengangkat tulang dagu
ke atas. Ini disertai dengan melakukan Head
Tilt yaitu menahan kepala dan mempertahankan posisinya. Hal ini dilakukan
untuk membenarkan jalan afas korban.
-
Jika ada tanda-tanda cedera, maka beralihlah ke bagian atas pasien, jepit
kepala pasien dengan paha, usahakan agar kepalanya tidak bergerak-gerak lagi
dan lakukanlah Jaw Thrust. Gerakan
ini dilakukan untuk menghindari adanya cidera lebih lanjut pada leher korban.
10) Sambil melakukan a atau b lakukanlah
pemeriksaan kondisi Airway (jalan
nafas) dan Breathing (pernafasan)
korban
11) Metode pengecekan menggunakan metode Look, Listen, and Feel
Look
: Lihat apakah gerakan dada tersebut simetris
Listen
: Dengarkan apakan suara nafas korban normal atau abnormal
Jenis-jenis
suara nafas karena hambatan sebagian jalan nafas :
- Snoring
: suara seperti mendengkur jika ada suara ini maka lakukanlah pengecekan
langsung dengan cara cross finger
untuk membuka mulut.
-
Gargling : suara seperti berkumur, kondisi ini
terjadi karena ada kebuntuan yang disebabkan oeh cairan, maka lakukan cross finger lalu lakukan finger- sweep (gunakan 2 jari yang telah
dibalut dengan kain unuk “menyapu” rongga mulut dari cairan-cairan).
- Crowing
: suara dengan nada tinggi, biasanya terjadi karena pembengkakan (edema) pada trakea, untuk pertolongan pertama tetap lalukan maneuver head tilt and chin lift atau jaw thrust saja.
Jika
suara nafas tidak terdengar karena ada hambatan total pada jalannya nafas maka
dapat dilakukan :
-
Black bow
sebanyak 5 kali, yaitu dengan memukul menggunakan telapak tangan pada daerah
punggung korban
-
Chest Thrust, yang biasanya dilakukan pada ibu hamil, bayi
dan penderita obesitas.
-
Feel: Rasakan dengan pipi apakah ada hawa nafas dari korban
12) Jika
ternyata pasien masih bernafas, hitunglah frekuensi pernafasan korban dalam 1
menit ( normalnya 12-20 kali per menit)
13);Jika
frekuensi nafas normal, pantau terus kondisi dengan tetap melakukan Look,
Listen and Feel.
14) Jika
korban henti nafas, maka berikan nafas buatan. Setelah itu cek nadi carotis
yang terletak dileher selama 10 detik..
15) Jika tidak ada denyut nadi lakukanlah pijat
jantung, dengan diikuti nafas buatan, ulang sampai 6 kali yang diakhiri dengan
pijat jantung.
16) Cek
kembali nandi korban selama 10 detik, jika terrasa maka lalulan teknik look, listen, feel. Jika tidak lakukan
poin 17
17) Pijat
jantung dan nafas buatan diberhentikan apabila:
•
Penolong
sudah kelelehan,mdan sudah tidak kuat lagi.
•
Pasien
sidah menujukan tanda kematian ( kaku mayat )
•
Bantuan
sudah datang
• Terasa denyut nadi karotis
18) Setelah
berhasil mengamankan kondisi korban, periksalah adakah tanda-tanda ada yang
shok,
•
Denyut
nadi 100 x permenit
•
Telapak
tangan di basuh dan pucat
• Capilarry
Refill Tim
19) Jika
korban shock, lakukan shock position pada pasien yaitu dengan cara kaki koeban
diangangkat setinggi 45 derajat.
20) Pertahankan
posisi tersebut sampai bantuan datang dan tanda-rtanda shock menghilang.
21)
Jika ada pendarahan pada korban, coba menghentikan pendarahan dengan cara
menekan dan pendarahannya, dengan cara menekan area yang terdapat luka.
Setelah
kondisi korban stabil tetap pantau kondisi korban dengan metode Look, Listen and Feel, karena
sewaktu-waktu kondisi korban dapat memburuk.
