2.
Manfaat
SPI :
a)
Untuk
mengetahui sejarah perkembangan peradaban islam
b)
Kewajiban
kaum muslimin untuk meneladani Rasulullah
c)
Sebagai
cermin masa lalu untuk dijadikan pedoman masa kini dan masa yang akan dating,
3.
Periodesasi
SPI :
1)
Periode
Klasik (650-1250 M)
Meliputi
dua masa kemajuan yaitu masa Rasulullah SAW, Khulafaurrasyidin, Bani Umayyah,
dan masa-masa permulaan Dawlah Abbasiyah.
2)
Periode
Pertengahan (1250-1800 M)
Pada
periode ini terjadi dua masa kemunduran dan masa Tiga Kerajaan Besar. Turki
Utsmani, Dawlah Shafawiyah, dan Dawlah Mongoliyah di India. Fase Tiga Kerajaan
Besar mengalami kemajuan pada tahun 1500-1700 M. dan mengalami kemunduran
kembali pada 1700-1800 M.
3)
Periode
Modern (1800-sekarang)
Pada
periode ini umat Islam banyak belajar dari dunia Barat dalam rangka
mengembalikan balance of power. Dalam era ini Islam mulai bangkit kembali
dengan melakukan pembaharuan (tajdid).
4.
Kontribusi
islam terhadap peradaban di dunia modern :
1. Sepanjang
abad ke-12 dan sebagian abad ke-13, karya-karya kaum Muslim dalam bidang
filsafat, sains, dan sebagainya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin,
khususnya dari Spanyol. Penerjemahan ini sungguh telah memperkaya kurikulum
pendidikan dunia Barat.
2. Kaum
muslimin telah memberi sumbangan eksperimental mengenai metode dan teori sains
ke dunia Barat.
3. Sistem
notasi dan desimal Arab dalam waktu yang sama telah dikenalkan ke dunia barat.
4. Karya-karya
dalam bentuk terjemahan, kususnya karya Ibnu Sina (Avicenna) dalam bidang
kedokteran, digunakan sebagai teks di lembaga pendidikan tinggi sampai
pertengahan abad ke-17 M.
5. Para ilmuwan muslim dengan
berbagai karyanya telah merangsang kebangkitan Eropa, memperkaya dengan kebudayaan
Romawi kuno serta literatur klasik yang pada gilirannya melahirkan Renaisance.
6. Lembaga-lembaga
pendidikan Islam yang telah didirikan jauh sebelum Eropa bangkit dalam bentuk
ratusan madrasah adalah pendahulu universitas yang ada di Eropa.
7. Para ilmuwan muslim berhasil
melestarikan pemikiran dan tradisi ilmiah Romawi-Persi (Greco Helenistic) sewaktu
Eropa dalam kegelapan.
8. Sarjana-sarjana
Eropa belajar di berbagai lembaga pendidikan tinggi Islam dan mentransfer ilmu
pengetahuan ke dunia Barat.
9. Para ilmuwan Muslim telah
menyumbangkan pengetahuan tentang rumah sakit, sanitasi, dan makanan kepada
Eropa.
5.
Peradaban
di arab sebelum islam:
Pada masa jahiliyah orang Arab Quraisy
banyak yang menyembah berhala atau patung-patung yang mereka buat sendiri dari
batu, kayu dan logam. Menurut Ibnu Kalbi yang menyebabkan bangsa Arab menyembah
berhala dan batu, ialah barang siapa yang meninggalkan kota Mekkah harus
membawa batu yang diambil dari batu-batu yang ada di tanah Haram Ka’bah. Hal
itu mereka lakukan dengan maksud untuk menghormati tanah Haram dan untuk
memperlihatkan cinta mereka terhadap kota Mekkah. Kemudian di setiap tempat
persinggahan,
mereka meletakan batu itu dan bertawaf
mengelilinginya seperti mengelilingi Ka’bah. Proses ini berlangsung terus
menerus dan akhirnya mereka menyembah apa yang mereka sukai dan yakini.
Bangsa Arab mulai menyembah berhala
ketika Ka’bah berada di bawah kekuasaan Jurhum. Pasukan yang dipimpin oleh Amr
bin Luay al Khuzai dari keturunan Khuza’ah datang ke Mekkah dan berhasil
mengalahkan Jurhum. Kemudian Amr bin Luay al Khuzai meletakkan sebuah berhala
besar bernama Hubal yang terbuat dari batu akik berwarna merah berbentuk patung
manusia, yang ditempatkan di sisi Ka’bah. Kemudian ia menyeru kepada penduduk
Hijaz supaya menyembah berhala itu. Di samping itu banyak lagi berhala-berhala
yang lain seperti al-Latta tempatnya di Thaif, menurut Tsaqif (penduduk Thaif)
al-Latta ini adalah berhala yang paling tua. Al-’Uzza tempatnya di Hejaz
kedudukannya sesudah Hubal, Manath, tempatnya di dekat kota Madinah Manath ini
dimuliakan oleh penduduk Yatsrib.
Beberapa bentuk pemujaan yang dianut
oleh bangsa Arab sebelum datangnya agama Islam:
1. Menyembah jin, ruh dan hantu
sebagian bangsa Arab yang menyembah hantu, jin dan ruh-ruh leluhur mereka atau
menganggap batu-batu sebagai makluk yang terhormat. Bahkan di suatu tempat jin
yang terkenal dengan nama ”Darahim” mereka selalu mengorbankan
binatang-binatang di tempat itu agar selamat dan terhindar dari segala bencana.