Beberapa
Penyakit yang sering ditemui dalam perjalanan di alam bebas antara lain :
-
Mountain Sickness
Adalah
Tekanan fisik akibat kesulitan menyesuaikan diri dengan tekanan oksigen rendah
pada dataran tinggi. Sebagian besar kasus penyakit ketinggian bersifat ringan, tetapi
beberapa mungkin mengancam nyawa.
-
Hypotermia
Adalah
suatu kondisi dimana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu kesulitan mengatasi
tekanan suhu dingin.
-
Kelainan Panas
Adalah
Peningkatan sementara suhu tubuh rata-rata menjadi 37°C (98,6°F).
-
Heat Cramps
Adalah
kejang otot hebat akibat keringat berlebihan yang terjadi saat melakukan
aktivitas pada cuaca yang sangat panas.
Heat
Cramps disebabkan oleh hilangnya banyak cairan dan garam (termasuk natrium,
kalium, dan magnesium) akibat keringat yang berlebihan yang sering terjadi
ketika melakukan aktivitas fisik yang berat. Jika tidak segera diatasi dapat
menyebabkan Heat exhaustion.
Gejala
:
•
Kram yang tiba tiba mulai timbul ditangan, betis atau kaki
•
Otot menjadi keras, tegang dan sulit untuk dikendurkan, terasa sangat nyeri.
Penanganannya
:
-
Melakukan istirahat dan relaksasi
-
Memberi makanan atau minuman yang mengandung garam.
-
Heat Exhaustion
Keadaan
yang terjadi akibat terpapar panas selama berjam jam, dimana hilangnya banyak
cairan karena berkeringat. Dapat menyebabkan kelelahan, tekanan darah rendah,
dan kadang pingsan, jika tidak segera diatasi dapat menyebabkan Heat Stroke.
Gejala
:
•
Kelelahan
•
Kecemasan yang meningkat, dan badan basah kuyup karena keringat.
•
Jika posisi berdiri, penderita akan merasa pusing karena darah terkumpul di
pembuluh darah tungkai yang melebar akibat panas.
•
Denyut jantung menjadi lambat dan lemah
•
Kulit menjadi dingin, pucat dan lembab
•
Penderita menjadi linglung atau binggung terkadang sampai pingsan
Penanganannya:
-
Istirahat ditempat yang teduh
-
Berikan minuman yang mengandung elektrolit
-
Heat Stroke
Heat
stroke adalah kondisi mengancam jiwa dimana suhu tubuh mencapai lebih dari 40°C
atau lebih. Heat stroke dapat disebabkan karena kenaikan suhu lingkungan, atau
aktivitas yang dapat meningkatkan suhu tubuh
Tanda
dan Gejala
•
Kenaikan suhu, sampai 40°C atau lebih
•
Tidak berkeringat. Jika heat stroke disebabkan oleh karena suhu lingkungan yang
sangat panas, maka kulit cenderung terasa panas dan kering
•
Kemerahan pada kulit
•
Nafas menjadi cepat dan terasa berat
•
Denyut jantung semakin cepat
•
Sakit kepala seperti ditusuk-tusuk
•
Gejala saraf lain, misalnya kejang, tidak sadar, halusinasi
•
Otot bisa terasa kram, lalu selanjutnya terasa lumpuh
Penanganannya:
-
Lepaskan pakaian
-
Turunkan suhu inti (internal) sampal dengan 39°C
-
Gunakan pakaian dingin dan handuk
-
Taruh es pada kulit sambil menyemprot dengan air biasa.
-
Gunakan Selimut Pendingin
-
Masase pasien untuk meningkatkan sirkulasi
-
Posisikan kipas angin listrik sehiugga menghembus pada pasien
-
Pantau secara konstan suhu, dan tanda tanda vital
-
Berikan oksigen dan pasang infus bila ada
-
Segera bawa ke unit pelayanan kesehatan terdekat
13. Menejemen Perjalanan Rimba
Gunung (MPRG)
Menejemen
Perjalanan Rimba gunung adalah suatu kegiatan mengatur perjalanan rimba gunung
mulai dari perencanaan, persiapan, pelaksanaan, sampai evaluasi yang tujuannya
agar suatu kegiatan mounteneering dapat berjalan dengan lancar dan tertata
rapi.
Petualangan
alam bebas adalah kegiatan yang termasuk dalam kegiatan beresiko tinggi (high
risk activity), sehingga untuk menghindari kejadian-kejadian yang tidak
diinginkan maka sebuah kegiatan alam bebas harus dipersiapkan secara matang
oleh para pelakunya. Oleh karena itu perlu sebuah manajemen perjalanan yang
tertata agar kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan lancar.
Secara garis besar sebuah kegiatan
terbagi menjadi 3 fase:
1) Pra kegiatan
2) Pelaksanaan kegiatan
3) Pasca kegiatan
1)
Pra kegiatan
a)
Perencanaan kegiatan
•
Maksud dan tujuan kegiatan
Ini
adalah awal dari rangkaian kegiatan yaitu menentukan maksud perjalanan, tujuan
lokasi, dan target yang akan dicapai. Contohnya yaitu kita akan mengadakan
ekspedisi penelitian budaya ke pedalaman suku baduy, target yang akan dicapai
antara lain pendataan sosial ekonomi, penelitian kepercayaan suku baduy, dll.
•
Perencanaan waktu dan tempat
Kegiatan
dilakukan kapan dan dimana tempat yang akan dibuat untuk kegiatan
•
Pengumpulan data lokasi kegiatan
Seperti
letak geografis dan administratif, kondisi wilayah (medan, masyarakat dan
lingkungannya), budaya masyarakat lokal, akses ke lokasi, dan info-info penting
lainnya tentang daerah tersebut.
•
Perencanaan pendanaan
•
Perencanaan kegiatan perjalanan
•
Perencanaan logistik perlengkapan dan perbekalan
•
Pembentukan tim
b)
Persiapan perjalanan
Dilakukan
sesuai dengan kebutuhan kegiatan tersebut. Meliputi ketua pelaksanan,
sekretaris, bendahara, pendanaan, perlengkapan, perizinan dan transportasi,
dokumentasi serta operasional lapangan yang mengurusi masalah teknis selama
kegiatan
•
Perijinan dan administrasi
•
Pendanaan
•
Pembuatan agenda kegiatan
•
Pendalaman materi
Pendalaman
materi disesuaikan dengan maksud dan tujuan kegiatan. Misalnya apabila akan
melaksanakan perjalanan mendaki gunung es maka materi yang diberikan adalah
yang berkaitan dengan pendakian gunung es seperti teknik pemanjatan gunung es,
mountain sickness, dll.
•
Persiapan fisik
Fisik
sangat menentukan kelancaran kegiatan alam bebas, oleh sebab itu perlu adanya
latihan fisik guna mempersiapkan kondisi fisik sebbelum kegiatan. Latihan atau
training adlah suatu proses yang berlangsung secara sistematis, dilakukan
secara berulang-ulang dengan kian bertambah jumlah beban latihannya dengan
bentuk latihan yang spesifik.
•
Persiapan perlengkapan
Beberapa
hal yang perlu diperhatikan dalam mempersiapkan perlengkapan perjalanan yaitu
kesesuaiannya dengan lokasi kegiatan, sesedikit mungkin barang dengan kegunaan
sebanyak mungkin. Adapun spesifikasi perlengkapan yaitu perlengkapan pribadi
dan perlengkapan kelompok.