2. Menyembah bintang-bintang, yang
dimaksud bintang-bintang adalah matahari, bulan dan bintang-bintang yang
gemerlap cahayanya pada malam hari, mereka menganggap bintang-bintang tersebut
diberikan kekuasaan penuh oleh Tuhan untuk mengatur alam ini.
3. Menyembah berhala, sebagian bangsa
Arab menyembah berhala atau arca-arca yang terbuat dari batu, kayu dan logam
yang mereka buat sendiri dan dengan selera mereka sendiri untuk kemudian mereka
sembah.
6.
A.
Dinasti Bani Umayyah
Dinasti Bani
Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan pada tahun 41H/661 M di Damaskus
dan berlangsung hingga pada tahun 132 H/750 M. Muawiyah bin Abu Shofyan adalah
seorang politisi handal di mana pengalaman politiknya sebagai Gubernur Syam pada
zaman Khalifah Ustman bin Affan cukup mengantarkan dirinya mampu mengambil alih
kekusaan dari genggaman keluarga Ali Bin Abi Thalib. Tepatnya setelah Hasan bin
Ali menyerahkan kursi kekhalifahan secara resmi kepada Muawiyah bin Abu Sofyan
dalam peristiwa Ammul Jama’ah.
Oleh
karena itu Muawiyah bin Abu Sofyan dinyatakan sebagai pendiri Dinasti Bani
Umayah. Dilihat dari sejarahnya Bani Umayah memang begitu kental dengan
kekuasaannya, terutama pada masa zaman jahiliyah. Dalam setiap persaingan, Bani
Umayah selalu lebih unggul dibandingkan keluarga Bani Hasyim. Hal ini
disebabkan Bani Umayah memiliki unsur-unsur sebagai berikut:
1. Umayah berasal dari
keturunan keluarga bangsawan
2. Umayah memiliki harta
yang cukup
3. Umayah memiliki 10
anak yang terhormat dan menjadi pemimpin di masyarakat, di antaranya Harb,
Sufyan, dan Abu Sufyan.
Abu
Sofyan merupakan pemimpin pasukan Quraisy melawan Nabi Muhammad SAW pada Perang
Badar.
Keluarga
Bani Umayah masuk Islam ketika terjadi Fathul Makkah pada tahun
ke-8 H. Abu Sofyan diberi kehormatan untuk mengumumkan pengamanan Nabi SAW,
yang salah satunya adalah barang siapa masuk ke dalam rumahnya maka amanlah
dia, masuk kedalam Masjidil Haram dan rumahnya Nabi SAW maka dia juga akan
merasa aman. Dengan ini banyak kaum dari kalangan Bani Umayah yang
berduyun-duyun untuk masuk Islam dan menyebarkan Islam keberbagai wilayah.
B. Dinasti Abbasiyah
Dinasti
Abbasiyah didirikan oleh Abdullah Al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah
ibn Al-Abbas. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari
tahun 132 H (750 M) sampai dengan 656 H (1258 M). Popularitas daulat Abbasiyah
mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Al-Rasyid (786-809) dan pueranya
Al-a’mun (813-833 M). Kekayaan yang banyak dimanfaatkan Harun Al-Rasyid untuk
keperluan sosial, rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi
didirikan. Pada masanya, sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter.
Disamping itu, pemandian-pemandian umum juga di bangun. Tingkat kemakmuran yang
paling tinggi terwujud pada zaman khalifah ini.
Masa
kemunduran dimulai sejak Abbasiyah diperintah oleh khalifah Abu Ja’far Muhammad
al-Munatashir (247-248 H/861-862 M) sampai jatuhnya Baghdad saat khalifah
berada ditangan Abu Ahmad Abdullah al-Musta’shim (640-656 H/1242-1258 M),
dengan beberapa faktor penyebab kemunduran diantaranya : Adanya friksi dalam
tubuh daulah Abbasiyah, gaya hidup mewah dan foya-foya pada lingkungan pejabat
dan keluarganya, khalifah yang berkuasa bukan sosok yang kuat, dll.
C.
Dinasti Fatimiyah dan Ayyubiyah
Dinasti fatimiyah adalah dinasti
yang berjaya di mesir yang sebelumnya eksis di daerah afrika (Tunisia) yang
bermashabkan syi’a ismailiyah.
Dinasti fatimiyah memberikan
kontribusi yang luar biasa pada beradaan islam dalam bidang politik,pemerintahan,
ilmu pengetahuan, dan bidang ekonomi, dan pembangunan serta perluasan wilayah.
Kemunduran dinasti fatimiyah
disebabkan oleh :
a. Ketidakmampuan dinasti mengatur tentara
impor yang mengadakan perselisihan yang berujung pada perpecahan.
b. Pengangkatan
khalifah yang usianya masih sangat muda.
c. Hilangnya
semangat toleransi beragama di mesir dimana terjadi pemaksaan untuk memeluk
syi’ah.
Dinasti ayyubiah adalah dinasti yang
bermazhabkan sunni yang berada naungan dinasti abbasiyah di baghdad.
Majunya dinasti ayyubiyah ditandai
oleh di taklukkannya pasukan salib oleh salahuddin al-ayyuby dan pasukannya
serta kembalinya palestina sebagai kekuasaan islam. Selain itu dinasti ini
dikenal dengan sikap toleransi beragama.
Kemunduran ayyubiyah disebabkan oleh
pemberontakan mamluk (budak) seperti yang dilakukan oleh syajarat al durr. Ia
adalah seorang mamsluk yang berambisi menjadi sultan.