•
Perbekalan makanan
Hal
yang perlu diperhatikan dalam perencanaan perbekalan:
–
sesuaikan perbekalan dengan lamanya perjalanan, aktifitas yang akan dilakukan,
serta kondisi medan
–
mengandung kalori dan gizi yang cukup, serta tidak asing bagi lidah dan
penciuman
–
sebaiknya siap saji, irit air dan bahan bakar
Setelah
perencanaan perbekalan dengan informasi lengkap, perkirakan kondisi medan dan
aktifitas yang akan dilakukan, yaitu dengan melakukan hal-hal berikut:
–
perhitungkan kalori yang dibutuhkan
Susun
daftar makanan yang memenuhi rencana diatas, kemudian kelompokkan menurut
komposisi dominan, kemudian hitung masing-masing kalori totalnya pada keadaan
siap dimakan
–
apabila ada kekurangan, tambahkan dengan suplemen berupa vitamin
•
Survey kelayakan lokasi kegiatan
Setelah
data tentang lokasi kegiatan telah terkumpul, perlu diadkan survey uji
kelayakan lokasi kegiatan agar segala kemungkinan kendala bisa diantisipasi
•
Try out
Untuk
menilai kesiapan tim baik materi, fisik, Dan kemampuan lainnya, maka tim yang
akan melakukan kegiatan perlu mengikuti try out. Hasil try out ini menjadi
acuan kelayakan tim untuk melanjutkan kegiatan selanjutnya.
c)
Publikasi kegiatan
Manfaat
publikasi antara lain:
-
Menunjang pencarian dana dalam kegiatan
-
Sumber dana kegiatan biasanya berasal dari dana organisasi dan sponsor. Sebuah
perusahaan atau instansi bersedia mengeluarkan dana sponsor apabila kita
memiliki ruang pumblikasi yang menguntungkan untuk mereka.
-
Sebagai citra organisasi
Pubikasi
kegiatan yang baik akan berimbas pada meningktnya citra organisasi yang
melakukan kegiatan tersebut.
-
Sebagai informasi bagi masyarakat
-
Untuk dokumentasi
2)
Pelaksanaan kegiatan
a)
Pembagian tugas dan kerjasama tim
Pembagian
tugas disesuaikan dengan kebutuhan kegiatan lapangan. Ketua pelaksana beserta
panitia sebagai penanggungjawab seluruh kegiatan dan mempersiapkan semua
kebutuhan pra kegiatan, sedangkan operasional lapangan mengkoordinir tim
lapangan. Pembagian tugas tim lapangan ditentukan sesuai dengan kebutuhan.
b)
Manajemen perlengkapan dan perbekalan
Perlengkapan
dan perbekalan adalah bagian paling penting dalam kegiatan, oleh sebab itu
perlu pengaturan dalam penggunaannya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
pengaturan dan perbekalan antara lain:
-
data semua perlengkapan dan perbekalan
-
rencanakan penggunaan peralatan perharinya
-
jaga dan rawat peralatan tersebut
-
bawa alat dalam jumlah sesedikit mungkin dengan manfaat yang sebanyak mungkin
c)
Sistem komando, komunikasi, dan rescue
Untuk
kelancara kegiatan lapangan maka perlu sistem komando dan komunikasi yang bagus
sehingga segala sesuatu seperti informasi mendadak, pengiriman berita dan data
kecelakaan dapat direspon dengan cepat
d)
Dokumentasi kegiatan
Mendokumentasikan
kegiatan dalam bentuk foto, video, jurnal, dll sangat diperlukan. Selain
sebagai bahan untuk laporan kegiatan, dokumen tersebut juga menjadi bahan untuk
publikasi kegiatan tersebut.
3)
Pasca kegiatan
a)
Laporan kegiatan
Laporan
kegiatan adalah bentuk hasil kegiatan yang dapat digunakan menjadi acuan dan
tolak ukur kegiatan selanjutnya
b)
Evaluasi kegiatan
Evaluasi
kegiatan bertujuan agar segala kekurangan selama kegiatan bisa diminimalisir
untuk kegiatan selanjutnya.[34]
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Konservasi berasal dari kata conservation
yang terdiri atas kata con (together) dan servare (keep/save) yang memiliki pengertian mengenai
upaya pemelihara apa yang kita punya (keep/save
what you have), namun secara bijaksana (wise
use). Ide ini dikemukakan oleh Theodore Rooselvelt (1902) yang merupakan
orang Amerika pertama yang mengungkapkan tentang konsep konservasi.
2. Ekologi
didefinisikan sebagai pengkajian hubungan organisme-organisme atau
kelompok-kelompok organisme terhadap lingkunganya, atau ilmu tentang hubungan
timbal balik antara organisme-organisme hidup dengan lingkunganya.. Tingkatan Ekologi yaitu Populasi,ekosistem dan komunitas
3. Paradigma Etika
lingkungan merupakan kebijaksanaan moral manusia dalam bergaul dengan
lingkunganya. Ada tiga teori mengenai pengertian etika lingkungan, yaitu: Etika
Deontologi, Etika Teologi, Etika keutamaan.
4. Lingkungan Hidup
adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya keadaan, dan mahluk hidup,
termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan kehidupan dan
kesejahtraan manusia serta mahluk hidup lainya.
5. Metodologi
penelitian adalah ilmu yang mempelajari cara-cara melakukan pengamatan dengan
pemikiran yang tepat secara terpadu melalui tahapan-tahapan yang disusun secara
ilmiah untuk mencari, menyusun, serta menganalisis dan menyimpulkan data-data,
sehingga dapat dipergunakan untuk menemukan, mengembangkan dan menguji
kebenaran sesuatu pengetahuanberdasarkan bimbingan Tuhan.
6. AMDAL merupakan kajian
dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup, dibuat pada tahab
perencanaan dan digunakan untuk pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan
usaha atau kegiatan.
7. Jurnalistik adalah sesuatu kegiatan
dari mencari, mengolah, sampai mempublikasikan suatu informasi yang tujuannya
dipublikasikan kepada semua orang.
8. Advokasi adalah aksi
strategis yang di tunjukan untuk menciptakan kebijakan umum yang bermanfaat
bagi masyarakat atau mencegah munculnya kebijakan yang di perkirakan merugikan
masyarakat.
9. Pembibitan adalah salah
satu upaya untuk memperbanyak tanaman, baik secara generatif maupun vegetasi.
10. Biopori
adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah sebagai
metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi genangan air dengan
carameningkatkan daya resap air pada tanah.
11. Analisa vegetasi adalah cara
mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau
masyarakat tumbuh-tumbuhan. Untuk suatu kondisi hutan yang luas, maka kegiatan
analisa vegetasi erat kaitannya dengan sampling, artinya kita cukup menempatkan
beberapa petak contoh untuk mewakili habitat tersebut.
12. Pertolongan pertama pada gawat
darurat adalah serangkaian usaha-usaha pertama yang dapat dilakukan pada
kondisi gawat darurat dalam menyelamatkan pasien dari kematian.
13. Menejemen Perjalanan Rimba gunung
adalah suatu kegiatan mengatur perjalanan rimba gunung mulai dari perencanaan,
persiapan, pelaksanaan, sampai evaluasi yang tujuannya agar suatu kegiatan
mounteneering dapat berjalan dengan lancar dan tertata rapi.
DAFTAR PUSTAKA
Liana. 2015. Pengantar Ekologi, Semarang: Karya Abadi Jaya.
Silalahi, Daud. 2010. AMDAL. Bandung: Karya Abadi Jaya.
Mawapala. 2015. Diktat Mawapala.
Semarang: Mawapala.
Mawapala. 2016. Diktat Pendapa XXV. Semarang.
Mawapala UIN Walisongo.
Mapadoks
Pertolongan Pertama Gawat Darurat. Semarang. Mapadoks Universitas Sultan
Agung
Giri Prasetyo, Wahyu. 2014. Ekologi. Meru Betiri Service Camp XVI.
Merdiono, Dheny, S.Hut.,Sc. 2014. Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, ,Meru Betiri Service Camp XVI.
Parrata, Ayub S. 2004. Pupuk
Organik Cair Aplikasi dan Manfaatnya. Tangerang: Agromedia Pustaka.
Drs. Sumadiria, A.S Haris, M.Si, 2015. Jurnalistik Indonesia Menulis Berita dan Feature, Bandung, Simbiosa Rekatama Media.
Creswell
JW.2016., Kuantitatif dan Campuran). Research Design (Pendekatan Metode Kualitatif.
Yogyakarta. Pustaka pelajar.
Drs.
Jko Christanto. M. Sc. Ruang Lingkup Sumber Daya Alam dan Lingkungan.
PWKL4220/MODUL1
Indrawan mochamad,2007,Biologi Konservasi,jakarta:Yayasan Obor
Indonesia
Teori Metodologi Penelitian.pdf
Makalah Pupuk Dari Sampah, Mawapala UIN Walisongo Semarang
http:hijau ovement.blogspot.com,.
http:pengertian
sampah.com,
http://blogspot.com. definisi pembibitan tanaman.
http://penjual-mimpi.blogspot.co.id/2014/09/jenis-jenis-metode-penelitian-beserta.html,
https://boymarpaung.wordpress.com/2009/04/20/apa-dan-bagaimana-mempelajari-analisa-vegetasi/
[1] Merdiono, Dheny,
S.Hut.,Sc. Konservasi Sumberdaya Alam
Hayati dan Ekosistemnya, ,(Meru Betiri Service Camp XVI, 2014), hlm.2
[2] Ibid, hlm:3.
[3] Ibid. hlm 3
[4] Ibid. hlm.3
[5] Ibid. hlm 5
[6] Ibid.10
[7] Drs. Jko Christanto. M. sc. Modul 1 Ruang Lingkup Sumber Daya Alam
dan Lingkungan. Hlm 5
[8] Dedi M. Rochman. Intisari
Biologi SMA, (Pustaka Setia, 2000), hlm 95.
[9] Giri Prasetyo, Wahyu. Ekologi,(Meru
Betiri Service Camp XVI, 2014), hlm.9
[10] Ibid. hlm 10
[11] Lianah.Pengantar
Ekologi(Semarang:CV.Karya Abadi Jaya, 2015),hlm.75
[12] Ibid. hlm 75
[13] Indrawan Mochamad,2007,Biologi
Konservasi, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
[14] Diktat MAWAPALA 2019 PENDAPA XXVIII,hal.68
[15] Ibid hlm 69
[16] Ibid hlm 69
[17] Ibid hlm 69
[18] Teori Metodologi
Penelitian.pdf
[19] ://www.maxmanroe.com/vid/umum/metode-penelitian.html.
[20] https://www.maxmanroe.com/vid/umum/metode-penelitian.html.
[21] http://penjual-mimpi.blogspot.co.id/2014/09/jenis-jenis-metode-penelitian-beserta.html,
[22] perpustakaan Universitas Negeri Malang, skripsi tidak diterbitkan http://penjual-mimpi.blogspot.co.id/2014/09/jenis-jenis-metode-penelitian-beserta.html,
[23] Creswell JW. Research Design (Pendekatan Metode KUalitatif,
Kuantitatif dan Campuran)
[24] http://penjual-mimpi.blogspot.co.id/2014/09/jenis-jenis-metode-penelitian-beserta.html
[25] http://penjual-mimpi.blogspot.co.id/2014/09/jenis-jenis-metode-penelitian-beserta.html
[26]
https://www.google.com/amp/s/andymontero.wordpress.com/2016/01/24/pengertian-jenis-dan-langkah-langkah-metode-penelitian/amp/,
[27] SILALAHI DAUD. AMDAL,
(Bandung:PT.Suara Harapan Bangsa, 2010),hal.29
[28] Diktat MAWAPALA 2019 PENDAPA XXVIII,hal.75-77
[29] Ibid. hlm 20-21
[30]
http://cybex.pertanian.go.id/mobile/artikel/89228/Teknik-Perbanyakan-Vegetatif--Untuk-Menghasilkan-Bibit-Yang-Berkualitas-Unggul/,
[31] Parrata, Ayub S., Pupuk
Organik Cair Aplikasi dan Manfaatnya, hlm 51
[32] https://8villages.com/full/petani/article/id/5e815f1f06a2c948309758ad,
[33] http:hijau ovement.blogspot.com.
[34]
https://www.google.com/amp/s/plantagama.wordpress.com/2012/05/19/116/amp/,